Peranan Unsur Mikro Zinc atau Seng Pada Tanaman

Peranan Unsur Mikro Zinc atau Seng Pada Tanaman

Apa itu Unsur Hara Mikro?

Di dalam tanaman, terjadi ratusan proses kimiawi yang berkaitan erat dengan proses fotosintesis, respirasi dan metabolisme.

Fotosintesis adalah proses tumbuhan mengubah sinar matahari menjadi makanan atau energi.  Dalam fotosintesis, energi cahaya matahari bereaksi dengan enam molekul karbon dioksida (CO2) dan enam molekul air (H2O) untuk menghasilkan satu molekul glukosa (C6H12O6) dan enam molekul oksigen (O2).

Respirasi adalah proses menghasilkan energi dengan memecah molekul kompleks menjadi molekul yang lebih sederhana.

Fotosintesis itu kebalikan dari respirasi.  Fotosintesis mengambil karbon dioksida dan air lalu melepaskan oksigen, sedangkan respirasi mengambil oksigen lalu melepaskan karbon dioksida dan air.  Fotosintesis berlangsung dalam kloroplas atau pigmen, sedangkan respirasi terjadi dalam mitokondria dan sitoplasma sel.

Metabolisme simpelnya adalah proses mencerna makanan yang telah dikonsumsi.

Unsur hara mikro (micronutrients) diperlukan dalam seluruh proses tersebut dan memengang kunci untuk berbagai proses pembentukan energi dan pemecahan energiy hasil fotosintesis.

Peranan unsur mikro dapat sebagai pembentuk protein organik, sebagai pengaktif enzim dan sebagai katalisator yang mempercepat terjadinya reaksi metabolisme. Ketika suplai atau asupan satu atau lebih mikronutrsi ini terbatas/tidak ada sama sekali akan menghambat, bahkan membuat terhentinya proses metabolisme di dalam tanaman.

Keunikan dari unsur mikro, sangat diperlukan untuk tanaman. Jumlahnya sedikit, ada dalam hitungan gram per tanaman tetapi memegang peranan penting dalam metabolisme dan fisiologi tanaman.

Apa itu Unsur Makro Zinc

Zinc adalah satu elemen yang dibutuhkan didalam tanah untuk berbagai jenis tanaman. Walaupun jumlahnya yang tidak banyak tetapi zinc bisa menjadi faktor pembatas dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman.  Dengan adanya unsur mikro zinc tanaman bisa mendapatkan pertumbuhan terbaik pada setiap kondisi pertumbuhan tanaman.

Manfaat Zinc (Zn) adalah mengaktifkan enzim-enzim yang berkaitan dengan metabolisme karbohidrat. Pemanjangan sel dan ruas batang. Dalam jumlam yang sedikit dapat berperan dalam mendorong pertumbuhan tanaman.

Zn berfungsi dalam pembentukan hormon tumbuh (auxin) dan penting bagi keseimbangan fisiologis. Berperan dalam pembentukan hormon IAA, merangsang pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman.

Pengaruh zinc terhadap tanaman

Kecukupan zinc membatasi pertumbuhan tanaman, yang terjadi ketika kandungan zinc di tanah rendah  atau kondisi tanah yang miskin, misalnya karena terrendam terus menerus, sehingga mencegah zinc tersedia untuk tanaman.

Dalam kasus seperti diatas, zinc perlu ditambahkan ke tanah. Unsur hara lainnya juga perlu ditambahkan dalam jumalh yang seimbang untuk memastikan respons yang bagus dari tanaman terhadap aplikasi pupuk zinc dan meningkatkan kesehatan dan produktivitas tanaman.

Manfaat Zinc

  • Mengaktifkan enzim-enzim yang berkaitan dengan metabolisme karbohidrat.
  • Pemanjangan sel dan ruas batang.
  • Dalam jumlam yang sangat sedikit dapat berperan dalam mendorong perkembangan pertumbuhan.
  • Persenyawaan Zn berfungsi dalam pembentukan hormon tumbuh (auxin) dan penting bagi keseimbangan fisiologis.
  • Berperan dalam pembentukan IAA dalam tanaman.
  • Merangsang pertumbuhan danperkembangan akar tanaman. 

Keterangan:

Fungsi hormon IAA adalah auksin endogen yang berperan dalam pembesaran sel, menghambat pertumbuhan tunas samping, merangsang terjadinya absisi, berperan dalam pembentukkan jaringan xilem dan floem, dan juga berpengaruh terhadap perkembangan dan pemanjangan akar.

Jika kekurangan unsur hara mikro Zn akan ditandai dengan terjadinya klorosis pada daun tua yang tampak dipenuhi bintik kuning atau coklat.  Kekurangan Zn pada tanaman, hingga akhirnya daun kuning dan mati mengering.  Akibatnya tanaman akan sangat sulit mencapai pontensi maksimalnya karena pertumbuhan vegetatif dan generatifnya terganggu.

Rendahnya kadar Zn akan mengurangi toleransi tanaman terhadap penyakit. Jika terjadi kekurangan Zn yang parah, akan menyebabkan daun berwarna hijau kekuningan, daun dikelilingi bercak jaringan yang sudah mati, dan daun cenderung menjadi kecil.

Kekurangan Zn pada tanaman dapat terlihat dari:

  • Terjadinya klorosis pada anak daun searah dengan tulang anak daun pada pelepah muda, tetapi tulang anak daun tetap berwarna hijau.
  • Anak daun pada pelepah termuda berubah warna menjadi keputihan.
  • Sementara anak daun pada pelepah tua tetap berwarna kuning.
  • Defisiensi unsur hara Zn pada tanaman kelapa sawit sering ditemukan pada tanah gambut atau tanah pasir dan dapat disebab oleh tingginya aplikasi Mg, N, dan P tanpa K yang cukup.

Dimana Sumbar Hara Mikro Zinc

Unsur hara mikro Zinc untuk tanaman dapat dipenuhi dengan beberapa cara yakni dengan memberikan pupuk-puk yang mengandung unsur hara mikro zinc.

Beberapa pupuk majemuk yang mengandung zinc seperti Phonska Plus.  Atau pupuk tunggal seperti MEROKEMIKRO ZN 15%, ZnSO4, Zinc Sulfat, dan lain-lain

Selain pada pupuk yang sengaja memang ditambahkan unsur hara mikro zinc, juga dapat ditemui pada fungisida tertentu yang secara kandungan rantai kimianya mengandung zinc.  Fungisida tersebut diantaranya adalah Ziflo 90WP, Ziflo 76WG dengan bahan aktif ziram. 

Kandungan zinc pada pada Ziflo 76WG berkisar 16 – 18,5%, lebih tinggi dari fungisida lainnya.

Efek Pengguanaan Fungsida Ziflo 76WG

Penggunaan fungisida kontak Ziflo, yang berbahan aktif Ziram plus dengan kandungan hara mikro Zinc sebagai hormon pertumbuhan tanaman (zpt) memberikan keuntungan yang berlipat.  Tidak hanya tanaman terhindar dari penyakit juga memberikan tambahan keungtungan dari kandungan zinc. 

Hal yang terlihat pada tanaman bawang yang diaplikasikan dengan fungisida Ziflo 76WG seperti pada gambar dibawah ini.

