Pemupukan Tepat Tanaman Bawang Merah Untuk Hasil Panen Melimpah

Pemupukan Tepat Tanaman Bawang Merah Untuk Hasil Panen Melimpah

Pemupukan yang tepat pada tanaman bawang merah berperan penting dalam mencapai hasil panen yang melimpah. Penelitian menunjukkan bahwa bawang merah (Allium ascalonicum) membutuhkan berbagai jenis nutrisi untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Dalam konteks ini, pemilihan dan penentuan dosis pupuk yang tepat menjadi kunci utama. Sebagai contoh, penggunaan pupuk fosfat dapat meningkatkan hasil panen hingga 30%.

Namun, pemupukan yang berlebihan juga dapat menimbulkan dampak negatif terhadap tanaman dan lingkungan. Pencemaran tanah dan air, serta penurunan kualitas tanaman adalah beberapa contoh dampak yang mungkin terjadi.

Baca Juga: Pupuk Berimbang Pada Tanaman Bawang Merah

Mengapa Pemupukan Tepat Penting Untuk Tanaman Bawang Merah

Pentingnya pemupukan tepat tanaman bawang merah tidak bisa diabaikan. Subjek ini dibagi menjadi tiga sub-bagian: pemahaman tentang pemupukan tepat, pemupukan pada umur tanaman, dan manfaat pemupukan bagi tanaman bawang merah. Pemupukan umur tanaman penting dalam memastikan bahwa tanaman mendapatkan nutrisi yang tepat pada tahap pertumbuhan yang tepat.

Pemahaman Tentang Pemupukan Tepat Tanaman Bawang Merah

Beranjak dari segmen sebelumnya, penting untuk memahami apa dan mengapa pemupukan tanaman bawang merah menjadi sangat penting. Pemupukan tanaman merupakan proses yang tidak hanya memperkaya tanah, tetapi juga membantu menumbuhkan tanaman yang sehat dan kuat. Tidak semua tanaman membutuhkan jenis dan jumlah pupuk yang sama, oleh karena itu pemahaman yang benar tentang pemupukan tanaman sangat penting.

Misalnya, pemupukan umur tanaman bawang merah harus sesuai dengan tahap pertumbuhannya.

Pemupukan Pada Umur Tanaman

Beranjak dari pemahaman tentang pemupukan yang tepat, perhatian kemudian bergeser pada pemupukan pada umur tanaman. Memahami pemupukan umur tanaman bawang merah adalah hal yang krusial.

Fase pemupukan tanaman umumnya dibagi menjadi dua, yaitu pemupukan dasar dan pemupukan susulan. Pemupukan dasar dilakukan pada saat penanaman, sementara pemupukan susulan dilakukan pada saat tanaman berumur 3-4 minggu.

Bagi tanaman bawang merah, pemupukan pada umur tanaman yang tepat dapat meningkatkan kualitas dan cita rasa.

Manfaat Pemupukan Bagi Tanaman Bawang Merah

Seakan membuka halaman baru dalam buku harian seorang petani, penting untuk memahami manfaat pemupukan bagi tanaman bawang merah. Pemupukan tanaman sangat penting dalam pembentukan dan perkembangan bulan bawang merah. Proses ini mendukung pembentukan daun, yang berfungsi sebagai pabrik makanan bagi tanaman. Pada gilirannya, hal ini mempengaruhi bobot dan ukuran bulan bawang merah.

Selain itu, dengan pemupukan yang tepat, tanaman bawang merah dapat lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit.

Baca Juga: Varietas Maserati, Bawang Merah dari Biji Keuntungan Lebih Besar

Cara Meningkatkan Hasil Panen Bawang Merah

Untuk mengoptimalkan hasil panen bawang merah, beberapa faktor perlu diperhatikan. Pertama, langkah-langkah agar panen bawang merah menjadi besar harus dipahami dan diterapkan. Ini melibatkan pemilihan benih yang tepat dan penanaman yang efisien. Kedua, pertimbangan dan rekomendasi untuk hasil panen yang banyak harus diterima dan diimplementasikan.

Cara Agar Panen Bawang Merah Menjadi Besar

Berbicara tentang pemupukan mungkin membuat sebagian orang merasa jenuh, namun jika berbicara tentang cara agar panen bawang merah menjadi besar tentu akan menarik perhatian. Agar bisa menghasilkan bawang merah yang besar dan hasil yang banyak, ada beberapa hal yang perlu dilakukan.

Pertama, perhatikan waktu tanam. Ini sangat penting karena waktu tanam yang tepat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan hasil panen.

Kedua, lakukan penanaman dengan benar. Tanam bawang merah dengan jarak yang cukup dan pastikan tanaman mendapat cukup cahaya matahari. Ketiga, jaga kondisi tanah.

Rekomendasi Untuk Hasil Panen Yang Banyak

Setelah memahami pentingnya pemupukan yang tepat, mari beralih ke rekomendasi untuk hasil panen yang banyak. Untuk menghasilkan bawang merah banyak, aplikasi teknologi modern, pengetahuan pertanian, dan praktek-praktek terbaik sangat penting. Misalnya, teknologi irigasi tetes dapat membantu dalam pengelolaan air yang efisien, dan hasilnya adalah tanaman yang lebih sehat dan produktif. Selain itu, pemilihan varietas bawang merah yang tepat juga sangat penting. Varietas yang tahan terhadap penyakit dan hama akan memberikan hasil panen yang lebih baik.

Aplikasi Pupuk Yang Tepat Untuk Tanaman Bawang Merah

Dalam konteks aplikasi pupuk pada tanaman bawang merah, penting untuk memahami dasar-dasar aplikasi tersebut. Aplikasi pupuk yang tepat dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman. Selanjutnya, diskusi akan berfokus pada kombinasi nitrogen dan pupuk lainnya dalam aplikasi pupuk. Aplikasi nitrogen dan pupuk lainnya berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman bawang merah.

Dasar Aplikasi Pupuk Pada Tanaman Bawang Merah

Setelah mempelajari cara meningkatkan hasil panen, penting untuk memahami aplikasi pupuk yang tepat pada tanaman bawang merah untuk memaksimalkan hasil. Dasar aplikasi pupuk pada tanaman bawang merah berfokus pada pemilihan dan penjadwalan yang tepat. Memilih pupuk yang sesuai dengan kebutuhan tanaman sangat penting. Pupuk harus memiliki kandungan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman bawang merah, seperti Nitrogen, Fosfor, dan Kalium. Selanjutnya, penjadwalan yang tepat dalam aplikasi pupuk pada tanaman bawang merah juga sangat penting.

Kombinasi Nitrogen Dan Pupuk Lainnya

Beranjak dari cara meningkatkan hasil panen bawang merah, kini kita beralih ke bahasan mengenai aplikasi pupuk yang tepat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pada tanaman bawang merah. Fokus dalam bagian ini adalah pada kombinasi nitrogen dan pupuk lainnya.

Pemilihan dan kombinasi pupuk nitrogen dan lainnya sangat menentukan dalam proses pertumbuhan dan produksi pada tanaman bawang merah. Sebagai contoh, aplikasi pupuk nitrogen dapat meningkatkan pertumbuhan daun dan tunas, sementara fosfor dan kalium dapat mendukung pembentukan dan pertumbuhan umbi.

Pupuk Spesifik Untuk Tanaman Bawang Merah

Dalam konteks pupuk spesifik untuk tanaman bawang merah, terdapat beberapa subtopik yang perlu dibahas. Pertama, NPK Booster DGW 126223T yang memberikan nutrisi esensial untuk pertumbuhan tanaman. Kemudian, manfaat surfaktan Wetcit yang berperan penting dalam penyerapan nutrisi oleh tanaman bawang merah. Surfaktan Wetcit juga mempercepat penyerapan nutrisi oleh tanaman.

Penggunaan NPK Booster Dgw 126223t Pada Tanaman Bawang Merah

Memahami lebih lanjut tentang Penggunaan NPK Booster DGW 126223T untuk Tanaman Bawang Merah dapat membantu petani dalam meningkatkan produksi bawang merah. NPK Booster DGW 126223T adalah pupuk yang diformulasikan khusus untuk tanaman bawang merah. Mengandung Nitrogen, Fosfor, dan Kalium, pupuk ini memiliki manfaat yang signifikan dalam mempercepat pertumbuhan dan memperbaiki kualitas tanaman bawang merah.

Manfaat Surfaktan Wetcit Untuk Tanaman Bawang Merah

Menyusul pembahasan tentang aplikasi pupuk yang tepat, mari kita beralih ke manfaat Surfaktan Wetcit bagi tanaman bawang merah. Surfaktan Wetcit merupakan zat aditif yang berfungsi untuk meningkatkan kemampuan tanaman dalam menyerap nutrisi. Dalam konteks bawang merah, Surfaktan Wetcit dapat membantu tanaman untuk menyerap lebih banyak nutrisi dari pupuk yang diberikan, termasuk KNO3 Prill dan KNO3 Crystal.

Kenapa KNO3 Prill Dan KNO3 Crystal Baik Untuk Tanaman Bawang Merah

Menginjak ke bagian selanjutnya, perhatikan betapa pentingnya penggunaan KNO3 Prill dan KNO3 Crystal bagi pertumbuhan tanaman bawang merah. KNO3 Prill dan KNO3 Crystal mengandung unsur Nitrogen dan Kalium yang sangat dibutuhkan oleh tanaman bawang merah. Nitrogen berperan dalam pembentukan daun dan batang yang sehat, sementara Kalium mendukung pembentukan dan pertumbuhan umbi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan KNO3 Prill dan KNO3 Crystal dapat meningkatkan produktivitas tanaman bawang merah hingga 15%.

Kesimpulan

Pengetahuan tentang penggunaan pupuk yang sesuai untuk tanaman bawang merah sangat penting. Dengan memilih pupuk yang tepat dan menggunakannya secara efisien, hasil panen dapat ditingkatkan secara signifikan. Pemilihan pupuk yang tepat juga membantu dalam memelihara kesehatan tanaman dan peningkatan produktivitas.

Pupuk spesifik untuk tanaman bawang merah, ketika digunakan sesuai petunjuk, dapat mendukung pertumbuhan tanaman dan meningkatkan hasil panen. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan pupuk yang tepat adalah elemen penting dalam meningkatkan hasil panen tanaman bawang merah dan memastikan kualitas produk.

 

Pupuk Berimbang Pada Tanaman Bawang Merah

Pupuk Berimbang Pada Tanaman Bawang Merah

Pemupukan dasar diperlukan selama proses pengolahan tanah, dengan menggunakan Fertibio (200-300 kg/ha). Aplikasi pupuk dasar ini dilakukan pada bedengan sebelum proses penanaman atau selama pengolahan tanah kedua di setiap bedengan, sekitar 1-3 hari sebelum penanaman.

Pemupukan tahap I dilakukan pada 10-15 HST: Saprodap (100 kg/ha), Fertiphos (200 kg/ha), NPK 16.16.16 (100-200 kg/ha), CSN (50-100 kg/ha), ditambah dengan penyemprotan NeoKristalon Hijau (2 gr/L).

Pemupukan tahap II dilakukan pada 20-25 HST: NPK 16.16.16 Pak Tani (100-200 kg/ha), CPN (50-100 kg/ha), ditambah dengan penyemprotan NeoKristalon Hijau (2 gr/L). Untuk memaksimalkan pengisian umbi, meningkatkan kualitas warna dan rasa, serta untuk memperpanjang masa penyimpanan bawang merah,

Pemupukan tahap III dilakukan pada 30-35 HST: PNP (50-100 kg/ha), Kamas (200-300 kg/ha). Jika curah hujan tidak terlalu tinggi, semprotkan NeoKristalon Merah (2 gr/L) pada 40 HST dan 50 HST.

