Inilah Fungsi Hormon Pemacu Pertumbuhan

IMG_1401

Tanaman memiliki hormon pertumbuhan (plant hormone) yang proses yang merupakan proses alami terjadi melalui proses fungsional pada tingkat seluler dan mempengaruhi pertumbuhan serta perkembangan tanaman. Hormon pertumbuhan ini adalah zat organik yang dihasilkan oleh tanaman yang dalam konsentrasi rendah dapat mengatur proses fisiologi tanaman. Hormon ditransformasikan dari bagian yang menghasilkan ke bagian tanaman yang lain.

Nah, dalam pertanian modern penggunaan hormon pemacu pertumbuhan tanaman atau lebih dikenal dengan zat pengatur tumbuh (ZPT) atau plat growth regulator (PGR) tidak dapat dikesampingkan penggunaannya. ZPT sendiri bukanlah senyawa organik yang bukan hara (nutrisi, nutrient), yang cara bekerjanya jika dalam jumlah sedikit bersifat mendukung (promote), atau menghambat (inhibit), dan/atau merubah proses fisiologi tanaman.

Hormon pemacu pertumbuhan terbagi kedalam lima kelompok, yaitu auksin, giberelin, sitokinin, etilen, kalin, dan asam absisat (ABA). Masing-masing kelompok memiliki ciri khas dan pengaruh yang berlainan terhadap fisiologi tanaman. Hormon tidak bekerja sendiri pada tanaman.

Berikut adalah penjelasan singkat dari masing-masing hormon pemacu pertumbuhan :

Hormon Auksin. Auksin adalah zat aktif dalam sistem perakaran. Senyawa ini membantu proses pembiakan vegetatif. Pada satu sel auxin dapat mempengaruhi pemanjangan sel, pembelahan sel dan pembentukan akar. Konsentrasi auksin yang digunakan sangat rendah antara 0.01 – 10 mg/L.

Hormon Giberelin. Giberelin adalah turunan dari asam giberelat yang merupakan hormon pertumbuhan alami yang dapat merangsang pembungaan, pemanjangan batang, dan membuka benih saat dorman. Terdapat sekitar 100 jenis giberelin, namun yang paling umum digunakan adalah giberillic accid (GA3).

Hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan hormon giberelin (GA3) adalah waktu dan dosis aplikasi karena dalam jumlah berlebihan tanaman bisa rebah. Pada tanaman padi dapat mengakibatkan pertumbuhan yang menyerupai rumput ilalang.

Hormon Sitokinin, Sitokinin adalah hormon yang berperan dalam merangsang pembelahan sel (sitokinesis), pertumbuhan tunas, mengaktifkan gen, serta aktifitas metabolisme secara umum. Pada saat yang sama sitokinin menghambat pembentukan akar. Sitokinin banyak dipakai pada proses kultur jaringan dimana dibutuhkan pertumbuhan yang cepat tanpa pembentukan perakaran. Secara umum konsentrasi yang digunakan antara 0,1 – 10 mg/L.

Etilen, Hormon tumbuhan yang fungsinya berperan dalam proses pematangan buah dan kerontokan daun.

Kalin, Kalin adalah hormon yang berperan dalam proses organogenesis. Kalin berdasarkan fungsinya dibedakan menjadi empat jenis, yaitu:
Rizokalin, hormon yang memperngaruhi pembentukan akar.
Kaulokalin, hormon yang mempengaruhi pembentukan batang.
Filokalin, hormon yang mempengaruhi pembentukan daun.
Antokalin, hormon yang mempengaruhi pembentukan bunga.

Asam Absisat (ABA), Asam Absisat adalah jenis hormon tumbuhan yang bekerja antagonis (berlawanan) dengan auksin dan giberelin. Fungsinya mempertahankan tumbuhan dari tekanan lingkungan, berperan dalam proses penuaan dan gugurnya daun.

Asam Traumalin, Hormon yang fungsinya untuk regenerasi sel apabila tumbuhan mengalami kerusakan jaringan. Tanaman mampu memperbaiki kerusakan atau luka yang terjadi pada tubuhnya. Kemampuan tersebut dinamakan regenerasi (restitusi) yang dipengaruhi oleh hormon luka (asam traumalin).

Pengaruh Hormon Auksin pada Ziram
Fungisida dengan bahan aktif Ziram (nama produk Ziflo 90WP) mengandung unsur mikro Zn (seng) dimana Zn ini dapat berfungsi sebagai hormon auksin. Ziram dapat membantu mempercepat pertumbuhan baik akar, batang, perkecambahan, pemasakan buah serta mengurani biji dalam buah.

Panduan penggunaan Ziflo 90WP pada padi dapat digunakan mulai umur tanaman 10 hari setelah tanam (HST) atau bersamaan dengan pemupukan pertama. Dosis yang digunakan adalah 500 gr/hektar atau jika diaplikasikan bersamaan dengan pupuk dosisnya 1 kg Ziflo dicampur dengan 50 kg – 100 kg urea.

Aplikasi kedua pada saat umur 15 HST dengan cara penyemprotan daun (foliar). Dosis yang dipergunakan 50 gr/tangki atau 3 sendok makan. Berikutnya pada umur 30 HST atau bersamaan dengan pemupukan kedua. Dosis yang digunakan sama dengan pemupukan pertama. Aplikasi ketiga dilakukan pada umur 35 HST dengan dosis 60 gr/tangki atau 6 sendok makan,

Pengaruh Hormon Inhibit pada Difenokonazol
Fungisida berbahan aktif difenokonazol dari golongan triazol mengandung zat penghambat pertumbuhan (bersifat inhibit). Akibatnya aplikasi fungisida difenokonazol dapat mempengaruhi aspek biologis disamping menghambat perpanjangan batang, mendorong pembungaan pada tanaman tertentu dan menghambat senesen.