Gambar di bawah ini bawang merah yang telah diaplikasikan dengan fungisida Ziflo 76WG. Lokasi aplikasi di Alahan Panjang, Solok, Sumatra Barat. Dosis penggunaan Ziflo 76WG pada plot Z2 ini adalah 250 gr per tangki 20 liter.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
  • Daun “terbedaki” dengan butiran halus Ziflo.  Karena Ziflo memiliki keunggulan “membedak” atau “mupuri”.
  • Daun tanaman terlihat hijau sehat
  • Pertumbuhan seragam
  • Anakan lebih banyak
  • Tingkat kematian daun tua lebih sedikit
Berikut ini Tingkat Resistensi Fungisida dan Tingkat Resiko Patogen Jamur Pada Tanaman

Berikut ini Tingkat Resistensi Fungisida dan Tingkat Resiko Patogen Jamur Pada Tanaman

Organisme pengganggu tumbuhan (OPT) biasa disebut juga hama dan penyakit tanaman disebut jika OPT-nya resisten atau kebal terhadap suatu jenis pestisida, kemudian menjadi tidak dapat dikendalikan oleh pestisida tersebut.

Tingkat Resistensi Tanaman Terhadap Hama dan Penyakit

Dampak dari resistensi (kekebalan) OPT terhadap pestisida secara ekonomi dan sosial sangat besar. Petani harus mengeluarkan biaya pengendalian lebih besar dan terpaksa menggunakan dosis yang lebih tinggi atau membeli pestisida baru yang lebih mahal.

Pemerintah merugi karena target produksi pertanian tidak tercapai.

Industri pestisida merugi karena ‘ masa hidup’ pestisida di pasar semakin pendek.

Masyarakat menanggung risiko bahaya bagi kesehatan dan lingkungan hidup.

Kekebalan Penyakit Karena Jamur

Proses bagaimana populasi jamur patogen yang semula peka menjadi kebal (resisten) terhadap fungisida tertentu mirip dengan evolusi tesistensi serangga hama. Intinya individu yang kebal makin lama makin banyak hingga akhirnya mendominasi populasi tersebut.

Namun ada juga perbedaannya. Resistensi hama terhadap insektisida tidak tergantung pada kelas kimia insektisida (non class related resistance). Hama bisa kebal terhadap HAMPIR semua kelas kimia insektisida.

Dalam hal fungisida, ada beberapa kelas kimia yang hampir tidak pernah menimbulkan kekebalan penyakit (disebut fungisida dengan resiko rendah). Disamping itu ada beberapa kelas yang cepat menimbulkan kekebalan (disebut resiko tinggi).

Kekebalan yang berkaitan dengan kelas kimia pestisida semacam ini disebut class related resistance.

Tingkat Resiko Kekebalan Fungisida

Berikut ini adalah tingkat resiko fungisida:

1. Resiko tinggi:

Contoh fungisida dengan bahan aktif :  phenylamide (metalaksil, dan seterusnya); fungisida MBC/benzimidazole (benomil, karbendazim); strobilurin (trifloksistrobin).

2. Resiko sedang sampai tinggi:

Contoh fungisida dengan bahan aktif : klozolinat, iprodion.

3. Resiko sedang:

Contoh fungisida dengan bahan aktif : Sterol biosinthesis inhibitor (triazol) dsb.

4 . Resiko rendah sampai sedang:

Contoh fungisida dengan bahan aktif : fludioksonil, klòrineb, propamokarb, mandipropamide.

5. Resiko rendah: semua kontak protektif multisite inhibitor

Contoh fungisida dengan bahan aktif maneb, zineb, mankozeb, Tiram (merek TIFLO 80WG), Ziram (merek ZIFLO 76WG).

Tingkat Resiko Jamur Penyakit Tanaman

Sebelum telah diuraikan bahwa ada fungisida-fungisida yang cepat menimbulkan kekebalan/resistensi pada jamur patogen (resiko tinggi), meski ada pula yang tidak pernah dilaporkan menimbulkan kekebalan (resiko rendah).

Kecuali faktor fungisidanya, ternyata jamur patogen juga ada yang cepat mengembangkan kekebalan (resistance build up) ada yang lambat.

Dari data lapangan yang masih sangat terbatas (kebanyakan data dari luar negeri) para ahli telah menyusun klasifikasi rentan-tidaknya jamur patogen mengembangkan kekebalan.

1. Penyakit yang cepat resisten (RESIKO TINGGI)

Contoh:  termasuk penyakit sigatoka pada pisang, embun tepung pada serealia, Botrytis pada anggur, Phytophthora pada kentang, Pyricularia (blast) pada padi.

2. Penyakit dengan RESIKO SEDANG

Contoh: Rhyncosporium dan Septoria pada gandum.

3. Penyakit dengan RESIKO RENDAH

Contoh: penyakit tular tanah, penyakit tular benih, karat daun (Puccinia) pada serealia dan hawar pelepah Rhizoctonia pada padi.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Tingkat Resiko Fungisida dan Jamur Penyakit Tanaman

Sumber artikel:

  1. Panut Djojok Sumarto, Dari Brent & Holloman: Fungicide Resistance. The Assessment of Risk. 1998). Pada postingan disini dan disini.
Inilah Alasan Kenapa Pengendalian Hama dan Penyakit Dengan Pestisda Harus di Rotasi!

Inilah Alasan Kenapa Pengendalian Hama dan Penyakit Dengan Pestisda Harus di Rotasi!

Bagaimana hama bisa jadi resisten atau kebal terhadap suatu pestisida khususnya insektisida? Karena banyak dilaporkan penyemprotan dengan insektisida A efektif pada musim lalu, tetapi begitu diaplikasikan pada musim sekarang hasilnya tidak seperti musim sebelumnya.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, seperti yang dipaparkan oleh Pak Panut Djojosumarto dalam salah satu postingannya di laman facebooknya.

Salah satu alasan kenapa pengendalian hama dan penyakit harus di rotasi adalah karena menghindari kekebalan terhadap organisme pengganggu tanaman (OPT). 

Pengendalian Hama dan Penyakit Menghindari Kekebalan

Pertama-tama perhatikan gambar di bawah ini.  Dimana katakanlah bintik hitam dan merah adalah hama.

A picture containing drawing, clock

Description automatically generated

Kekebalan hama terjadi di tingkat populasi, yakni masyarakat hama di lokasi tertentu. Di tiap populasi selalu ada saja individu hama (oknum) yg super kuat. Kebal, terhadap sesuatu.

FAO mendefinisikan resistensi (kekebalan) OPT terhadap pestisida sebagai berkurangnya respons populasi suatu species terhadap pestisida atau bahan pengendali lainnya, sebagai akibat dari aplikasinya (a decrease of response of a population of a species to a pesticide or control agent as result of their application).

Faktor yang Menyebabkan Kekebalan Hama

Pada hama/serangga, ada banyak faktor yang mempengaruhinya, antara lain: faktor genetik, biologi/ekologi hama dan faktor operasional/penggunaan insektisida.

Faktor penggunaan insektisida yg penting utk dipertimbangkan adalah:

1. Jenis atau tipe insektisida. Insektisida yg berspektrum pengendalian sempit CENDERUNG (tidak selalu) lebih cepat menimbulkan resistensi.

2. Aplikasi dng insektisida yg sama cara kerjanya terus menerus bisa memacu kekebalan.

3. Takaran yg terlalu tinggi akan meningkatkan tekanan seleksi (mempercepat resistensi), sedang takaran terlalu rendah merangsang toleransi hama.