BACA JUGA : Varietas Maserati, Bawang Merah dari Biji Keuntungan Lebih Besar

Perawatan Bawang Merah di Musim Hujan

Untuk mengatasi masalah hujan yang terlalu sering, disarankan untuk menggunakan semprotan MKP Pak Tani dengan dosis 5 gr/L. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan asupan nutrisi fosfor (P) dan kalium (K) pada tanaman bawang merah, sehingga tanaman dapat lebih kuat dalam menahan serangan hama dan penyakit.

Salah satu contoh penyakit yang dapat dicegah adalah bercak ungu dan layu fusarium (Inul). Dengan memberikan dosis yang tepat dari unsur hara P dan K, serta mengurangi pemupukan nitrogen yang berlebihan, penyakit ini dapat dihindari. Selain itu, jangan lupa untuk memberikan pupuk Kamas pada tanaman bawang merah.

Penting juga untuk melakukan penyemprotan menggunakan MPK Pak Tani saat curah hujan terlampau tinggi. Hal ini akan membantu tanaman dalam menyerap nutrisi dengan lebih efektif. Namun, perlu diingat untuk menghindari pemupukan nitrogen yang berlebihan.

Dengan mengikuti langkah-langkah ini, diharapkan tanaman bawang merah akan lebih sehat dan tahan terhadap serangan hama dan penyakit.

Jika tanaman yang sudah terserang lakukan penyemprotan MKP Pak Tani 5-10 gr/L, dicampur dengan fungisida Torbinol 480 SC 1 ml/L + Manteb 80 WP 2 gr/L, semprot 2x seminggu

Tetapi kalau serangannya sudah gawat, semprotkan Starmek 18 EC 1-2 ml/L atau Tumagon plus 240 EC 1-2 ml/L, 2-3x seminggu.

Kesimpulan

Pemupukan dasar dilakukan selama pengolahan tanah menggunakan Fertibio. Tahap I pemupukan dilakukan pada 10-15 HST dengan beberapa jenis pupuk dan disemprot dengan NeoKristalon Hijau.

Tahap II dilakukan pada 20-25 HST dengan pupuk dan penyemprotan yang sama.

Tahap III dilakukan pada 30-35 HST menggunakan PNP dan Kamas. NeoKristalon Merah disemprotkan jika curah hujan tidak tinggi. Untuk mengatasi hujan sering, disarankan menggunakan semprotan MKP Pak Tani untuk meningkatkan asupan nutrisi fosfor dan kalium, sehingga tanaman lebih kuat menahan serangan hama dan penyakit.

Penting juga untuk menghindari pemupukan nitrogen berlebihan. Jika tanaman sudah terkena serangan, lakukan penyemprotan MKP Pak Tani dicampur dengan fungisida.

 

Fungisida untuk Penyemprotan Penyakit Bawang Merah

Fungisida untuk Penyemprotan Penyakit Bawang Merah

Sebanyak 80% produksi bawang merah di Indonesia berasal dari Pulau Jawa dan hampir 50% terkonsentrasi di Jawa Tengah. Kabupaten Brebes merupakan sentra produksi bawang merah di Jawa Tengah. Rata-rata produktivitas bawang merah di Kabupaten Brebes mampu mencapai 12.14 ton/ha yang diperoleh dari 12 kecamatan salah satunya Kecamatan Brebes dengan rata-rata produktivitas mencapai 11.69 ton/ha.

Potensi bawang merah Indonesia sekitar 120.000 ha, dengan sebaran terluas terdapat di 10 provinsi adalah Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Tengah, Sumatera Barat, Bali, dan D.I Yogyakarta.

Tabel

Penyakit Penting Pada Tanaman Bawang Merah

Berikut ini informasi mengenai hama dan penyakit penting pada tanaman bawang merah perlu diketahui untuk menentukan pengendalian yang tepat sasaran.

Hama penting yang menyerang tanaman bawang merah diantaranya orong–orong Gryllotalpa spp. (Orthoptera: Gryllotalpidae), ulat bawang Spodoptera exigua (Lepidopera: Noctuidae), ulat grayak Spodoptera litura (Lepidoptera: Noctuidae), lalat pengorok daun Liriomyza chinensis (Diptera: Agromyzidae) dan thrips Thrips tabaci (Thysanoptera: Thripidae).

Penyakit yang dapat menginfeksi tanaman bawang merah diantaranya bercak ungu (Alternaria porri), downy mildew (Peronospora destructor), bercak daun Cercospora (Cercospora duddiae), antraknosa(Colletotrichum gloeosporiodes), layu Fusarium (Fusarium oxysporum) dan nematoda (Dytylenchus dissaci) (Udiarto et al. 2005).

Trotol/Mati Pucuk (Alternaria porri)

  • Penyakit bercak ungu atau trotol disebabkan oleh cendawan Alternaria porri.
  • Patogen ditularkan melalui udara. Penyakit ini akan berkembang dengan cepat pada kondisi kelembaban tinggi dan suhu udara rata-rata di atas 26o C.
  • Gejala serangan ditandai dengan terdapatnya bintik lingkaran berwarna ungu pada pusatnya, yang melebar menjadi semakin tipis. Bagian yang terserang umumnya berbentuk cekungan.
  • Tanaman inangnya antara lain ialah bawang merah, bawang putih, bawang daun, dan tanaman bawang-bawangan lainnya.

Antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides)

  • Penyakit otomatis atau antraknos pada bawang merah disebabkan oleh dua jenis cendawan yaitu C. gloeosporioides dan C. capsici.
  • Kisaran inang C. gloeosporioides lebih luas daripada kisaran inang C. capsici, tetapi keduanya patogenik terhadap semua jenis bawang-bawangan seperti bawang merah, bawang putih, bawang bombay, dan bawang daun.
  • Gejala serangan ditandai adanya bercak putih yang melekuk ke dalam. Pada bagian tengah bercak terdapat kumpulan titik hitam yang merupakan kelompok spora.

Embun Bulu/Lodoh (Peronospora destructor)

  • Penyakit embu bulu atau busuk daun (downy mildew) disebabkan oleh cendawan Peronospora destructor yang menyerang tanaman bawang merah, bawang daun, dan bawang-bawangan lainnya
  • Patogen penyakit embun bulu ditularkan melalui angin.
  • Gejala serangan pada tanaman bawang merah ditandai daun berwarna pucat dan menguning. Bila udara lembab, daun yang terserang akan menunjukkan bintik-bintik berwarna ungu dan membusuk, sedangkan bila udara kering daun yang terserang akan menunjukkan bintik-bintik putih.
  • Kondisi optimum untuk perkembangan penyakit ini ialah pada suhu 15o C dan kelembaban tinggi terjadi selama 6-12 jam.

Penyakit layu fusarium

  • Penyakit layu fusarium disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporum
  • Patogen ditularkan melalui udara dan air.
  • Gejala serangan ditandai tanaman menjadi layu, mulai dari daun bagian bawah.
  • Tanaman inangnya antara lain ialah buncis, cabai kentang, kacang panjang, labu, mentimun, oyong, paria, seledri, semangka, tomat, dan terung.

Penyakit Busuk Leher Akar (Botrytis allii)

  • Penyakit busuk leher akarl disebabkan oleh cendawan Botrytis allii
  • Patogen ditularkan melalui udara. Penyakit ini akan berkembang dengan cepat pada kondisi kelembaban tinggi dan suhu udara rata-rata di atas 15-20oC, lahan yang becek dan lembab
  • Gejala serangan ditandai dengan leher tanaman melunak kemudian membusuk
  • Tanaman inangnya antara lain ialah bawang merah, bawang putih, bawang daun, dan tanaman bawang-bawangan lainnya.

Tindakan Pengendalian Penyakit Bawang Merah

Petani biasanya menggunakan fungisida dalam pengendalian penyakita pada bawang merah.  Petani biasanya melakukan pencampuran fungisida dan pestisida lainya karena pertanaman bawang merah diserang berbagai jenis OPT secara bersamaan.

Frekuensi penggunaan pestisida lebih intensif pada saat musim hujan dibandingkan musim kemarau. Hal ini karena pestisida yang telah diaplikasikan pada tanaman tercuci oleh air hujan sehingga aplikasi harus dilakukan lebih intensif agar tetap efektif dalam mengendalikan hama dan penyakit.

Beberapa bahan aktif fungisida kontak yang paling banyak digunakan adalah ziram 76% (ZIFLO 76WG), mankozeb, klorotalonil dan propineb.

Untuk mengatasi serangan sudah terlanjur meluas maka lakukan penyemprotan fungisida sistemik berbahan aktif dimetomorf atau difenokonazol. Kemudian diikuti dengan penyemprotan fungisida kontak berbahan aktif ziflo selama 3 hari berturut-turut.

Setelah itu maka penyemprotan fungisida kontak bisa dilakuakn 3-4 hari sekali lalu penyemprotan fungisida sistemik setiap 10 hari sekali.

Keunggulan Fungsida Ziflo 76WG pada Tanaman Bawang Merah

Kini Ziflo 90WP sudah berubah menjadi Ziflo 76WG. Ziflo 76WG adalah bahan aktif ziram plus zinc dengan keunggulan yang tidak dimiliki oleh bahan aktif ziram lainnya.

  • Ziflo 76WG adalah satu-satunya di Indonesia dengan zirm yang original dari Taminco – Eastman Chemical
  • Ziram yang terkandung pada Ziflo 76WG memiliki keunikan jika dibanding dengan pendahulunya yaitu Ziflo 90WP.  Karena Ziflo 76WG bentuk formulasinya dalam bentuk granule (butiran halus) yang sangat mudah larut dalam air meski tanpa pengadukan.
  • Ziflo 76WG selain sebagai fungisida juga memiliki kandungan hara mikro Zinc (Zn) sebagai zat pengatur tumbuh (zpt) yang lebih besar dibanding dengan ziflo 90WG, sehingga meningkatkan proses pembentukan butir hijau daun (klorofil), sehingga daun bawang tetap hijau.
  • Ziflo 76WG memiliki butiran partikel yang halus, yang mudah larut dalam air dan mampu memberikan perlindungan (coverage) yang lebih baik dari Ziflo 90WP.
  • Efek perlindungan Ziflo 76WG dengan memberikan efek dempul atau membedak yang lebih baik pada permukaan daun bawang.
  • Karena partikel pada Ziflo 76WG lebih kecil, mudah larut dalam air sehingga tidak menimbulkan endapan atau mengendap pada tangki sprayer dan tidak menyumbat pada nozel (spuyer).
  • Ziflo 76WG memiliki daya rekat yang yang baik pada daun, sehingga tidak mudah tercuci oleh air hujan.
  • Ziflo 76WG aman terhadap pengguna, tidak berdebu, tidak mudah terhirup, tidak menimbulkan pedes (panas) di kulit, dan memicu kanker (karsinogen)

BACA JUGA: Spuyer Atau Nozzle Mempengaruhi Hasil Penyemprotan Hama Dan Penyakit

Sumber:

Cara Mengatasi Hama Wereng Pada Tanaman Padi

Cara Mengatasi Hama Wereng Pada Tanaman Padi

Hama Wereng

Ancaman gagal panen masih menghantui para petani padi. Kali ini, serangan hama wereng mengancam puluhan hektar padi yang sudah mendekati masa panen.  Petani mengeluhkan serangan wereng yang mengancam padi yang hampir panen. Hama wereng mengakibatkan batang padi mengering kemerahan dan bulir padi menjadi kopong tidak berisi.