4. Makin sering aplikasi (insektisida yg sama) dilakukan, CENDERUNG makin cepat menimbulkan kekebalan.

Kekebalan itu spesifik. Jadi menyebutkannya harus spesifik pula, hama A didaerah B diduga resisten thdp insektisida C.

Kekebalan juga bersifat lokal. Hama yg diduga kebal di daerah À belum tentu kebal di daerah B.

Bagimana Kekebalan Hama Terjadi?

Katakanlah di populasi awal (A) ada 2 ekor hama yg kebal terhadap insektisida A. Dalam gambar bulatan hitam adalah individu biasa yg tidak kebal, dan yang merah adalah hama yg kebal. Jika populasi disemprot dengan insektisida A maka sebagian besar hama hitam mati, dan hama merah tidak mati (gambar B).

Hama akan kembali beranak, baik hama merah maupun hitam. Hasilnya ada di gambar C. Kalau C disemprot lagi dengan insektisida yg sama, hitam mati (tidak semua) dan merah selamat (gambar D).

Dalam perkembangan selanjutnya, populasi mungkin sudah seperti gambar E. Jumlah hitam makin berkurang dan jumlah merah makin banyak. Demikian seterusnya jumlah merah terus bertambah hingga akhirnya mendominasi populasi. Populasi menjadi tidak peka terhadap insektisida A. Mudahnya, hama sudah kebal.

Celakanya, hama merah bisa juga berbondong-bondong pindah ke desa sebelah (mungkin di daerah asal tidak ada tanaman lagi). Petani di desa sebelah ribut, ketika mereka menyemprot pakai insektidida A hama tidak mati. Padahal kemarin insektisida A masih ampuh.

Tetapi ada pula perpindahan hama yang menguntungkan. Kalau ada populasi hama hitam yg pindah ke daerah yg sudah banyak merahnya, populasi merah bisa berangsur-2 didominasi oleh hitam lagi.

Serangga merah yg kebal racun A, bisa saja tidak kebal terhadap racun X, yang berbeda kelas dan cara kerjanya. Itulah mengapa penggunaan racun harus dirotasi.

Syarat Pengendalian Hama dan Penyakit Dengan Pestisida

Syarat rotasi adalah adalah dengan menggunakan pestisda YANG BERBEDA KELAS DAN CARA KERJANYA.  Karena situasi di alam tentu tidak sesederhana dan secepat itu. Ada banyak faktor yang bermain di sana.

Sumber : laman FB Panut Djojosumarto,   January 15.  Judul sudah di edit untuk keperluan SEO, Judul aslinya adalah Kekebalan Hama.

Inilah Cara Menghitung Kalibrasi Sprayer dan Manfaatnya

Inilah Cara Menghitung Kalibrasi Sprayer dan Manfaatnya

Kalibrasi menentukan dalam penyemprotan pestisida. Kalibrasi adalah mengukur berapa banyak larutan semprot yang dikeluarkan sprayer. Pada akhirnya akan diketahui berapa banyak kebutuhan pestisida yang diperlukan untuk menyemprot per luasan lahan, berapa kebutuhan air, atau berapa kecepatan jalan si aplikator.

Cara Kalibrasi Penyemprotan SprayerManfaat Kalibrasi Sebelum Penyemprotan

Manfaat kalibrasi adalah untuk menentukan takaran pestisida secara tepat. Mencegah pemborosan, dan penyeragaman perhitungan aplikasinya.

Kalibrasi juga dapat menentukan berapa volume semprot yang diperlukan. Jika volume semprot sudah diketahui, selanjutnya dapat dengan mudah memperhitungkan konsentrasi (bila dosis diketahui) dan dosis (jika konsentrasi diketahui) penggunaan yang sesuai.

Kalibrasi harus dilakukan secar berkala sebelum kegiatan penyemprotan dilakukan. Keberhasilan kalibrasi dipengaruhi oleh CURAH (flow rate) dari nozel yang digunakan (C; liter/menit), LEBAR GAWANGAN penyemprotan (G; meter), KECEPATAN jalan aplikator (K; meter/menit), dan VOLUME aplikasi (V; liter/hektar).

Dalam rumusan matematikanya menjadi C = GKV/10.000

Contoh 1:
Untuk menyemprot kubis dengan nozel yang angka curahnya 1,75 liter/menit, kecepatan penyemprot 30 meter/menit, dan lebar gawang terukur 1,5 meter. Berapa liter air yang diperlukan untuk menyemprot lahan dengan luas 1 hektar?

Jawab:
Diketahui : C = 1,75 liter/meint; K = 30 meter/menit; G = 1,5 meter
V = (10.000C)/GK
V = (10.000 * 1,75) /1,5 * 30
V = 388,89 liter
Sehingga kebutuhan air untuk menyemprot lahan kubis tersebut sebanyak 389 – 400 liter air per ha.

Contoh 2:
Diketahui kecepatan jalan 50 meter/menit, lebar gawang semprotan 1,2 meter, dan flow rate 1,5 liter/menit. Pestisida yang digunakan adalah herbisida Roundup dengan dosis 2 liter/ha. Ditanya berapa konsentrasi Roundup yang digunakan?

Jawab:
Diketahui : K = 50 meter/menit; G = 1,2 meter; C = 1,5 liter/menit
V = (10.000C)/GK
V = (10.000 * 1,5) / 1,2 * 50
V = 15.000 / 60
V = 250 liter

Dosis herbisida Roundup yang dipakai adalah 2 liter/ha, maka konsentrasi herbisida Roundup yang digunakan adalah 2 Lt Roundup/250 liter air = 0.008 liter atau 8 ml Roundup/liter air.

Jika knapsack sprayer yang digunakan kapasitasnya 16 liter maka herbisida yang dicampurkan ke dalam tangki sprayer sebanyak 8 ml Roundup * 16 liter = 128 ml Roundup/tangki.

Contoh Perhitungan Kalibrasi

Contoh 3.
Jika menyemprot alang-alang seluas 100 hektar dengan menggunakan nozel VLV-200 dan konsentrasi herbisida Roundup yang digunakan sebesar 1%. Berapa kebutuhan Roundup dalam penyemprotan?

Jawab:
Diketahui : Luas areal penyemprotan = 100 ha; Nozel VLV-200, konsentrasi pestisida 1%

Nozel VLV atau very low volume adalah nozel yang digunakan dengan dengan kebutuhan larutan sangat rendah, berkisar 100 -200 liter/ha. Nozel yang digunakan adalah VLV-200, artinya kebutuhan air sebanyak 200 Liter/ha.

Konsentrasi herbisida Roundup sebesar 1% artinya adalah kebutuhan herbisida Roundup adaalah 1 ml Roundup per liter air.

Jika dipakai Nozzle VLV-200 dan kapasitas tangki 15 liter, maka jumlah tangki/ha yang dibutuhkan:
= 200 ltr/ha : 15 ltr/tangki = 13 tangki/ha.

Herbisida Roundup yang perlukan per tangki adalah :
= 15 ltr/tangki X 1% Roundup
= 15 ml Roundup/tangki

Jumlah herbisida Roundup yang dibutuhkan per hektar adalah :
= 13 tangki/ha x 15 ml/tangki
= 195 ml/ha

Jadi untuk 100 ha, kebutuhan herbisida Roundupnya adalah :
= 195 ml/ha * 100 ha
= 19.500 ml atau 19,5 liter Roundup

Contoh 4.
Semprot piringan (circle spraying) menggunakan herbisida Basta 1.5 liter/Ha dengan nozzle polijet biru ICI. Flowrate 1.6 Lt/menit, lebar semprot 1.2 m dan kecepatan penyemprot berjalan 36m/menit. Berapa dosis per tangki knapsack?

Jawab:
Diketahui = Dosis : 1.5 liter/ha; C = 1.6 liter/menit; G = 1.2 m; K = 36 m/menit

Kebutuhan larutan :
V = (C*10.000)/GK
= (1.6 liter/menit * 10.000 m2)/1.2 m x 36 m/menit
= 370.37 liter

Konsentrasi herbisida Basta:
= (1.5 liter)/370.37 liter * 100%
= 0.4%

Maka herbisida Basta yang dicampurkan dalam setiap knapsack sprayer (kapasitas 15 liter) adalah
= 15 liter x 0.4%
= 0.06 liter atau 60 cc.

Contoh 5.
Semprot piringan menggunakan herbisida Kleenup 1.5 liter/ha dengan nozzle VLV-200. Flowrate 0.9 liter/menit, lebar semprot 1.2 m dan kecepatan penyemprot berjalan 36 m/menit. Berapa dosis herbisida Kleenup per knapsack?

Jawab :
Diketahui : Dosis = 1.5 liter/ha; C = 0.9 liter/menit; G = 1.2 m; V = 36 m/menit

Kebutuhan larutan
L = (C * 10000)/KG
= (0.9 liter/menit * 10000 m2)/36 m/menit * 1.2 m
= 208.33 liter

Konsentrasi herbisida
= (1.5 liter / 208.33 liter)* 100%
= 0.72%

Jika kapasitas tangki knapsack adalah 15 liter, maka 15 x 0.72% = 0.108 Ltr atau 108 ml.
Jadi dosis per tangki knapsack adalah 108 ml/15 liter.

Kenali 6 Tanda-tanda Knapsack Sprayer PB-16 Malaysia Yang Asli

Kenali 6 Tanda-tanda Knapsack Sprayer PB-16 Malaysia Yang Asli

Seiring dengan perkembangan aktivitas pertanian dan bisnis pertanian (agribisnis) di Indonesia yang semakain hari semakin meningkat, terjadi juga peningkatan suplay sarana produksi pertaniannya. Terlebih kini hampir tidak dapat dipungkiri produk-produk dari China semakin membanjiri pasar produk dan sarana produksi pertanian di Indonesia.

Ada pepatah “Teliti Sebelum Membeli”. Meskipun saya menjual produk “sejenis” atau “mirip-mirip” dengan knapsack sprayer PB-16 Malaysia, tetapi pengenalan produk knapsack sprayer PB-16 Malaysia ini tetaplah penting.

Sebagai pemasar produk buatan Crossmark Malaya, berikut adalah 6 ciri-ciri yang membedakan antara knapsack sprayer PB-16 asli atau tiruan.

Kenali Tanda PB16 ASLI

Ciri 1. Pada Kotak/Box Pembungkus Luas
PB-16 Asli : Terdapat cetakan alamat produsen yaitu Syarikat Jun Chong SDD. BHD dan UK Registered Design No 2025702 di kedua sisi box
PB-16 Tiruan : Kosong

Sprayer PB16-box asli

Ciri 2. Pada Tangki Sprayer
PB-16 Asli : Terdapat cetakan timbul “CROSSMARK MANUFACTURER” (atas logo) & Cetakan UK Registered Design No 2025702 di bagian bawah logo.
PB-16 Tiruan : Kosong

Sprayer PB16-tangki asli malaysia

Ciri 3. Pada Silinder/tabung Pompa
PB-16 Asli : Terdapat cetakan timbul “UK Registered Design No 2014821” pada bagian atas silinder/tabung pompa.
PB-16 Tiruan : Kosong

Sprayer PB16-pompa asli malaysia

Ciri 4. Pada Penutup Nozel
PB-16 Asli : Terdapat cetakan timbul “PAT. APPL. No. PI 880074”
PB-16 Tiruan : Kosong

Sprayer PB16-nozel asli malaysia

Ciri 5. Pada Ring/klep
PB-16 Asli : Terasa licin kalau dipegang dan kualitas bagus
PB-16 Tiruan : Terasa kasar dan kualitas jelek.

Sprayer PB16-klep asli malaysia

Ciri 6. Pada Pelepas Automatik/Adaptor
PB-16 Asli : Terdapat cetakan timbul “CROSSMARK (R)”
PB-16 Tiruan : Kosong

Sprayer PB16-adaptor asli malaysia

Demikian 6 (enam) tanda keaslian knapsack sprayer PB-16 Malaysia buatan Syarikat Jun Chong (Cross Mark) yang perlu diperhatikan sebelum membeli, agar terhindar dari kesalahan pembelian dan penyesalan seumur hidup :).

Dilalah mau membeli PB-16 Malaysia malah dapat Knapsack Sprayer PB-16 Tiruan atau PB-16 Abal-abal.

Jika anda menginginkan knapsack sprayer PB-16 Malaysia yang asli, maka hanya di SINILAH yang tepat. Untuk mengetahui spesifikasi PB-16 Malaysia silahkan KLIK DISNI.


🌾 Beginilah Jurus Jitu Kendalikan Wereng Coklat

🌾 Beginilah Jurus Jitu Kendalikan Wereng Coklat

Tak dapat dipungkiri wereng masih menjadi masalah yang bikin puyeng. Petani padi masih direpotkan dengan serangan wereng coklat yang berpotensi membawa virus kerdil hampa dan kerdil rumput. Petani harus mengantisipasinya sejak awal.

3 Faktor Penyebab Wereng

Setidaknya ada 3 faktor kenapa wereng masih menjadi masalah utama petani sampai saat ini. Pertama, faktor iklim yang cukup basah atau kemarau basah. Kondisi yang lembab namun hangat adalah kondisi yang membuat nyaman bagi wereng.

Kedua, pola budidaya tanaman padi yang menyebabkan tidak terputusnya rantai makanan bagi wereng. Wereng berpindah dari tanaman ke tanaman sebelahnya, berpindah dari saru lokasi ke lokasi berikutnya. Akan lebih parah jika diwilayah tersebut menerapkan pola tanam 3 kali dalam setahun.

Faktor terakhir adalah pola penggunaan insektisida yang intensitasnya sudah sangat tinggi. Penggunaan dosis yang kurang tepat dan jumlah penyemprotan yang tinggi 8-12 kali dinilai menyebabkan kerentanan terhadap wereng.

Bagaimana pengendalian wereng secara kimiawi yang ditawarkan oleh perusahaan pembuat pestisida atau formulator?
Berbagai perusahaan pestisida memiliki ‘resep’ dan menawarkan solusi terbaiknya. Berikut beberapa solusi produk yang diberikan.

Pengendalian wereng dengan Marshal 5GR versi FMC

Sumber foto: google

FMC masih mengandalan insektisida Marshal 5GR dengan bahan aktif karbosulfan sejak persemaian dengan dosis 4 kg/ha. Aplikasinya bisa bersamaan dengan pemupukan.