Wereng coklat (Nilaparvata lugens) adalah salah satu hama padi yang paling berbahaya dan merugikan. Serangga kecil ini menghisap cairan tumbuhan dan sekaligus juga menyebarkan beberapa virus yang menyebabkan penyakit tungro.

Jenis Hama Wereng

Terdapa dua jenis wereng yaitu wereng batang (plant hopper) dan wereng daun (leaf hopper).

Wereng batang (plant hopper) yaitu wereng coklat (Nilaparvta lugens Stal), wereng punggung putih (Sogatella furcifera Horv.).  Sedangkan  wereng daun (leaf hopper) yaitu wereng hijau (Nephotettix virescens Distant), dan wereng loreng/zigzag (Recilia dorsalis).

Wereng yang banyak menimbulkan masalah pada tanaman padi adalah kelompok wereng batang.

Kapan Hama Wereng Menyerang

Hama wereng batang coklat (WBC) menyerang tanaman padi ketika membentuk anakan dimulai oleh wereng bersayap panjang yang berpindah dari tempat lain. Jika wereng yang berkembang pada tanaman padi yang berumur 2 atau 3 minggu setelah tanam, maka WBC bisa berkembang biak menjadi dua generasi.

Tetapi jika wereng yang menyerang tanaman padi umur 5-6 minggu setelah tanam, wereng yang berkembang biak hanya satu generasi yang puncak populasinya terjadi pada padi umur 9-10 minggu setelah tanam.

Tanda-Tanda Serangan Wereng Coklat

  • Kuning, coklat dan tanaman sekarat : tanaman terbakar/gosong
  • Infeksi jamur dan bakteri pada tanaman
  • Embun madu dan jamur di daerah yang terinfeksi
  • Mengurangi pertumbuhan, kekuatan, dan tinggi tanaman, kemudian menyebabkan berkurangnya jumlah anakan produktif

Akibat Serangan Hama Wereng

Hama wereng cokelat merupakan hama laten, di samping merusak langsung mengisap cairan tanaman dengan alat mulut yang khusus untuk menusuk dan menghisap, juga sebagai vektor yang dapat menularkan penyakit virus.

Penyakit virus kerdil hampa (VKH) dan virus kerdil rumput tipe I (VKRT-1) yang ditularkan wereng cokelat terjadi pada 1970-an. Sejak 2006 wereng cokelat juga menularkan virus kerdil rumput tipe II (VKRT-11). Serangan virus kerdil rumput tipe II tersebut sudah meluas di sentra produksi padi di Pulau Jawa.

Kerusakan dan kehilangan hasil yang diakibatkan serangan wereng cokelat cukup tinggi. Pemeliharaan I dan 4 wereng cokelat/batang pada masa tanaman padi sedang bunting selarna 30 hari menurunkan hasil berturut-turut 20% dan 3 7~1.>. Pemeliharaan 4 ekor wereng cokelat/batang pada masa pemasakan buah selama 30 hari dapat menurunkan hasil sebesar 28%. Pemeliharaan I dan 4 ekor wereng cokelat/batang pada periode anakan selama 30 hari dapat menurunkan basil 35% dan 77%.

Cara Penyemprotan Mengendalikan Hama Wereng

  1. Pilihlah insektisida yang tepat sasaran. Insektisida yang tidak tepat sasaran hanya akan memperparah tingkat serangan hama wereng dan pemborosan tenaga dan uang. Gunakan insektisida yang kerjanya sistemik, kalau perlu kombinasikan pestisida yang kerjanya kontak dan sistemik.
  2. Sebelum penyemprotan sebaiknya sawah diairi setinggi mungkin agar hama wereng naik ke atas dan mudah disemprot.
  3. Jika tanaman padi tidak menggunakan sistem legowo dan tanaman terlalu rapat lakukan penyingkapan untuk membuat jalan sewaktu penyemprotan dan membuat ruang untuk menggeraknya nozel sprayer.
  4. Penyemprotan dilakukan dengan volume tinggi dengan maksud agar penyemprotan merata.
  5. Gunakan nozel sprayer yang menghasilkan kabut bukan yang mancur.
  6. Prioritaskan penyemprotan dilakukan pada pangkal batang bukan pada daun bagian atas.
  7. Lakukan penyemprotan secara bersama-sama (spray massal) agar hama wereng tidak berpindah ke sawah sebelah ketika disemprot.
  8. Jika memungkinkan gunaka miss blower karena akan lebih merata dan lebih cepat.

Insektisida Untuk Mengendalikan Hama Wereng

Insektisida paling ampuh untuk mengendalikan hama wereng adalah menggunakan kombinas i insektisida kontak dan sistemik.  Kombinasi penggunaan insektisida kontak dan sistemik akan membantu pembungker telur wereng dan pembunuh wereng dewasa.

  • Contoh merek insektisida sistemik adalah Oshin, Plenum, OBR, Cronus dll.
  • Contoh merek insektisida kontak adalah Darmabas, Baycarb, Mipcin, Poksindo dll.
  • Contoh merek insektisida pembungker telur wereng adalah Aplaud, Lugen, Ovista dll.
  • Gunakan insektisida merek Aplaud dan Darmabas/Poksindo untuk tingkat serangan hama wereng ringan.
  • Gunakan insektisida merek Aplaud dan OBR/Cronus untuk tingkat serangan hama wereng sedang
  • Gunakan insektisida merek Poksindo dan Oshin/Plenum untuk tingkat serangan hama wereng yang berat atau hampir membentuk spot.
  • Jangan sekali-kali menggunakan insektisida yang berbahan aktif piretroid sintetik seperti Fastac, Matador, Crown, Faster, Buldok, Decis, Starban, Fostin, Sidametrin dll karena akan memperberat serangan wereng walaupun ketika disemprot wereng terlihat jatuh dan mati.
Tanaman Padi Terkena Penyakit Kresek, Disemprot Apa ?

Tanaman Padi Terkena Penyakit Kresek, Disemprot Apa ?

Pada musim tanam sekarang ini banyak kita temukan penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB). Seperti terlihat pada gambar, tanaman terlihat segar, tapi coba turun dan amati.

Penyakit HDB merupakan salah satu penyakit utama tanaman padi yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryxae pv. Oryxae (Xo). Penyalit ini dapat menyerang tanaman padi pada semua fase pertumbuhan tanaman. Dari persemaian sampai menjelang panen.

BACA JUGA : PENYAKIT (BLAS)PATAH LEHER DISEMPROT FUNGISIDA APA

Penyebab Penyakit Kresk

Faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terutama adalah kelembaban yang sangat tinggi akan memacu perkembangan penyakit ini. Oleh karenanya penyakit hawar daun bakteri sering muncul terutama pada musim penghujan seperti sekarang ini. 

Dari gejala yang muncul pada tanaman umur kurang dari 30 HST biasanya ditandai dengan munculnya daun-daun berwarna hijau kelabu, melipat dan menggulung. Bahkan dalam keadaan parah seluruh daun layu dan mati. Serangan pada tahap awal ini biasanya banyak menyebut penyakit KRESEK.

Sedangkan gejala pada tanaman yang muncul pada fase anakan maksimal sampai pemasakan sering disebut dengan Hawar Daun Bakteri, ditandai dengan munculnya bercak abu-abu (kekuningan) pada tepi daun, kemudian bercak berkembang akan meluas membentuk hawar (blight) dan akhirnya daun mengering.

Pengendalian Penyakit Kresek

Untuk pengendaliannya apabila sudah diketahui bahwa varietas tersebut rentan terhadap HDB maka sejak awal harus dikendalikan dengan agens hayati Paenibacillus polimyxa pada umur 14, 28 dan 48 hst. dengan cara disemprotkan  konsentrasi 5-10 cc/liter air pada sore atau pagi hari. Namun bila upaya pengendalian tidak sejak dini dan pada menjelang fase generatif baru diketahui, bahkan gejala serangan telah meluas, maka menggunakan alternatif penggunaan pestisida.

Imunisasi pada tanaman padi merupakan inovasi baru dalam konteks perlindungan tanaman sedini mungkin. Hal ini berguna untuk mencegah terjadinya serangan hama penyakit terutana penyakit kresek dan blas yang terbawa oleh benih sekaligus memperkuat fungsi akar, batang dan daun sehingga tanaman mampu tumbuh secara optimal dalam memanfaatkan pupuk, iklim dan air.

Sehingga ditengah seringnya  cuaca ekstrim kita bisa pertahankan pertumbuhan dan produksi optimal.

Imunisasi kali ini menggunakan agensi hayati pasaran merk  Potensida yang lebih fokus pada pencegahan bakteri dan spora jamur yg terbawa oleh benih.  

Doble proteksi pengendalian kresek pada benih dan pembibitan, diharapkan menjadi ikhtiar terbaik untuk proteksi padi dini mungkin.

Penyemprotan Kresek Dengan Pestisida

Pestisida yang dapat digunakan untuk pengendalian penyakit kresek adalah dari jenis  Bakterisida dengan bahan aktif antara lain: Tembaga oksiklorida, kasugamicin, hidroklorida, streptomisin sulfat, oksitetrasiklin atau asam oksolinik.

Untuk merk dagangnya yang sudah banyak beredar antara lain: Kasumin 5/75 WP, Agrep 20 WP, Plantomycin 7 SP, Starmycin 20 WP, Bactocyn 150 AL, Kresek 150 SL, Stamer 20 WP. Kuproxat 345SC dan lain lain.

Selain dengan bakterisida, Kresek juga dibisa dicegah lebih awal dengan pengaplikasian fungisida kontak lebih awal. Fungisida yang bisa dipakai adalah fungisida dengan bahan aktif mankozeb, propineb, tiram, ziram dan lainnya. Merek dagangnya adalah Tiflo 80WG (tiram), Ziflo 76 WG (ziram), Antracol 70WP (propineb), Dithane (mankozeb), dan lainnya.

Penyakit Blas (Patah Leher) Disemprot Fungisida Apa?

Penyakit Blas (Patah Leher) Disemprot Fungisida Apa?

Penyakit blas leher juga sering disebut busuk leher, patah leher, tekek (Jawa Tengah), kecekik (Jawa Barat). Perkembangan parah penyakit blas leher infeksinya dapat mencapai bagian gabah dan patogennya dapat terbawa gabah sebagai patogen tular benih (seed borne).

Penyakit blas berkembang pada lingkungan yang kondusif. Penyakit blas daun berkembang pesat dan kadang-kadang dapat menyebabkan kematian tanaman. Penyakit blas leher dapat menurunkan hasil secara nyata karena menyebabkan leher malai mengalami busuk atau patah sehingga proses pengisian malai terganggu dan banyak terbentuk bulir padi hampa.

BACA JUGA : JAMUR ONCOM DISEMPROT FUNGISIDA APA

Mengenal Penyakit Blas

Penyakit blas disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea dan Pyricularia orizae. Jamur tersebut dapat menginfeksi pada semua fase pertumbuhan tanaman padi mulai dari persemaian sampai menjelang panen. Penyakit ini akan menginfeksi daun, buku dan leher malai tanaman padi dengan gejala terdapat Bercak hitam pada daun, busuk pada leher, malai patah dan biji hampa mencapai 70%

Pada fase bibit dan pertumbuhan vegetatif tanaman padi, P. grisea menginfeksi bagian daun dan menimbulkan gejala penyakit yang berupa bercak coklat berbentuk belah ketupat yang disebut blas daun.

Pada fase pertumbuhan generatif tanaman padi, gejala penyakit blas berkembang pada tangkai/leher malai disebut blas leher/patah leher.

Gejala kerusakan :

  • Bercak berbentuk belah ketupat-lebar di tengah dan meruncing di kedua ujungnya.
  • Leher malai yang terinfensi berubah menjadi kehitaman dan patah.