Kemudian saat pindah tanam, Marshal 5GR diaplikasikan berbarengan dengan pemupukan pertama atau umur 15 HST dengan dosis 10 kg/ha. Jika masih ada serangan kembali Marshal 5GR bisa aplikasikan pada umur 30 HST pada pemupukan ke-2 dengan dosis 10 kg/ha.

Pengendalian wereng dengan Tenchu 20SG Versi Agricon

Tenchu-20-SG Agricon
Sumber foto: Agricon

Agricon menawarkan pengendalian wereng coklat dengan insektisida Tenchu 20SG yang berbahan aktif dinotefuron 20%.

Tenchu 20SG diaplikasikan dengan cara melarutkan 25 gr dalam satu tangki kapasitas 14 lt untuk luasan 400 m2, atau 2-3 bungkus (50 g – 75 gr Tenchu 20SG per hektar).

Penyemprotan dilakukan pada saat populasi wereng 5-10 ekor per rumpun. Penyemprotan sekitar 10-15 cm di atas permukaan tanah (bukan diatas permukaan tinggi tanaman).

Pengendalian Wereng dengan Pexalon 106SC Versi Corteva (DowDupont)

Pexalon Corteva DowDupont
Sumber foto: FB DupontPexalon

Insektisid Pexalon 106SC dengan bahan aktif triflumezopyrim diaplikasikan pada umur tanaman 10-20 HST dengan dosis 240 ml/ha dengan volume semprot 300 liter/ha atau 20 tangki per hektar.

Untuk daerah yang bukan endemik wereng dan virus kerdil aplikasikan Pexalon 106SC pada saat populasi rendah 5-10 ekor per rumpun pada umur tanaman 25-40 HST.

Pexalon 106SC direkomendasikan untuk digunakan sejak awal pertubuhan vegetatif. Untuk daerah endemik wereng seperti di daerah pantura Jawa Barat seperti Karawang, Subang, Pagaden, Indramayu aplikasi dilakukan pada saat awal ketika terlihat penerbangan pertama wereng bersayap pada umur 10-20 HST.

Keunggulan Pexalon 106SC

Mengutip dari informasi yang diperoleh, setidaknya ada 3 keunggulan insektisida generasi baru dari Corteva ini. Yakni, petama Pexalon 106SC bisa mengendalikan semua jenis wereng secar menyeluruh, baik pada fase nimfa maupun dewasa.

Kedua, durasi pengendalian yang panjang. Pexalon 106SC mampu melindungi tanaman selama 21-25 hari sejak pertama penyemprotan. Sedangkan siklu hidup wereng Nilaparvata lugens ini berlangsung 23-32 hari, mulai dari serangga, instar, nimfa, seragga dewasa tanpa sayap, dan serangga bersayap.

Keunggulan ketiga dari produk ini sangat aman terhadap manusia dan serangga menguntungkan lainnya seperti laba-laba, kepik, dan kumbang masih tetap hidup.

Bagaimana dengan Anda? punya pengalaman dalam pengendalian wereng yang tuntas dan terlebih ekonomis? silahkan menuliskan di kolom komen di bawah ini

Pencampuran Pestisida pada Aplikasi Penyemprotan

Pencampuran Pestisida pada Aplikasi Penyemprotan

Pestisida dikatakan mempunyai spectrum pengendalian luas (broad spectrum) bila pestisida tersebut dapat mengendalikan banyak jenis organisme pengganggu tanaman (OPT) dari kelompok taksonomi yang berbeda.

Pada waktu lampau, para petani umunya menyukai insektisida yang memiliki spectrum sangat luas. Tetapi karena kelemahannya dapat merugikan organisme non-target serangga yang berguna, maka sekarang insektisida cenderung berspektrum sempit bahkan spesifik.

Kecenderungan mempersempit spektum ini tidak berlaku pada herbisida dan fungisida. Fungisida kontak umumnya berspektrum luas dan relatif murah, tapi hanya efektif sebagai protektan. Sedangkan fungisida sistemik sangat baik jika digunakan sebagai kuratif dan eradikatif, tapi spektrumnya sempit dan harganya relatif mahal. Oleh karena itu pada prakteknya petani sering mencampurnya, untuk mendapatkan keuntungan ganda. Namun, saat ini beberapa perusahaan juga sudah menyediakan fungisida combo (combo fungicide) ini dalam bentuk formulasi yang siap pakai.

Pertanyaan yang muncul adalah jika pencampurannya itu dalam aplikasi (tank mix), bagaimana aturannya. Berikut ini adalah urutan pencampuran pestisida yang benar sebelum dimasukan ke dalam knapsack sprayer.

Pencampuran pestisida

  1. Air
  2. Tablet (WT, water dispersible tablet; ST, water soluble tablet): aduk hingga seluruh tablet larut dalam air
  3. Butiran (SG, soluble granule; WG, water dispersible granule): aduk hingga seluruh butiran larut dalam air
  4. Berbentuk tepung (WP, wettable powder; SP, soluble powder): aduk hingga merata)
  5. Bentuk cairan (SL, soluble concentrate, SC, suspension concentrate, EC, emulsifiable concentrate)
  6. Mikrokapsul (CS, capsule suspension)
  7. Surfaktan

Pencampuran BOLEH dilakukan, jika:

  • Sasaran OPTnya beda
  • Pestisida yang dicampurkan tidak menimbulkan efek buruk, misalnya menggumpal dan tidak “membakar” tanaman
  • Pencampuran dilakukan untuk meningkatkan sinergisme atau memperkuat efikasi pestisida tersebut
  • Dilakukan untuk meningkatkan spectrum pengendalian
  • Dilakukan untuk memecah OPT yang sudah resisten atau mencegah/menunda resisten.

Pencampuran TIDAK BOLEH dilakukan jika:

  • Sasarannya sama
  • Bahan aktifnya sama
  • Pencampuran dapat memberikan efek buruk
  • Dikhawatirkan menimbulkan cross resisten (resisten silang)
  • Pencampuran dapat membahayakan keselamatan kerja aplikator

Untuk dapat memberikan hasil semprotan yang maksimal, gunakan knapsack sprayer yang berkulias seperti Knapsack Sprayer PB16, sprayer berkulitas produksi Crossmark, Malaysia. Anda dapat memesannya di Bukalapak/PabrikSprayer.


Perawatan Alat Semprot

Perawatan Alat Semprot

Knapsack sprayer harus dirawat agar sprayer menjadi awet atau tahan lama dan meminimalkan kandungan pestisida setelah selesai penyemprotan. Termasuk bagaimana cara mengatasi apabila nozzle tersumbat. Berikut adalah caranya:

Pembersihan Tangki

Setelah selesai kegiatan penyemprotan di lading atau kebun, knapsack sprayer perlu dicuci atau dibersihkan agar kandungan pestisida dalam tangki sprayer menjadi rendah pada semua bagian alat semprot.

Tahapannya adalah:

  • Tangki sprayer (Knapsack sprayer) dicuci sekurang-kurangnya tiga (3) kali dengan menggunakan air
  • Bagian terakhir pencucian dibuang melalui selang
  • Biarkan air pencucian keluar melalui selang dan “spuyer”/”nozzle”
  • Air pencucian di buangke tanag yang jauh dari perairan umum
  • Perlengkapan lainnya juga dicuci dengan air sekurang-kurangnya 3 (tiga) kali.

Spuyer/Nozzle Tersumbat

Pada kegiatan penyemprotan dengan menggunakan knapsack sprayer, terkadang suka terjadi penyumbatan pada spuyer/nozzle. Nozzle dapat tersumbat oleh pestisida dan/atau kotoran. Jangan meniup nozzle yang tersumbat tersebut karena tiupannya akan membalik kea rah muka, dan menyebabkan muka terpapar oleh pestisida

Langkahnya adalah:

  • Buka nozzle dengan tangan menggunakan sarung tangan
  • Bersihkan dengan membenamkan nozzle ke dalam air dan kalau perlu digosok dengan tankai rumput
  • Bersihkan lagi dengan air
  • Cuci tangan setelah selesai.

Tujuan membersihkan lubang dengan rumput, agar tidak merusak lubang nozzle atau mempebesar lubangnya.

Alat Pelindung Diri Penyemprotan Pestisida

Alat Pelindung Diri Penyemprotan Pestisida

Keamanan, Keselamatan, dan Kesehatan kerja (K3) saat ini menjadi isu yang penting di perusahaan kelapa sawit di Indonesia. Aspek K3 telah tertera tertera dalam undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan dan PP No. 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Kerja (SMK3). Masalah ini juga telah diatur dalam prinsip dan kriteria ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil), RSPO (Rountable Sustainable Palm Oil), ISCC (International Sustainability Carbon Certifite). Meski demikian belum banyak perusahaan perkebunan sawit kurang serius dalam menjalankan prinsip K3 ini.

Keselamatan kerja belum menjadi budaya utuh dalam kegiatan perkebunan kelapa sawit. Kondisi inilah yang menyebabkan kecelakaan dan insiden kerja masih saja terjadi. Upaya menciptakan zero injury dan zero accident sudah diterapkan perusahaan kelapa sawit melalui berbagai kebijakan perusahaan diantaranya dengan menggunakan alat atau perlengkapan kerja atau alat pelindung diri (APD).

Alat Pelindung Diri di Perkebunan Kelapa Sawit

Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) merupakan salah satu bagian dari K3. Di perkebunan kelapa sawit pekerja di wajibkan menggunakan alat pelindung diri sesuai dengan jenis pekerjaan yang di lakukan karena alat pelindung diri yang di gunakan di sesuaikan dengan potensi resiko yang di alami oleh pekerja tersebut.

Jenis dan fungsi alat pelindung diri :

Alat Pelindung Diri

  1. Helm (helmet), berfungsi untuk melindungi kepala dari segala jenis benturan sehingga cedera otak dapat di minimalkan.
  2. Kaca Mata (google), berfungsi untuk melindungi mata dari serpihan benda-benda kecil seperti abu, bunga kelapa sawit, bahan kimia dan sepihan potongan benda lain.
  3. Ear Plug, berfungsi untuk mengurangi tingkat kebisingan pendengaran.
  4. Masker, berfungsi untuk menghindari terhirupnya bahan kimia yang beracun.
  5. Clemet (apron), berfungsi agar tubuh tim semprot tidak terpapar bahan kimia karena terbuat dari bahan yang tahan air.
  6. Sarung tangan kain (gloves), berfungsi untuk menyerap keringat dan menghindari kerusakan tangan (kapalan) karena bekerja dengan benda keras.
  7. Sarung tangan karet (gloves), tangan karet berfungsi untuk menghindari tangan terpapar bahan kimia.
  8. Sepatu AV/safety, berfungsi untuk melindungi bagian kaki terkena duri, terjepit, dan benda tumpul lainnya.

PabrikSprayer.com sangat mendukung program K3 demi kemanusiaan dan kesehatan, keselamatan pekerja pada saat penyemprotan pestisida dengan menjual Alat Pelindung Diri (APD). Beli APD di bulalapak.com/PabrikSprayer sekarang.

Tipe-tipe Nozzle Knapsack Sprayer

Tipe-tipe Nozzle Knapsack Sprayer

Melanjutkan pengenalan jenis-jenis sprayer sebelumnya, sekarang pengenalan jenis-jenis nozzle yang biasa dipakai pada knapsack sprayer.

Fungsi utama nozzle adalah memecah (atomisasi) larutan semprot menjadi butiran semprot (droplet).

Baca juga: Tingkat penutupan dan kepadatan droplet penyemprotan.

Fungsi lainnya dari nozzle adalah:

  • Menentukan ukuran butiran semprot (droplet size)
  • Mengatur flow rate (angka curah)
  • Mengatur distribusi semprotan, yang dipengaruhi oleh Pola semprotan, Sudut semprotan, dan Lebar semprotan

Nozzle sprayer (knapsack sprayer) pertanian selama ini dikenal dengan tipe, yaitu cone nozzle (nozzle kerucut), flat fan nozzle (nozzle kipas) , even flat nozzle, nozzle polijet, dan nozzle lubang empat.

1. Cone nozzle (nozzle kerucut)
Knapsack sprayer - nozzle kerucutSolid cone nozzle menghasilkan semprotan halus. Pola semprotan berbentuk bulat (kerucut). Terdiri dari 2 tipe, yaitu zolid/full cone nozzle dan Hollow cone nozzle.
Solid cone nozze pola semprotan bulat penuh berisi, sedangkan hollow cone nozzle menghasilkan semprotan berbentuk kerucut bulat kosong.
Digunakan terutama untuk aplikasi insektisida dan fungisida.

 

2. Flat Fan Nozzle (nozzle kipas standar)

Knapsack sprayer - nozzle kipas standarFlat fan nozzle menghasilkan pola semprotan berbentuk oval (V) atau bentuk kipas dengan sudut tetap (65o – 95o). Untuk mendapatkan sebaran droplet yang merata diusahakan melakukan penyemprotan dengan saling tumpang tindih (overlapping). Digunakan terutama untuk aplikasi herbisida, tetapi bisa juga digunakan untuk fungisida dan insektisida

 

3. Even Flat Fan Nozzle (nozzle kipas rata)

Knapsack sprayer kipas rataEven flat nozzle memiliki pola semprot berbentuk garis. Butiran semprot tersebar merata. Pada tekanan rendah digunakan untuk aplikasi herbisida pada barisan tanam atau antar barisan tanam.

Pada tekanan tinggi, digunakan untuk aplikasi insektisida pada pengendalian vektor. Ukuran butiran semprot sedang hingga halus.

 

4. Nozzle Polijet

Knapsack sprayer nozzle polijetPola semprotan pada dasarnya berbentuk garis atau cerutu. Butiran semprot agak kasar hingga kasar. Tidak atau sangat sedikit menimbulkan drift dan hanya digunakan untuk aplikasi herbisida.

 

5. Nozzle lubang empat

Knapsack sprayer - nozzle lubang empatNozzle ini menghasilkan pola semprotan berbentuk kerucut. Butiran semprot halus sampai agak halus (tergantung tekanan). Flow rate tinggi (karena jumlah lubangnya empat) karena itu cenderung boros. Umumnya digunakan untuk aplikasi insektisida dan fungisida.

Sumber : Panut,  Teknik Aplikasi Pestisida, 2009

Pengenalan Dasar Alat Semprot (Sprayer)

Pengenalan Dasar Alat Semprot (Sprayer)

Pengenalan alat semprot (sprayer) sangat diperlukan untuk memperoleh hasil yang efektif, selain juga pengenalan mengenai nozzle. Namun kali ini akan dibahas mengenai sprayer.