Penyebab Penyakit Blas (Patah Leher)

Patah leher biasa disebut juga blas atau busuk leher, biasanya dapat menyebar melalui benih yang tidak berkualitas. Maka, ada baiknya sebelum menyemai, pilihlah benih padi yang sehat dan berasal dari varietas yang tahan terhadap serangan blas.

Jamur berkembang optimum saat tingkat kelembaban tinggi.  Pemupukan unsur N (nitrogen) dengan dosis tinggi pada saat musim hujan dapat menyebabkan jaringan daun lemah sehingga tanaman lebih rentan terserang penyakit blas.

Fase rentan pada fase persemaian, stadia vegetatif (blas daun) umur 30-50 hst dan stadia generatif (blas leher) umur 60-80 hst,

Pengandalian Penyakit Blas

Menjaga kebersihan lingkungan sawah dari gulma yang mungkin menjadi inang alternatif seperti rumput gajah dan membersihkan sisa-sisa tanaman padi yang terinfeksi merupakan usaha yang sangat dianjurkan mengingat patogen dapat bertahan pada inang alternatif dan sisa-sisa tanaman.

Pengembalian pupuk kalium dan silika di tanah secara alami atau bantuan decomposer menjadi penting.  Tidak membakar jerami dapat menghilangkan unsur hara (N,P, K dan S) penting yang dibutuhkan termasuk mikro tanah terpengaruh kehidupannya. Pemberian jerami busuk tidak lantas bisa diserap langsung oleh tanaman, maka usaha memperbaiki lahan harus terus menerus dilakukan.

Pemberian bahan organik berupa jerami sisa panen untuk penyehatan lahan harus dikomposkan lebih dulu. Pengkomposan jerami dapat menyebabkan miselia dan spora jamur mati, karena naiknya suhu selama proses dekoposisi.

1. Penanaman Benih Sehat

Jamur penyebab penyakit blas dapat ditularkan melalui benih. Perlu dilakukan perlakuan/pengobatan benih dengan fungisida sistemik seperti trisiklazole dengan dosis formulasi 3-5 g/kilogram benih.

Pengobatan benih dapat dilakukan dengan cara perendaman benih atau pelapisan benih dengan fungisida anjuran.

2. Perendaman (Soaking) Benih

Benih direndam dalam larutan fungisida selama 24 jam, dan selama periode perendaman, larutan yang digunakan diaduk merata tiap 6 jam.

Perbandingan berat biji dan volume air adalah 1:2 (1 kg benih direndam dalam 2 liter air larutan fungisida). Benih yang telah direndam dikering anginkan dalam suhu kamar diatas kertas koran dan dibiarkan sampai saatnya gabah tersebut siap untuk disemaikan.

Dikutip dari Majalah Tebar No 102 Edisi 15 Maret-15 April 2021, Dr Suryo Wiyono, ahli hama dan penyakit dari Departemen Proteksi, Fakultas Pertanian IPB menyarankan memperkuat daya tahan tanaman dari awal dengan imunisasi PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria).

3. Cara Pelapisan (Coating) Benih

Pertama-tama benih direndam dalam air selama beberapa jam, kemudian ditiriskan sampai air tidak menetes lagi. Fungisida dengan dosis tertentu dicampur dengan 1 kg benih basah dan dikocok sampai merata, kemudian gabah dikering anginkan dengan cara yang sama dengan metode perendaman, selanjutnya benih siap disemaikan.

4. Cara Tanam

Jarak tanam yang tidak terlalu rapat atau sistem legowo sangat dianjurkan untuk membuat kondisi lingkungan tidak menguntungkan bagi patogen penyebab penyakit. Kemudian didukung dengan cara pengairan berselang (intermiten).

Sistem tersebut akan mengurangi kelembaban sekitar kanopi tanaman, mengurangi terjadinya embun dan air gutasi serta menghidarkan terjadinya gesekan antar daun.

5. Pemupukan

Pertanaman yang dipupuk nitrogen dengan dosis tinggi menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan dan keparahan penyakit lebih tinggi. Jika ketersediaan pupuk kalium lebih rendah dibanding nitrogen maka penyaki blas menjadi ancaman. Pemupukan dengan pupuk kalium dan Silika menyebabkan tanaman menjadi lebih tahan terhadap penyakit blas. Oleh karena itu, disarankan menggunakan pupuk nitrogen dan kalium secara berimbang. Pemberian nutrisi silika terbukti mampu memperkokoh batang tanaman padi sehingga tidak mudah terserang jamur blas.

6. Penanaman Varietas Tahan Blas secara bergilir

Peyemprotan Penyakit Blas Dengan Fungisida

Perlakuan benih dengan fungisida untuk pengobatan benih hanya bertahan selama 6 minggu, selanjutnya perlu dilakukan penyemprotan tanaman.

Hasil percobaan terhadap beberapa fungisida menunjukkan bahwa fungisida Benomyl 50WP, Mancozeb 80%, Tiram 80%, Ziram 76%, Carbendazim 50%, isoprotiolan 40%, dan trisikazole 20%, azoksistrobin 200 g/l + difenokonazol 125 g/l efektif menekan perkembangan jamur P. grisea.

  • Fungisida bahan aktif Benomyl 50WP: BENLOX 50WP, MASALGIN 50WP, SCHNELL 50WP
  • Fungisida bahan aktif Mancozeb 80%: POLARAM 80WP, MEGAZEB 80 WP, MANCO 80WP, CADILAC 80WP
  • Fungisida bahan aktif Propineb: ANTRACOL 70WP, MITRACOL 70WP, AGROKOL 70WP
  • Fungisida bahan aktif Tiram: TIFLO 80WG
  • Fungisida bahan aktif Ziram: ZIFLO 76WG
  • Fungisida bahan aktif Carbendazim 50%: TAFT 75WP, COZENE 70/10WP,
  • Fungisida bahan aktif Isoprotiolan 40%: ?
  • Fungisida bahan aktif Trisikazole 20%: BLAST 200SC, BLASTGONE75 WP, ENVOY 80WP, POPZOLE 525SE, RICESHIELD 75WP
  • Fungisida bahan aktif azoksistrobin 200 g/l + difenokonazol 125 g/l: AMISTARTOP, TANDEM 325SC, CORONA 325SC, ROLITOP 475SC

Penyemprotan dengan fungisida sebaiknya dilakukan 2 kali pada saat stadia tanaman padi anakan maksimum dan awal berbunga.

Referensi: berbagai artikel dengan penyesuain

Jamur Oncom (Ostilago) Disemprot Fungisida Apa?

Jamur Oncom (Ostilago) Disemprot Fungisida Apa?

Tingginya curah hujan akhir-akhir ini menimbulkan kehawatiran bagi petani padi.  Juga petani lainya sebenarnya seperti petani cabai, dan sayuran lain.  Karena intensitas hujan yang tinggi memicu datangnya penyakit-penyakit pada tanaman. 

Penyakit adalah gangguan fisiologis pada tanaman yang disebabkan oleh mikro-organisme pengganggu seperti bakteri, jamur, virus, protozoa dan nematoda.  Gangguan mikro-organisme ini dapat menyebabkan menurunnya produktivitas atau bahkan panen.

Pada tanaman padi, penyakit yang disebabkan oleh gangguan mikro-organisme ini umumnya dijumpai adalah hawar pelepah daun, blas, busuk batang, penyakit garis coklat daun, hawar daun bakteri atau kresek, tungoro dan kerdil.

Petani harus mengenali jenis-jenis gangguan dan penyakit yang timbulkanya.  Akhirnya harus jeli dan tepat memilih cara pengendaliannya, terlebih dengan menggunakan penyemprotan pestisida (fungisida, bakterisida).  Selain tepat lainnya seperti tepat waktu, tepat dosis, tepat sasaran dan tepat pengendalian.

BACA JUGA: INILAH TEKNIK PENYEMPROTAN PESTISID YANG TEPAT

Salah satu serangan penyakit yang banyak dijumpai pada tanaman padi dan sering dikeluhkan oleh petani adalah jika padi terserang penyakit jamur oncom.

Apa itu Jamur Oncom

Ustilago disebabkan karena adanya serangan jamur Ustilaginoidea virens.

Jamur Ustilago pada padi bisa dipicu karena tanaman padi terlalu banyak mendapat pupuk nitrogen (Urea) sehingga membuat bulir-bulir padi meletus dan berjamur seperti oncom

Menjelang panen pernahkah melihat bulir padi yang menyerupai popcorn kuning? Bulir padi seperti meletus dan diselimuti gumpalan kuning bertepung.

Penyakit padi tersebut disebut ustilago atau jamur oncom, yaitu penyakit yang disebabkan oleh serangan jamur Ustilaginoidea virens. Pemicunya adalah penggunaan pupuk nitrogen berlebihan dan kelembaban tinggi.

Penyakit ini hanya menyerang beberapa bulir padi dalam satu malai. Meskipun masih bisa dipanen, namun bulir padi yang dipenuhi spora kuning membuat hasil panen menjadi kotor dan menurunkan produktivitas tanaman.

Salah satu serangan penyakit yang banyak dijumpai pada tanaman padi dan sering dikeluhkan oleh petani adalah jika padi terserang penyakit jamur oncom.

Penyebab Padi Terserang Jamur Oncom

Pemicunya adalah karena tanaman padi terlalu banyak mendapat pupuk nitrogen (urea) sehingga membuat bulir-bulir padi meletus dan berjamur seperti oncom. Selain itu juga bisa terjadi karena kondisi tanaman padi yang terlalu lembab sehingga dapat memicu pengembangbiakan jamur ini.

Ustilago disebabkan karena adanya serangan jamur Ustilaginoidea virens. Musim hujan sebisa mungkin menghindari aplikasi pupuk N (urea) tentunya dengan pengamatan terhadap vigor tanaman.

Selain padi, jamur ini dapat menginfeksi beberapa jenis gulma, padi liar dan jagung. 

Cara Pengendalian Penyakit Jamur Oncom

ini adalah dengan penggunaan pupuk kimia nitrogen secara berimbang dan tidak berlebihan. Mengatur jarak tanam agar tidak terlalu rapat dan penyemprotan fungisida agar serangan tidak menyebar. Jika tidak banyak, bisa dilakukan pemetikan malai yang terinfeksi jamur ustilago secara manual .

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk pencegahan dan pengendalian jamur ustilago ini adalah dengan:

1.  Melakukan pemupukan dengan unsur hara Nitrogen seperti Urea secara seimbang dan tidak berlebihan

2.  Menggunakan jarak tanam jarang atau jarak tanamnya jangan terlalu rapat dengan tujuan untuk mengurangi kelembaban terutama pada musim tanam pertama (MT -1)

3. Jika ditemukan tanaman padi yang terserang jamur oncom sebaiknya segera dibuang bulir padi tersebut agar tidak menyebar ke bulir-bulir padi yang lain

4.  Penyemprotan dengan fungisida

Penyemprotan Fungisida Untuk Mengendalikan Jamur Oncom

Sebelum jamur ini menyerang tanaman padi, alangkah baiknya dilakukan pengencegahan terlebih dahulu.  Pencegahan dapat dilakukan dengan penyemprotan dengan fungsidia kontak dengan bahan aktif seperti mancozeb, propineb, ziram, tiram.

Agar pencegahannya jamur oncom lebih maksimal dapat setiap aplikasi fungisida kontak dicampur dengan nutrisi Silika.  Karena fungsi silika adalah memperkuat lapisan meristem bulir padi, dan seluruh jaringan tanaman padi terlindungi.  Contoh silika adalah Tenaz, Biomax.