Jenis-jenis Sprayer

Sprayer untuk keperluan pertanian dikenal dengan 3 jenis sprayer, yakni knapsack sprayer, motor sprayer, dan CDA sprayer.

1. Knapsack Sprayer

Knapsack Sprayer
Knapsack sprayer atau dikenal dengan alat semprot punggung. Sprayer ini paling umum digunakan oleh petani hampir di semua areal pertanian padi, sayuran, atau diperkebunan.

Prinsip kerjanya adalah:
Larutan dikeluarkan dari tangki akibat dari adanya tekanan udara melalui tenaga pompa yang dihasilkan oleh gerakan tangan penyemprot. Pada waktu gagang pompa digerakan, larutan keluar dari tangki menuju tabung udara sehingga tekanan di dalam tabung meningkat. Keadaan ini menyebabkan larutan pestisida dalam tangki dipaksa keluar melalui klep dan selanjutnya diarahkan oleh nozzle bidang sasaran semprot.

Tekanan udara yang dihasilkan oleh pompa diusahakan konstant, yaitu sebesar 0,7 – 1,0 kg/cm2 atau 10-15 Psi. Tekanan sebesar itu diperoleh dengan cara mempompa sebanyak 8 kali. Untuk menjaga tekanan tetap stabil, pemompaan dilakukan setiap berjalan 2 langkah pompa harus digerakan sekali naik-turun.

Kapasitas tangki knapsack sprayer bervariasi berkisar antara 13, 15, 18, 20 tergantung mereknya. Contoh knapsack sprayer antara lain Merek Bengawan Solo 425, Yoto 16, Hero, CP 5, Matabi, Berthoud, dan PB16.

2. Motor Sprayer
Motor Sprayer
Sprayer jenis ini mengunakan mesin sebagai tenaga penggerak pompanya yang berfungsi untuk mengeluarkan larutan dalam tangki. Cara penggunaan motor sprayer bervariasi tergantung jenis dan mereknya, antra lain digendong di punggung, ditarik dengan kendaraan, diletakan di atas tanaH, dibawa pesawat terbang, dan sebagainya. Contoh motor sprayer adalah mist blower power sprayer, dan boom sprayer.

Keuntungan denngan menggunakan motor sprayer terutama kapasitasnya sangat luas dengan waktu yang relatif singkat, dapat menembus gulma sasaran walaupun sangat lebat dan minim tenaga kerja.

Kelemahannya:

  • Harganya relatif mahal dan biaya pengoprasian serta perawatannya yang juga mahal.
  • Tidak dianjurkan pada tanaman yang masih muda karena dikhawatirkan drift merusak tanaman
  • Motor sprayer harus dirawat secara rutin meliputi servis, penggantian suku cadang, dll.

3. CDA Sprayer
CDA Sprayer
Berbeda dengan 2 jenis sprayer sebelumnya, CDA sprayer tidak menggunakan tekanan udara untuk menyebarkan larutan semprot ke bidang semprot sasaran, melainkan berdasarkan gaya grafitasi dan putaran piringan.

Cara kerjanya adalah: larutan mengalir dari tangki melalui selang menuju nozzle, diterima oleh putaran piringan bergerigi (spining disc), dan disebarkan ke arah bidang sasaran. Putaran piring digerakan oleh dinamo dengan sumber tenaga bater 12 volt. Putaran piringan sebesar 2.000 rpm dan butiran yang keluar seragam dengan ukuran 250 mikron. Ukuran 250 mikron merupakan ukuran optimal untuk membasahi permukaan gulma. Berdasarkan keseragaman bentuk butiran yang dihasilkan maka alat semprot ini disebuat CDA (controlled Droplet Application).

Contoh CDA sprayer antara lain: CDA Micron herbi4, Micron herbi 77, Samurai, dan Bikrky.

3. Drone

Penyemprotan dengan droneSaat ini teknik pengembangan penyemprotan dengan menggunakan teknologi drone.  Drone dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas penyemprotan, khususnya pada lahan yang sulit dijangkau oleh tenaga manusia.

ata-rata unit drone untuk pertanian harganya cukup mahal ukurannya juga sangat besar, dimana fungsi dari drone sangat bermacam-macam. Dari mampu memberikan pestisida secara otomatis sampai dengan mendeteksi tingkat kerusakan akibat hama tanaman.

Apakah Lebih Efisien Menggunakan Drone Pertanian Daripada Dengan Tenaga Manusia? Inilah kenyataan yang harus kita hadapi, dimana jaman sudah berubah dan teknologi sudah sangat berkembang lebih jauh. Dimana menciptakan sesuatu yang bertujuan untuk mempercepat suatu pekerjaan yag dulunya sangat lama untuk dikerjakan oleh manusia.

Cara Mengkalibrasi Alat Semprot (Sprayer)

Cara Mengkalibrasi Alat Semprot (Sprayer)

Kalibrasi adalah mengukur berapa banyak larutan semprot yang dikeluarkan oleh alat semprot (sprayer), sehingga dapat mengetahui berapa banyak larutan semprot yang disemprotkan pada setiap satuan lahan.

Baca juga: Faktor penentuk keberhasilan penyemprotan dan Tingkat penutupan dan kepadatan droplet penyemprotan.

Manfaat kalibrasi:

  • Menentukan takaran aplikasi dengan tepat,
  • Mencegah pemborosan, dan
  • Mengadakan penyeragaman perhitungan aplikasi. Dalam kebanyakan kasus, kalibrasi adalah menentukan volume semprot.

Sesudah volume semprot diketahui, Anda dapat memperhitungkan konsentrasi (bila dosis diketahui) dan dosis (bila konsentrasi ditentukan) penggunaan yang sesuai.

Bagaimana Cara Mengkalibrasi Alat Semprot Pertanian (Sprayer)?

Sebagai contoh, jika kita hendak menyemprot herbisida pra-tumbuh pada 1 hektar lahan dengan dosis aplikasi 1,5 liter per hektar dan alat yang kita gunakan adalah alat semprot pertanian punggung (knapsack sprayer), berapa mililiter herbisida yang harus digunakan per tangki?

Salah satu caranya adalah dengan mencoba-coba. Misalnya, isilah tangki sprayer dengan air hingga penuh (misalnya menggunakan sprayer PB-16 yang di isi 15 liter). Nozzel yang digunakan tertentu, tekanan tertentu atau gerakan memompa yang teratur, dan kecepatan jalan sebagaimana petani menyemprot. Lahan yang dapat disemprot dengan tangki (PB-16 liter) tersebut diukur.

Misalnya 1 tangki ternyata habis digunakan untuk menyemprot lahan seluas 300 m2. Ini berarti 1 hektar lahan memerlukan kurang lebih 33,3 tangki. Karena dosis hebisida adalah 1,5 liter/ha (1.500 ml/ha), maka untuk setiap tangki (15 liter) dimasukan kurang lebih 1500 ml/33,3 tangki = 45 ml herbisida.

Jika setiap tangki dapat menyemprot 300 m2 atau 15 liter/300m2, maka keperluan air untuk 1 hektar adalah 15 liter x 33,3 tangki = 499,5 liter air per hektar (dibulatkan menjadi 500 liter).

Karena dosis penggunaan herbisida 1,5 liter/ha, maka konsentrasi aplikasi adalah 1.500 ml/500 ml = 3 ml/liter air.  Sehingga untuk setiap tangki (15 liter) digunakan sebanyak 15 x 3 ml = 45 ml.