Sedangkan jika sudah terserang, pengendaliannya dengan menyemprot menggunakan fungisida yang berbahan aktif captan, captafol, fentin hydroxide, copper oxychloride, carbendazim dan fungisida tembaga lainnya.

  • Merek dagang fungisida dengan bahan aktif captan: Antarkap 50WP, Ingrofol 360CS, Ingrofol 360WP
  • Merek dagang fungisida dengan bahan aktif fentin hydroxide:
  • Merek dagang fungisida dengan bahan aktif mancozeb: Actozeb 80WP, Antila 80WP, Dithane M-45 80WP, Megazeb 80WP, Victory 80WP, Vondozeb 80WP,  Cadilac 80WP
  • Merek dagang fungisida dengan bahan aktif copper oxychloride: Champion 77WP, Kocide 54WG, Copcide 77WP
  • Merek dagang fungisida dengan bahan aktif carbendazim: Bavistin 50WP, Delsene MX 80WP, Saaf 75WP,
  • Merek dagang fungisida dengan bahan aktif ziram: Ziflo 76WG
  • Merek dagang fungisida dengan bahan aktif tiram: Tiflo 80WG
  • Merek dagang fungisida dengan bahan aktif propineb: Antracol 70WP
Penyemprotan Fungisida Pada Persemian Kelapa Sawit

Penyemprotan Fungisida Pada Persemian Kelapa Sawit

Pada pembibitan atau persemaian (nursery) kelapa sawit sering dijumpai berbagai penyakit daun. Serangan penyakit daun pada pembibitan kelapa sawit dapat menyebabkan pertumbuhan bibit menjadi terhambat. Serangan ini jarang sekali sampai mematikan. Jika kurang mendapat perhatian kemungkinan bibit tidak dapat digunakan lagi.

Agar tidak menimbulkan lebih banyak kerugian maka diperlukan pengendalian lebih awal.

Penyakit pada Persemaian Kelapa Sawit

Beberapa penyakit umum yang biasa menyerang persemaian kelapa sawit adalah

1. Penyakit Antracnose (Early leaf disease)

Serangan penyakit ini umumnya terjadi pada bibit yang masih berada di pre-nursery, dimana daunnya masih bersatu. Gejala awal mula-mula tampak bercak kecil hialin. Bercak dengan cepat berubah warna menjadi coklat tua dan membesar. Pada bagian luar bercak dikelilingi dengan halo berwarna kuning sehingga tampak jelas batas antara jaringan yang terinfeksi dengan yang sehat.

Serangan penyakit ini jarang terjadi pada bagian tengah daun. Biasanya serangan mulai pada bagian ujung atau tepi daun.

Penyebabnya adalah jamur Botryodiplodia theobromae, Colletotrichum gloeosporoides (Gloeosporium sp. atau Glomerella sp.), Melanconium sp.

2. Penyakit Curvularia (Leaf spot disease)

Serangan penyakit ini umumnya terjadi pada bibit yang sudah dipindahkan ke large polybag. Gejala serangan ditunjukkan oleh adanya bercak yang berbentuk oval dan agak cekung bila dilihat dari permukaan daun sebelah atas.

Warna bercak adalah agak coklat tua dengan batas tegas dikelilingi oleh halo berwarna kuning. Panjang bercak biasanya tidak lebih dari 7-8 mm.

3. Penyakit Pestalotiopsis palmarum

Serangan penyakit ini umumnya terjadi pada bibit yang telah dipindahkan ke large polybag. Penyakit ini seringkali juga dijumpai pada helaian anak daun pada tanaman di lapangan. Gejala serangan ditandai oleh bercak yang tidak beraturan bentuknya. Bercak biasanya memanjang berwarna merah kecoklatan. Kadang-kadang hampir separuh bagian anak daun mengering berwarna putih kelabu.

Penyemprotan Fungisida pada Pembibitan Kelapa Sawit

Penyakit yang ditimbulkan pada persemaian biasanya bersifat sekunder. Intensitas serangan penyakit daun sangat tergantung pada kondisi bibit. Oleh sebab itu pengelolaan pembibitan perlu mendapat perhatian utama. Pembibitan yang dikelola dengan baik umumnya tidak mendapat gangguan serangan penyakit daun yang berarti.

Penyemprotan fungisida sifatnya hanya pencegahan yaitu melindungi penyebaran penyakit lebih meluas, dan menanggulangi beberapa tanaman yang sudah terserang.

Pengendalian penyakit daun bibit kelapa sawit adalah dengan disemprot mengunakan fungisida sistemik berbahan aktif triadianefon dicampur dengan fungisida kontak berbahan aktif tembaga hidroksida seperti Kocide 54WDG, atau yang berbahan aktif Thiram seperti Tiflo 80WG, Mankozeb seperti Victory 80WP.

Dosis yang digunakan dengan konsentrasi 5 – 10 gr per liter pada lubang tanam sebanyak 200 ml per tanaman interval 10 – 14 hari.

Pengendalian Antracnose, dengan gejala umum bagian ujung daun mulai berwarna kecoklatan dan terdapat batas yang jelas antara jaringan daun yang terserang dan yang sehat.

Pengendalian dengan cara menyemprotkan pestisida Daconil atau Nustar 400 EC konsentrasi 0.2 % , rotasi penyemprotan 5 – 7 hari sampai serangan terkendali.

Curvularia, dengan spot atau luka coklat dengan batas kuning atau orange. Gunakan pestisida Captan 50WP 0.4%; Dithane M45 0.2% dan Actidione 4.2 EC 0.025%, rotasi penyemprotan 7 – 10 hari,

Tindakan Pengendalian Pencegahan Penyakit

Bila pada pembibitan dijumpai serangan penyakit daun dengan kategori agak berat sampai berat, maka perlu dilakukan penyemprotan fungisida dengan bahan aktif tiram yaitu Tiflo 80 WG, Dithane M-45/80 WP (konsentrasi 0.15%-0.2%) dengan interval penyemprotan 7-10 hari.

Ini Salah Satu Penyebab Penyemprotan Pestisida Tidak Efektif.

Ini Salah Satu Penyebab Penyemprotan Pestisida Tidak Efektif.

Seringkali setelah melakukan penyemprotan mengalami atau merasa tidak nyaman atau mungkin kecewa dengan aplikasi pestisida kimia yang kita aplikasikan dirasa tidak efektif.  Setelah melakukan penyemprotan malah hama dan penyakit masih saja membandel. Padahal bahan aktif dan dosis sesuai anjuran.

BACA JUGA : Jangan Menyemprot Pada Saat Cuaca Panas Dan Kering Ini Akibatnya.

Ada banyak penyebab untuk kasus tersebut, hama nya sudah kebal (resisten) bisa saja salah satu alasannya.  Analisa ini bisa jadi benar, bisa jadi salah.  Bisa jadi karena dosis & bahan aktifnya yang kurang tepat.

Namun, jangan salah hal sepele yang sering terlewatkan oleh petani pada waktu penyemprotan pestisida adalah air.  Penggunaan air untuk melakukan penyemprotan pestisida harus memperhatikan kondisi pH air dan pH bahan aktif pestisida yang digunakan.

PH air berpengaruh terhadap efektifnya tidaknya penyemprotan pestisida. Anggap saja bahan aktif & dosis seeta tehnik yang lain sudah sesuai.

Mengapa Pengukuran pH Air Penting?

Aplikasi pestisida akan efektif jika di buat dengan larutan semprot yang reaksinya Asam atau kadar pH larutan hasil pencamupuran pestisida dengan air adalah pH 4,5-5.

Pestisida umumnya diformulasikan sebagai konsentrat dengan kondisi sedikit asam, netral, atau sedikit alkalis.  Banyak pestisida yang mengalami proses alkaline hydrolysis pada pH diatas 7 (dikutip dari Panut 2021, dari Willowood, __; Rinehold & Jenkins, 2012), bahan aktif pestisida akan terdegradasi (terhidrolisis) menjadi senyawa lain yang tidak bersifat pestisida.  Dengan terhydrolisisnya bahan aktif pestisida berakibat penurunan efikasi pestisida.

Banyak bahan aktif pestisida (kecuali tembaga) lebih cepat terdegradasi dalam keadaan alkali, sedangkan keadaan asam malah lebih stabil.  Karena itu logis jika untuk mencampur atau melarutkan pestisida pada waktu penyemprotan sebaiknya menggunakan air yang pH-nya rendah.

Jika air yang digunakan untuk membuat larutan pH-nya lebih dari 5, menyebabkan umur larutan semprot menurun.  Jika kondisi pH air asam (kurang dari 5), umur larutan semprot akan jauh lebih lama. Sehingga jika sudah di aplikasikan/di semprotkan di tanaman akan bertambah lama efektifitasnya.

Bagaimana jika mencampur 2 bahan aktif yang berbeda syarat pH airnya?  Misalnya mencapur herbisida glifosat dan herbisida sulfonylurea (metil metsulfuron).

Glifosat stabil pada pH 3-9, sedangkan metil metsulfuron menghendaki pH air 7 ke atas.  Maka untuk mencapurnya gunakan air yang pHnya diatas 7.  Akan tetapi jika menghendaki pH rendah, dan lainnya menghendaki pH tinggi lebih baik tidak mencampur.

Bagaimana caranya air yang digunakan untuk mencampur pestisida pH-nya terlalu tinggi? Bagaimana cara menurunkannya.

Caranya yaitu dengan menambahkan adjuvant yang disebut dengan acidifer atau buffer.  Bisa juga menggunakan asam lainnya seperti Asam Nitrat (HNO3), asam cuka, atau asam sitrat yang biasa dibeli di toko kimia.  Contoh merk dagang larutan penurun pH yang sudah di olah yaitu Biosoft.

BACA JUGA: Gunakan Selalu Surfaktan Dalam Setiap Penyemprotan Pestisida Kecuali Yang Ini

Saran Penggunaan pH air untuk Pencampuran Pestisida

  1. Acuan umum adalah gunakan air yang sedikit asam, yaitu pH 4,5 – 6.  Namun sumber lain menyebutkan sebaiknya menggunakan air dengan pH 4-5.
  2. Untuk bahan aktif yang stabil atau tidak terhidrolisis penggunaan pH alkalis. Untuk pestisida dengan bahan aktif bifentrin, asfenvalerat, klorotalonil, dan abamektin yang stabil pada pH 5-9. Untuk bahan aktif glufosinat ammonium, glifosat, mesotrion, sprodinil, juga toleran pada keadaan asam hingga alkalis, sehingga penggunaan air pada pH 4,5-6 masih dapat diterima. 
  3. Khusus untuk herbisida dari kelas sulfonyurea sebaikan menggunakan air yang pH-nya di atas 7.

Umur Larutan Semprot

Jika air dan pestida sudah dicampurkan, dan kemudian diukur pH larutan semprotnya, maka hal ini mempengaruhi lama simpan larutan semprot tersebut jika tidak langsung digunakan untuk penyemprotan hari yang bersangkutan akibat sesuatu hal, hujan misalnya. Maka jika pH air  larutan semprotnya 3,5-6, maka  umur larutan semprot 12 jam, dan jika pH larutan semprotnya ada pada pH 6,1-7, maka umur larutan semprot 1-2 jam

Sumber Artikel:

  • Dari beberapa sumber yang sudah disesuaikan dengan keperluan SEO
  • Panut Djojosumarto: Pengetahuan Dasar Pestisida Pertanian dan Penggunaannya, Agromedia Pustaka, Jakarta. 2020.

Image Google

Inilah Teknik Penyemprotan Pestisida Yang Tepat

Inilah Teknik Penyemprotan Pestisida Yang Tepat

Sekitar 75% penyemprotan dengan menggunakan tangki sprayer saat ini merupakan cara aplikasi pestisida yang paling umum dilakukan petani.  Penyemprotan atau aplikasi pestisida merupakan suatu cara yang ditempuh untuk mengendalikan serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), yaitu hama, penyakit dan gulma.

Penyemprotan pestisida yang tepat akan mendapatkan hasil yang tepat sasaran dan menghindari penggunaan pestisida yang sia-sia dan meminimalisir kerugian seperti pemborosan, keracunan pada tanaman, dan mencegah timbulnya sifat resistan hama terhadap pestisida.

BACA JUGA : Bagaimana Menentukan Dosis dan Konsentrasi Penyemprotan

Bagaimana cara dan teknik penyemprotan yang benar dan tepat sasaran?

Diketahui ada istilah 6 Tepat dalam teknik penyemprotan pestisida pada tanaman, yaitu:

1. Tepat Mutu

Pestisida  yang  digunakan  harus  bermutu  baik, terdaftar dan diijinkan oleh Komisi  Pestisida.  Jangan menggunakan pestisida yang tidak terdaftar,  sudah kadaluarsa,  rusak  atau  yang  diduga  palsu  karena  efekasinya  diragukan  dan  bahkan dapat  mengganggu pertumbuhan  tanaman.

2. Tepat  Sasaran

Pestisida  yang  digunakan  harus  berdasarkan  jenis  OPT  yang  menyerang.  Sebelum menggunakan  pestisida,  langkah  awal  yang  harus  dilakukan  ialah  melakukan  pengamatan  untuk mengetahui  jenis  OPT  yang  menyerang.

3. Tepat  Jenis  Pestisida

Jenis  pestisida  belum tentu  dianjurkan  untuk  mengendalikan  semua  jenis  OPT  pada  semua  jenis tanaman.  Oleh  karena  itu,  dipilih  jenis  pestisida  yang  dianjurkan  untuk  mengendalikan  suatu  jenis OPT pada suatu jenis tanaman.  Informasi tersebut dapat dilihat pada label atau kemasan pestisida.

4. Tepat  waktu

Waktu penggunaan pestisida harus disesuaikan dengan populasi hama atau kondisi kerusakan yang ditimbulkannya apa telah mencapai ambang ekonomi.   Selain itu, stadia pertumbuhan tanaman dan keadaan cuaca juga berpengaruh terhadap waktu penggunaan pestisida.

Waktu penyemprotan pestisida bisa dilakukan pada pagi hari, tetapi lebih baik dilakukan pada sore hari karena pada umumnya OPT (khususnya serangga hama) pada tanaman aktif pada sore/malam hari.

5. Tepat Dosis/Konsentrasi.

Dosis atau konsentrasi pestisida yang digunakan mempengaruhi daya bunuh terhadap OPT.  Penggunaan dosis yang tidak tepat akan mempengaruhi efikasi pestisida dan meninggalkan residu pada hasil panen sehingga membahayakan bagi konsumen.  Tingginya dosis penggunaan pestisida dapat juga memacu timbulnya OPT yang resisten terhadap pestisida yang digunakan.

6. Tepat Cara Penggunaan.

Pada umumnya penggunaan pestisida dilakukan dengan  cara disemprot.  Sebelum dilakukan penyemprotan pestisida ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain  Peralatan semprot (sprayer/nozel ), alat pelindung keamanan, dan keadaan cuaca (intensitas sinar matahari, kecepatan angin dan kelembaban udara).

Adapun cara penyemprotan yang baik adalah dilakukan dengan cara tidak melawan arah angin, kecepatan jalan penyemprotan sekitar 4 km/jam dan jarak spuyer dengan bidang semprotan atau tanaman sekitar 30 cm.

Namun hal yang lebih penting dari prinsip 6 Tepat itu adalah apakah penyemprotan yang kita lakukan sudah baik? Apa kriterianya?

Apa Kriteria Penyemprotan yang Baik

Setidaknya ada 5 parameter atau kriteria penyemprotan yang harus dipenuhi agar pengendalian OPT berhasil.

1. Ukuran Butiran Semprot

Saat menyemprot, larutan semprot harus dipecah (oleh nozzle, spuyer) menjadi butiran semprot (disebut DROPLET). Ukuran droplet  disesuaikan dengan opt sasarannya. Untuk menyemprot hama dan penyakit digunakan droplet halus sampai sedang. Sementara untuk gulma digunakan droplet sedang hingga kasar.

Butiran semprot halus biasanya diperoleh dari nozzle kerucut, droplet sedang dari nozzle kipas, dan droplet kasar dari nozzle polijet.

2. Distribusi Semprotan

Butiran semprot harus didistribusikan ke bidang sasaran (umumnya daun) secara merata, baik di seluruh kebun (distribusi horizontal) maupun pada daun tanaman (distribusi vertikal). Jangan lupa helaian daun bagian bawah!!

3. Liputan

Droplet harus menutupi daun debgan jumlah yang cukup. Makin banyak droplet menutupi bidang sasaran (daun), makin besar kemungkinan opt terpapar pertisida. Liputan minimal utk pestisida sistemik adalah 20-30 droplet/cm2 bidang sasaran, dan 50-70 droplet/cm2 utk pestisida non-sistemik.

Untuk penyemprotan konvensional di darat kita tidak usah merisaukan angka liputan minimal tersebut. Petani kita biasa menyemprot hingga basah kuyup, sehingga liputannya sering berlebihan.  Tetapi liputan minimal penting utk penyemprotan ULV yang volume semprotnya sangat rendah (misalnya penyemprotan dari udara).

4. Volume Semprot

Volume semprot adalah jumlah larutan semprot yang digunakan untuk menyemprot satu satuan luas lahan. Biasa dinyatakan dalam liter/ha.

Volume semprot bervariasi tergantung pada Jenis pestisida, umur Dan Jenis tanaman, serta alat semprot. Yang penting, larutan semprot dapat didistribusikan secara merata dan tidak terlalu berlebihan. Dengan  peralatan khusus, volume semprot dapat serendah 30-50 liter/ha. Volume semprot dng sprayer punggung utk tanaman semusim berkisar antara 200 – 700 liter/ha.

5. Recovery

Intinya tidak banyak pestisida yang terbuang saat penyemprotan sehingga pestisida yang menempel di bidang sasaran bisa optimal.

Recovery adalah perbandingan antara pestisida yang menempel di daun dibandingkan dng dosis, dinyatakan dalam %.

Sumber:

Gunakan Selalu Surfaktan Dalam Setiap Penyemprotan Pestisida, Kecuali Yang Ini.

Gunakan Selalu Surfaktan Dalam Setiap Penyemprotan Pestisida, Kecuali Yang Ini.

Surfactant adalah akronim dari SURFace ACTive AgeNT atau bahan yang aktif di permukaan.  

Menurut Wikipedia Surfaktan adalah senyawa yang menurunkan tegangan permukaan (atau tegangan antar muka) antara dua cairan, antara gas dan cairan, atau antara cairan dan zat padat.  Surfaktan dapat bertindak seperti deterjen, bahan pembasah, pengemulsi, bahan pembusa (bahasa Inggris: foaming agent), dan pendispersi (bahasa Inggris: dispersant).

BACA JUGA : Petani Jangan Sembarang Semprot Pestisida Jika Tidak Ingin Rugi

Surfaktan dan Fungsinya Pada Penyemprotan Pestisida

Surfaktan merupakan zat pelekat, perata pestisida pada daun. Dalam hal ini surfaktan sebagai adjuvant, yaitu bahan yang dimasukan ke dalam formulasi pestisida.  Adjuvant ada yang dicampurkan pada saat proses formulasi di pabrik ada juga yang ditambahkan pada saat akan menyemprot (tank mix).

Adjuvant yang dicampurkan secara tank mix ada 3 macam, yakni: (1) SURFAKTAN,  (2) PEREKAT, dan  (3) PENEMBUS yang memiliki fungsi yang berbeda. Pembagian ini sering menjadi rancu, karena beberapa (tidak semua) surfaktan juga merangkap sebagai perekat dan/atau penembus.

Dalam praktek, mungkin agak sulit memisahkan antara surfaktan, perekat, dan penembus.

Surfaktan mempunyai 2 fungsi utama, yakni:

1. Fungsi sebagai perata (spreader), yakni meratakan semprotan di permukaan daun.  Kerena fungsinya sebagai perata dan pembasah tersebut, surfaktan juga berfungsi sebagai pelekat (BUKAN PEREKAT).

Aplikasi pada pestisida peran surfaktan sebagai perata adalah untuk menurunkan tegangan permukaan butiran semprot (droplet), sehigga butiran semprot menjadi lebih lebar (lebih gepeng) sehingga butiran semprot lebih merata menutuopi permukaan daun.

Penggunaan surfaktan pada formulasi pestisida berguna untuk menurunkan tegangan permukaan butiran semprot (droplet), sehingga droplet menjadi lebih “encer” (viscose”).

2. Fungsi sebagai pembasah/pelembab (wetting agent, humefectan) yakni membasahi permukaan daun dan mempertahankan agar butiran semprot tidak cepat kering.

Karena kebanyakan surfaktan bersifat merusak lapisan lilin pada epikutikula daun, beberapa surfaktan juga dijual sebagai penembus (penetrant).

Aplikasi surfaktan sebagai pembasah adalah menunda pengeringan butiran semprot, mencegah kristalisasi bahan aktif (akibat kekeringan atau cuaca panas), sehingg butiran semprot lebih lama berada pada permukaan dun dalam keadaan basah.  Syarat pestisida itu dapat diserap ke dalam daun adalah pestisida tersebut dalam keadaan basah (wetting agent).

Pentingnya Surfaktan Pada Penyemprotan Pestisida

Seringkali pengendalian organisme pengganggu seperti gulma, hama dan penyakit tidak efisien dikarenakan beberapa faktor, yaitu adanya lapisan lilin pada daun, curah hujan yang tinggi menyebabkan pestisida tercuci oleh air hujan. Hal ini dapat menyebabkan ketidakefisienan dalam penyemprotan sehingga harus dilakukan berulang-ulang. Salah satu alternatif yang bisa digunakan adalah penggunaan surfaktan.

Setiap nyemprot tanaman apa itu tanaman padi, tanaman sayuran, atau tanaman apa saja dengan pestisida lebih baik tambahkan dengan surfaktan perekat penembus agar hasilnya lebih baik.

Pada Herbisida dIikenal ada 3 golongan surfaktan herbisida, yakni SURFAKTAN TRADISIONAL, SURFAKTAN ORGANOSILIKON, dan MINYAK.

Kebanyakan surfaktan lebiih cocok untuk dicampurkan dengan HERBISIDA PURNA TUMBUH (post emergence). Herbisida PRA TUMBUH (pre emergence) TIDAK PERLU ditambah surfaktan.

Contoh surfaktan TRADISIONAL adalah alkil aril polioksietilen (AAPOE), alkohol polioksietilen (APOE), asam lemak (termasuk sabun, detergent), propilen glikol (PG), sorbitan monolaurat etoksilat (SME), dll. Surfaktan tradisional ini juga berfungsi sebagai penembus (merusak kutikula daun).

Contoh surfaktan ORGANOSILIKON adalah silikon etoksilat (SE), trisilikon etoksilat (TSE) dan sebagainya.

MINYAK (minyak bumi, crop oil concentrates, vegetable oil concentrates) kecuali sebagai pembasah/perata, juga dapat memperkuat daya tembus beberapa herbisida post emergence. Bahkan bisa jadi pelekat.