Kalibrasi tersebut berlaku untuk ukuran nozzle, tekanan, dan kecepatan jalan tertentu. Bila ketiga faktor tersebut berubah, maka tangki semprot (sprayer) harus dikalibrasi ulang.

Rumus Menghitung Kalibrasi Alat Semprot (Sprayer)

Rumus kalibrasi sprayer
Rumus Kalibrasi Sprayer

4 parameter yang mempengaruhi kalibrasi sprayer, yaitu:

  1. Curah (flow rate) dari nozzle yang digunakan (C; liter/menit)
  2. Lebar gawang penyemprotan (G; meter)
  3. Kecepatan aplikasi (K; meter/menit)
  4. Volume aplikasi (V; liter/hektar)

C= GKV/10.000

Contoh:
Untuk menyemprot kubis dengan nozzle yang angka curahnya 1,75 liter/menit, kecepatan penyemprotan 30 meter/menit, dan lebar gawang terukut 1,5 meter. Berapa liter air (volume aplikasi) dihabiskan untuk menyemprot 1 hektar lahan?

Jawab: V=10.000 C/GK, V = (10.000 x 1,75)/(1,5 x 30) = 388,889 liter/hektar.

Volume aplikasi dengan mudah dapat dihitung dengan rumus tersebut, jika ternyata dengan parameter-parameter tersebut volume aplikasi tidak sesuai dengan yang diinginkan, hal yang bisa diubah adalah:

a. Menaikan volume semprot
Caranya:

  • Menggunakan nozzle yang lebih besar (angka curahnya lebih besar)
  • Menaikan tekanan pompa atau tekanan dalam tangki sprayer
  • Mengurangi kecepatan penyemprotan
  • Mengurangi lebar gawang

b. Mengurangi volume semprot
Caranya:

  • Menggunakan nozzle yang lebih kecil (angka curahnya rendah)
  • Menurunkan tekanan dalam tangki atau tekanan pompa. Menurunkan tekanan dalam pompa terkadang ukuran dropletnya menjadi lebih besar.
  • Mempercepat kecepatan aplikasi
  • Melebarkan angka lebar gawang
Tingkat Penutupan dan Kepadatan Droplet Penyemprotan

Tingkat Penutupan dan Kepadatan Droplet Penyemprotan

Keberhasilan penyemprotan oleh alat semprot pertanian (sprayer) sangat ditentukan oleh tingkat peliputan (coverage).

Tingkat penutupan dinyatakan dengan angka kepadatan droplet (droplet density), yakni jumlah droplet yang terdapat pada setiap satuan luas bidang sasaran. Umumnya tingkat penutupan dihitung dalam jumlah droplet per cm2 bidang sasaran.

Kepadatan droplet dapat dihitung langsung pada bidang sasaran, namun menghitung kepadatan droplet ini tidak mudah karena pestisida tidak selalu meninggalkan bekas yang jelas pada bidang sasaran.

Jenis Pestisida dan Coverage Minimal

Jumlah droplet (ukuran butiran semprotan) minimal untuk berbagai keperluan penyemprotan berbeda-beda untuk tiap jenis pestisida.

  • Insektisida: coverage minimal 20 – 30
  • Herbisida pra tumbuh: coverage minimal 20 – 30
  • Herbisida pasca tumbuh: coverage minimal 30 – 40
  • Fungisida: coverage minimal 50 – 70
Sumber: ciba-geigy application advisory service dalam Panut, D. 2004

Dari tabel di atas, jumlah droplet minimal untuk suksesnya penyemprotan insektisida dan herbisida adalah 20-40 droplet/cm2, dan 50-70 droplet/cm2 untuk fungisida.

Cara Menentukan Kepadatan Droplet

Perbandingan coverage droplet Umumnya kepadatan droplet dihitung dengan menggunakan sasaran buatan, misalnya kertas peka air (water sensitive paper) untuk penyemprotan yang menggunakan air sebagai bahan pembawa, atau kertas peka minyak (oil sensitive paper) untuk penyemprotan dengan bahan pencampur minyak.

Caranya, kerta peka air ditempelkan di berbagai tempat pada bidang sasaran, baik sekali secara acak maupun secara sistematis. Kemudian penyemprotan dilakukan seperti biasanya. Setelah penyemprotan selesai, dihitung jumlah droplet yang menempel pada sasaran buatan tersebut dengan bantuan alat pembesar sederhana dan kertas pengukur yang diberi lobang bujur sangkar 1 cm2.

Faktor Penentu Keberhasilan Penyemprotan

Faktor Penentu Keberhasilan Penyemprotan

Penyemprotan (spraying) merupakan cara aplikasi pestisida yang paling banyak dilakukan di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Penyemprotan dengan alat semprot digunakan untuk memecah butiran halus (droplet) dari larutan semprot (campuran pestida + air).

Untuk menghasilkan penyemprotan yang baik, diperlukan peralatan semprot (sprayer) yang baik dan tenaga penyemprot yang terlatih dan terampil.

Penyemprotan dinyatakan baik, jika memenuhi kriteria berikut:

  1. Permukaan bidang sasaran tertutup oleh butiran semprot (droplet) dalam jumlah yang memenuhi syarat. Tingkat penutupan ini dalam teknik penyemprotan disebut coverage
  2. Menggunakan ukuran droplet yang tepat untuk berbagai jenis penyemprotan yang berbeda
  3. Menggunakan volume aplikasi yang cocok untuk berbagai jenis tanaman dan stadia pertumbuhan tanaman yang berbeda
  4. Pestisida yang disemprotkan menempel sebanyak mungkin pada bidang sasaran. Dalam teknik aplikasi penyemprotan pestisida, penyemprotan yang benar diarahkan untuk mendapatkan recovery setinggi mungkin
  5. Droplet semprotan didistribusikan di seluruh permukaan bidang sasaran secara merata

Keberhasilan Penyemprotan Dengan Alat Semprot

Keberhasilan penyemprotan sangat diperngaruhi oleh tingkat peliputan (tingkat penutupan, coverage), yakni banyaknya droplet yang menutupi bidang sasaran. Makin banyak droplet pada tiap cm2 bidang sasaran, makin besar kemungkinan OPT (organisme pengganggu tanaman) terkena pestisida sehinga makin besar kemungkinan penyemprotan berhasil.

Tingkat peliputan (coverage) hasil penyemprotan pada bidang sasaran dipengaruhi oleh:

  1. Ukuran butriran semprot atau droplet. Makin halus ukuran butiran semprot, makin baik tingkat penutupan/coverage-nya. Droplet yang kasar cenderung menghasilkan coverage yang kurang baik
  2. Volume aplikasi. Volume aplikasi atau volume semprot yang terlalu sedikit dapat menghasilkan penutupan yang buruk. Sedangkan volume aplikasi yang berlebihan dapat menyebabkan run off sehingga banyak larutan yang terbuang
  3. Alat semprot (terutama nozzle) yang digunakan. Alat semprot (sprayer), type, ukuran nozzle akan mempengaruhi droplet
  4. Keadaan cuaca, terutama angin. Angin yang terlalu kencang dapat mengakibatkan tingkat penutupan yang jelek
  5. Tenaga penyemprot yang kurang terampil dapat menyebabkan coverage yang kurang baik.