Sementara surfaktan untuk  INSEKTISIDA dan FUNGISIDA dipilih yang tidak merusak tanaman seperti poliglukoside, fosfolipid, sorbitan, lateks, dan sebagainya.

Pada penyemprotan insektisida dengan formulasi EC tidak memerlukan lagi surfaktan, karena formulasi EC sudah berbentuk minyak dan minyak menempel pada permukaan daun.  Cotoh insektisda yang EC adalah STARBAN 585 EC, MATADOR 25 EC, BULDOK 25 EC, BESTOX 50 EC, BOOSTER 250 EC.

Dari golongan minyak, crop oil dapat digunakan untuk INSEKTISIDA dan FUNGISIDA. Crop oil adalah minyak dari tumbuhan yg sudah dimurnikan.

Sumber Image & Refensi yang sudah disesuaikan dengan kepentingan SEO.

Musim Hujan Waspadai Penyakit ini Pada Tanaman Angggur

Musim Hujan Waspadai Penyakit ini Pada Tanaman Angggur

Pada Umumnya tingkat curah hujan yang tinggi serta kelembaban tinggi tanaman pada anggur mudah terinfeksi jamur.  Jamur ini biasanya mudah menyerang tanama anggur pada daun baik tanaman dewasa maupun di pembibitan.  Salah satu cara yang efektif adalah proses penanganan secara mekanis yaitu memangkas daun yang terinfeksi serta memberikan nutrisi untuk memperkuat daya tanaman terhadap serangan penyaki.

Penyakit-Penyakit Pada Tanaman Anggur

1.  Penyakit Embun Tepung (Downy Mildew)

  • Disebabkan oleh jamur Plasmophora viticold
  • Jamur menyerang daun, tunas dan buah muda.  Serangan pada ujung tunas menyebabkan kering dan patah.
  • Serangan pada sisi atas daun ditandai dahan bercak kuning kehijuan yang tidak berbatas tegas.
  • Serangan pada buah muda menyebabkan busuk abu-abu.
  • Kondisi yang menguntungkan perkembangan patogen adalah suhu rendah, kelembaban tinggi.  Hujan merupakan pemici epidemi

Pengendalian

  • Menanam kultivar yang tahan terhdap jamur dari varietas vitis labrusca misalnya Delaware, Isabella
  • Mengurangi kelembaban kebun, sanitasi kebun dengan memangkas tunas dan buah yang terinfeksi.
  • Tanaman dsemprot dengan fungisida tembaga atau fungisida organik. 
  • Tanaman dilindungi atap plastik pada musim hujan.

2.  Penyakit Tepung, Mildew

  • Desebabkan oleh jamur Uncinela necator
  • Jamur menyerang semua jaringan hijau pada anggur, daun muda terinfeksi menjadi berkerut dan kecil, tangkai kluster dan petiole sangat peka.
  • Pada daun, ranting, bunga dan buah muda terdapat bercak bertepung putih kelabu.
  • Buah mudah yang terinfeksi tidak dapat berkembang sempurna
  • Penyebaran spora dibantu oleh angin
  • Perkembangan penyakit dibantu oleh cuaca kering (suhu optimum 20-27)
  • Kerugian akibat jamur ini menyebabkan buah cacat dan tidak dapat berkembang serta menurunkan produksi.

Pengendalian penyemprotan fungisida dengan bahan aktif belerang, dan fungisida organik misalnya tepung belerang atau belerang kapur encer (bubur california), benomil, thiophanate dan thiophanate-metyl.

3. Penyakit Kudis, Antraknosa

  • Disebabkan oleh jamur Spaceloma ampelinum
  • Gejala buah yang sakit terdapat bercak berwarna kelabu dengan tepi coklat tua dengan batas tegas
  • Daging buah tetap keras dan pecah
  • Fase kritis serangan buah pada tahap setelah berkembang (buah mengkal)
  • Kerugian akibat penyakit ini penurunan kualitas buah pada musim penghujan

Pengendalian:

Batang dan tunas yang sakit dibuang.  Tanaman dilindungi dengan fungisida (bubur california, bubur bordeaux, ziram, tiram, ferbam).  Penggunanan para-para yang tinggi.

4. Penyakit Busuk Kapang Kelabu (gray mold)

  • Disbeabkan oleh jamur Botrytis cinera
  • Gejala daging buah membusuk, menjadi masa yang lunak dan berair
  • Buah yang sakit mengeriput dan berwarna coklat tua
  • Banyak menyerang pada buah yang matang di musim hujan.
  • Kerugian akibat dari penyakit ini adalah mengurangi produksi pada pra dan pasca panen serta mengurangi kandungan juice.

Pengendalian:

Pemangkasan yang tepat untuk meningkatkan pertukaran udara.  Penjarangan dan pembungkusan buah.  Penyemprotan dengan fungisida sebelum panen dengan fungisida belerang oksida, captan, benomyl).  Buah disimpan pada suhu yang rendah.  Jangan memetik buah setelah hujan.

5.  Penyakit Karat Daun

  • Disebebkan oleh jamur Physopella ampelopsidis
  • Gejalanya pada sisi bawah daun terdapat tepung berwarna oranye yang terdiri dari spora jamur
  • Sisi atas daun terdapat bercak-bercak berwarna hijau kekuningan
  • Kerugian dari akibat jamur ini menyebabkan penurunan fungsi fotosintesis daun.

Pengendalian:

Memetik dan membakar daun yang terinfeksi.  Penyemprotan dengan fungisida berbahan aktif mankozeb, tiram, ziram, tembaga oksiklorida atau benomil.

Penyemprotan Penyakit Jamur Angggur dengan Fungisida

Penyakit penyakit anggur diatas dapt dicegah dengan penyemprotan dengan fungisida kontak.   Namun sebaiknya penyemprotan pada musim penghujan disarankan dengan sistim rotasi antara fungisida sistemik dan fungisida kontak.  Contoh Jika minggu ini fungisida sistemik, minggu esok fungisida kotak. Begitu seterusnya

Contoh fungisida kontak adalah fungisida kontak adalah fungisida yang berbahan aktif mancozeb, propineb, ziram, tiram.  Fungisida berbahan aktif Tiram adalah TIFLO 80WG.

Sedangkan fungisida sistemik seperti yang berbahan aktif difenoconazol, propinoconazol,  hekskonazol, azoxyxtrobin, klorotalonil, dan dainnya.

Dan untuk mencegah serangan datang pada tunas bakal tumbuh 5 hari sekali selama 3 kali harus ruting semprot agar spora benar2 mati. 

Penyemprotan fungisida atau pestisida lainnya di musim hujan dianjurkan untuk menggunakan stiker atau perekat.  Karena kemungkinan pestisida tercuci oleh air hujan.  Sehingga penyemprotan efektif dari sisi aplikasi dan dapat menghindari pemborosan biaya akibat semprotan kita tercuci oleh air hujan.

Kapan Waktu Penyemprotan Anggur Yang Tepat

Lakukan penyemprotan pada sore hari. Apakah jika penyemprotan dilakukan sore hari bukannya stomata sudah menutup dan tidak bisa menyerap pestisida oleh tanaman.

Bila keadaan cuaca mengizinkan, saat ideal untuk penyemprotan adalah sore hari antara pukul 3 atau 4 sampai 5 atau 6 sore.  Karena pada saat itu suhu tidak terlalu panas dan bergerak menurun, kelembaban tidak terlalu rendah dan semakin mengarah ke malam kelembaban bergerak naik.

Jangan Menyemprot Pada Saat Cuaca Panas Dan Kering.  Ini Akibatnya.

Jangan Menyemprot Pada Saat Cuaca Panas Dan Kering. Ini Akibatnya.

Wilayah Indonesia terbentang dari barat sampai timur dengan variasi geografis.  Di indonesia bagian barat kelembaban lebih besar dari 50% tetapi di bagian timur Indonesia seperti Nusa Tenggara Timur umumnya kelembaban udara kurang dari 50%.

Dalam satu hari biasanya yang paling panas antara jam 12 sampai dengan jam 2 siang.  Kadang suhunya vusa melebihi dari 31-32 derajat.  Jika melakukan penyemprotan pada jam tersebut, maka akan sia-sia belaka.

Baca juga: Lupakan Peranan Stomata Pada Waktu Penyemprotan Pestisida

Jangan menyemprot pada saat cuaca panas dan kering. 

Karena sebagian butiran semprot terutama yang harus akan menguap. Dan pada akhirnya jumlah total pestisida yang kita aplikasikan akan berkurang.  Pada akhirnya penyemprotan menjadi tidak efektif.

Alasan Jangan menyemprot pada saat cuaca panas dan kering

1.  Sebagian butiran semprot (terutama yang halus) akan menguap.

2.  Butiran semprot yang menempel pada tanaman pada daun akan cepat mengering.

3.  Jangan menyemporot pada saat cuara panas, karena akan terjadi fotolisis (fotodegradasi).  Degradasi pestisida, dekomposisi pestisida karena cahaya matahari.

Menurut J Reinhold kecepatan degradasi akan menigkat 2 kali setiap kenaikan suhu 10 derajat.  Kalau suhu naik 10 derajat, maka degradasi naik menjadi lipat dua.  Jika sudah terdegradasi, maka pestisida sudah tidak efektif lagi untuk tanaman karena sudah berubah menjadi zat-zat kimia lain yang tidak ada gunanya dalam upaya mengendalikan OPT pada tanaman kita.

4. Kalau menyemprot pada siang yang terik tentu tidak akan nyaman untuk bekerja. 

Efek Suhu Dan Kelembaban Terhadap Droplet.

Jika droplet mengering, yang tertinggal hanyalah kristal-kristal yang tidak lagi dapat diserap ke dalam daun/tanaman. Ini penting untuk pestisida yang sistemik, sistemik lokal, dan translaminar.   Karena jenis pestisida tersebut hanya dapat diserap tanaman jika dalam keadaan basah.

Itulah sebabnya dalam penyemprotan pestisida sistemik, sistemik lokal dan translaminar diupayakan droplet selama mungkin tetap berada diatas permukaan daun dalam keadaan basah.

Jika demikian berapa suhu ideal untuk penyemprotan?

Suhu udara yang ideal adalah tidak lebih 30 derajat.  Mengapa? Karena jika suhu terlalu tinggi atau dari 30 derajat maka droplet akan banyak yang menguap dan droplet yang menempel pada permukaan daun akan cepat mengering.

Droplet adalah butiran semprot adalah butiran halus dari cairan semprot yang keluar dari nozel

Kelembaban udara ideal adalah kurang dari 50%.  Jika udara terlalu kering, maka droplet menguap dan droplet cepat mengering. 

Jangan menyemprot saat angin terlalu kencang atau tidak ada angin sama sekali. 

Angin kencang akan menyebabkan butiran semprot diterbangkan oleh angin, dan yang mendarat dipermukaan daun tidak banyak atau akan jatuh ditempat lain yang tidak dikehendaki.  Distribusi dan distribusi kurang baik.

Kalau tidak ada angin sama sekali juga kurang baik.  Maka akan ada gerakan udara ke atas (termal atau termik) yang mungkin membawa uap pestisida dan masuk ke paru-paru aplikator, sehingga berbahaya untuk kesehatan.

Kecepatan angin ideal untuk penyemprotan adalah 3,6 – 6,5 km per jam.  Ditandai oleh daun bergerak-gerak ringan daun-daun kecil, tidak bergerak terlalu keras.  Bergerak tidak ke satu arah, dan asap bergerak membelok ke arah angin menuju.

Jika demikian berapa kecepatan angin yang ideal untuk penyemprotan?

Kecepatan angin yang ideal adalah 3-6 km per jam.  Pernyataan yang menyebutkan bahwa pada saat penyemprotan itu tidak ada angin.  Pernyataan terebut kurang tepat.

Idealnya angin tidak terlalu kencang.  Jika angin terlalu kencang maka:  distribusi dan liputan kurang baik. 

Angin yang terlalu kencang juga akan mengakibatkan drip (butiran halus penyemprotan atau droplet diterbangkan oleh angin).  Drip akan sangat berbahaya jika yang disemprotkan adalah herbisida yang bersifat kontak.  Meski drip tidak terlalu kerusakan pada tanaman tetangga, tetapi drip mengakibatkan mengurangi jumlah total pestisida yang disemprotkan pada bidang sasaran.

Kalau tidak ada angin sama sekali, maka distribusi dan liputan menjadi kurang baik.

Jangan menyemprot pada saat hujan 

Hujan juga akan mengakibatkan pestisida segera akan tercuci oleh air hujan dan hilang tidak menempel pada bidang sasaran.

Butiran semprot akan tercuci oleh air hujan dan hilang dari permukaan tanaman.  Butiran semprot yang tercuci akan mencemari lingkungan.

Jangan menyemprot saat embun masih banyak. 

Embun yang banyak sama saja dengan menambahkan air ke dalam larutan, konsentrasi penyemprotan akan menurun dan kemungkinan menambahkan volume semprot dan pestisida akan ke bawah menetes bersamaan dengan embun.

Petani Jangan Menyemprot Tanaman Dengan Pestisida Ini, Jika Tidak Ingin Rugi

Petani Jangan Menyemprot Tanaman Dengan Pestisida Ini, Jika Tidak Ingin Rugi

Petani jangan sembarangan menyemprot tanaman menggunakan pestisida.  Petani diminta teliti dan pandai membedakan mana pestisida palsu dan mana yang bukan.  Salah satu caranya adalah dengan melihat nomor pendaftaran dan kemasan.

Pestisida palsu dan pestisida ilegal tidak diketahui mutu dan efikasinya, akan sangat merugikan petani.   Petani sangat dirugikan karena harganya sama dengan produk asli tetapi kualitasnya rendah.  Seluruh usaha petani untuk mendapatkan hasil panen yang maksimal akan sia-sia, karena hama dan penyakit tidak terkendali.  Panen tidak memuaskan.  Pada akhirnya kerugian berlipat-liat.

Tidak hanya petani yang dirugikan, tetapi juga produsen pestisida juga dirugikan karena terkait hak kekayaan intelektual termasuk diantaranya paten, hak cipta, hak desaihn industri, merek dagang, hak varietas tanaman dan indikasi geografis yang tiak kalah penting adalah menghambat ekspor komoditas hasil petanian sendiri karena dinilai terlalu banyak terpapr oleh residu pestisida.

Untuk beberapa negara tujuan ekspor komoditas pertanian Indonesia sangat perhatian terhadap MRL yaitu maximum residue limit.  Sehingga penggunaan pestisida palsu dan ilegal bisa mempersulit ekspor produk pertanian.  Pada akhirnya akan merugikan seluruh petani Indonesia karena negara penerima akan memberlakukan untuk seluruh produk pertanian dari Indenesia.

Kerugaian Akibat Penggunaan Pestisida Palsu

Penggunaan pupuk dan pestisida palsu dapat merusak struktur tanah rusak sehingga hasil produksinya turun.   Yang asli efektif, yang palsu ada kimia racikan yang malah membunuh organisme pengganggu tanaman baru.

Saat ini pestisida yang terdaftar di Kementrian Pertanian sejumlah 4.437 formulasi dengan rincian formulasi insektisida 1.530 formulasi, formulasi herbisida  sebanyak 1.162 dan sisanya sebanyak 1.745 formulasi terdiri dari fungisida, rodentisida, pestisida rumah tangga dan lainnya. (Sinar Tani, Edisi 10-16 April 2019 No 3794 Tahun XLIX).

Brebes Daerah Peredaran Pestisida Palsu.

Budidaya tanaman bawang merah tergolong usaha padat modal tinggi.  Petani perlu memerlukan modal biaya penanaman, biaya pemeliharaan, biaya penyemprotan tanaman hingga panen bisa mencapai Rp 150 juta per hektar.  Diantara komponen yang menyerap biaya tertinggi adalah biaya pengendalian hama dan penyakit.

Brebes adalah sentra produksi bawang merah di Indonesia.  Bawang merah memerlukan penyemprotan terus menerus agar bawang merah terlindungi dari serangan hama dan penyakit.  Bawang merah itu sangat rentan terharap serangan hama dan penyakit, seperti penggarek umbi, antraknosa, busuk daun, inul, dan lainnya.  Karenanya Brebes menjadi sasaran bagi pembuat dan penjual pestisida palsu.

Beberapa jenis pesitisda yang dipalsukan yang ditemukan di Brebes biasanya merek-merek yang sudah terkenal oleh petani.  Sehingga dalam penjualannya akan mudah dan cepat.  Biasanya yang mudah dipalsukan adalah formulasi pestisida dalam bentuk cair seperti herbisida, insektisida, dan fungisid cair.  Beberapa merek yang banyak ditemukan dipalasukan adalah merek Round Up, Score, Amistar, Amistartop, Starban, dan lainya.

Modus para pemalsu pestisida tersebut dengan cara membeli kaleng atau botol bekas, lalu diisi dengan yang palsu.  Untuk menjaga hal tersebut, sebaiknya petani menghancurkan botol atau kaleng bekas pestisida yang tidak terpakai.  Jangan dibuang sembarangan, karena khawatir akan diambil dan di isi dengan pestisida palsu.

Pestisida palsu dengan merek megafur 3GR sangat mirip dengan yang asli. Namun jika diteliti, pestisida palsu berbahan baku pasir yang diberi pewarna.

Kenali Ciri Pestisida Palsu

Petani harus mengetahui pestisida palsu sebelum menyemprot tanaman dengan memperhatikan kemasan maupun isi dari pestisida palsu. 

Panduan Singkat Anti Pemalsuan Pestisida dari Croplife Indonesia sebagai berikut:

  1. Perhatikan botolnya, apakah di belakang label ada bekas lem berwarna putih atau kuning?
  2. Apabila label terdiri dari dua lembar, cobalah buka lembar pertama dan bila tidak dapat ditempel lagi dengan mudah maka terindikasi pestisida tersebut palsu.
  3. Perhatikan labelnya baik-baik, apakah ada nomor batch?
  4. Perhatikan tutup botolnya, apakah ada bekas lem dan apakah menempel sempurna atau bahkan miring?
  5. Apabila dibuka, apakah menggumpal, warna cairan dan baunya berbeda?

Jika petani mendapatkan pestisida yang tidak memenuhi standar atau mencurigakan, langsung menghubungi pihak berwajib atau layanan hotline Croplife (24 jam) di 081316641363.

Insektisida Piretroid Tidak Boleh Disemprotkan Pada Tanaman Padi. Ini Alasannya.

Insektisida Piretroid Tidak Boleh Disemprotkan Pada Tanaman Padi. Ini Alasannya.

Piretroid (pyrethroids) merupakan senyawa kimia yang meniru struktur kimia (analog) dari piretrin (pyrethrine).  Piretrin sendiri merupakan zat kimia yang memiliki sifat insektisida yang terdapat pada piretrum.  Piretrum adalah kumpulan senyawa hasil dari ekstrak bunga jenis krisan (Chrysantemum spp).

Piretroid adalah senyawa insektisida dengan keunggulan jika diaplikasikan hanya memerlukan jumlah relatif sedikit saja.  Selain itu insektisida ini memiliki spektrum pengendalian yang luas, tidak persisten, serta memiliki efek melumpuhkan (knock down effect) yang sangat baik.

Kelemahannya dari senyawa ini ini adalah karena sifatnya kurang atau tidak selektif, maka tidak cocok untuk program pengendalian hama secara terpadu.

Jenis-Jenis dan Merek Pestisida Jenis Piretroid

Sampai saat ini, golongan Sintetik Pyrethroid sendiri terdiri dari 4 generasi yang sudah idipatenkan dan dikelompokkan, antara lain ;

  1. Generasi pertama diwakili oleh Alletrin
  2. Generasi kedua diwakili oleh Tetramethrin, Resmethrin, dll
  3. Generasi ketiga diwakili oleh Permethrin, Fenvalerate, dan Sifenothrin
  4. Generasi keempat yang marak beredar di pasar dan terbiasa kita gunakan, yaitu antara lain : bifentrin (Byfenthrin), sipermterin (Cypermethrin), lamda sihalotrin (Lambda Cyhalothrin), alfa sipermetrin (Alpha Cypermethrin), dll

Keunggulan dari insektisida piretroid adalah

  1. Mempunyai efek eksitasi (perangsangan) yang lebih akrab kita sebut efek flushing,
  2. Mempunyai efek knock down (bekerja cepat),
  3. Sebagai killing agent (berdaya bunuh tinggi), umumnya repellent (penolak),
  4. Toksisitas mamalia rendah,
  5. Penggunaan dosis rendah untuk apliaksi,

Kelemahannya insektisida piretroid adalah

  • Kelarutan dalam air rendah,
  • Pada beberapa generasi (terutama generasi ke 4) memiliki efek iritasi,
  • toksik terhadap ikan.

Cotoh merek insektisida golongan piretroid adalah :

Alfa sipermetrin

  1. ALCOVE 50 EC  PT Dalzon Chemicals Indonesia
  2. ARMY 30 EC  PT Bioworld Biosciences Manufacturing Industries
  3. BESTOX 50 EC  PT Bina Guna Kimia
  4. BUZZZTOX 50 EC  PT Bahtera Boniaga Lestari
  5. INTERCEPTOR 200 K  PT BASF Indonesia
  6. KEJORA 15 EC  PT Sari Kresna Kimia
  7. PASTO 15 EC  PT Deltagro Mulia Sejati
  8. RECOV 30 EC  PT Indo Pest Biochem

Alfa sipermetrin (alpha cypermethrin)

  1. ALTAC 15 EC  PT Indagro
  2. ALTRINE 30 EC  PT Indo Pest Biochem
  3. AMETHYST 40 EC  PT Maju Makmur Utomo
  4. SERUNI 5 WP  PT Maju Makmur Utomo
  5. STARMETRIN 100 EC  PT Excel Meg Indo
  6. ALCOREEN 100 SC  PT Dalzon Chemicals Indonesia
  7. FASCRON 500/50 EC  PT Santani Sejahtera
  8. KENFAS 100 EC  PT Kenso Indonesia
  9. TETRIN 36 EC  PT Petrokimia Kayaku
  10. TUGARD 160/10 EC  PT Deltagro Mulia Sejati
  11. LIVOPEN 200 LN  PT Unilever Indonesia
  12. ROYALSENTRY 0,58 LN  CV Mentari
  13. SANGKURDI 50 EC  PT Maju Makmur Utomo

Beta sipermetrin

  1. BETAFOG 15 EC  PT Tritama Wirakarsa
  2. BETAPRO 300 SC  PT UPL Indonesia
  3. CHIX 25 EC  PT Nufarm Indonesia

Klorpirifos (chlorpyrifos) + Sipermetrin (cypermethrin)

  1. CYPERBAN 590 EC  PT Multi Sarana Indotani
  2. BANKILL 600/60 EC  PT Santani Agro Perkasa

Alasan Insektisida Pitroid tidak Boleh Dipakai Pada Tanaman Padi

Insektisida peteroid kenapa tidak boleh di aplikasian pada padi untuk mengendalikan hama wereng, ulat, walangsangit karena piretroid tidak selektif. Insektisida ini akan membunuh semua musuh alami wereng.

<