Kiat Tingkatkan Produksi Padi dengan Padi Salibu

Menarik menyimak diskusi yang terjadi dibeberapa group komunitas pertanian di sosial media facebook, khususnya komunitas pertanaman padi Salibu dan Hazton. Isu utamanya adalah upaya meningkatkan produktivitas panen padi dengan melakukan beberapa inovasi kalau boleh disebut teknologi budidaya pertanian. Beberapa istilah seperti sri, jajarlegowo, hazton, dan salibu nge’hits’ beberapa tahun terakhir, terutama hazton dan salibu.

Pun demikian dengan saya, dengan bermodalkan referensi dari hasil googling, bergabung dengan komunitas petani di facebook, selesai musim tanam ke-2 langsung praktek budidaya tanam padi salibu. Mudah-mudah praktek “nekat” ini membuahkan hasil yang baik. Berikut dokumentasi sementara praktek budidaya tanam padi salibu.

Apa itu Tanam Padi Salibu

Perkenalan saya dengan salibu diawali dengan bergabungnya dengan banyak komunitas atau group di facebook. Kebetulan saya memiliki lahan untuk praktek, jadi bisa leluasa untuk berinovasi dan improvisasi.

Teknik budi daya padi salibu, atau teknologi salibu merupakan inovasi budidaya padi tanpa benih. Salibu bisa juga diartikan sebagai “sekali tanam, panen berkali – kali”. Padi salibu merupakan tanaman padi dengan memanfaakan rumpun padi setelah panen, sebagai penghasil tunas atau anakan yang di pelihara setelah batang sisa panen ditebas/dipangkas. Tunas akan muncul dari buku yang ada didalam tanah tunas ini akan mengeluarkan akar baru sehingga suplai hara tidak lagi tergantung pada batang lama, tunas ini bisa membelah atau bertunas lagi seperti padi tanaman pindah biasa. Tunas ini berfungsi sebagai penganti bibit pada sistim tanam pidah. Inilah yang membuat pertumbuhan dan produksinya sama atau lebih tinggi dibanding tanaman pertama (ibunya).

Padi salibu berbeda dengan padi ratun (ratoon) atau dalam bahasa sunda disebut turiang. Ratun adalah padi yang tumbuh dari batang sisa panen tanpa dilakukan pemangkasan batang, tunas akan muncul pada buku paling atas, suplay hara tetap dari batang lama. Sebenarnya petani sudah lama mengetahui kalau padi yang dipotong pokok atau bonggol tanamannya akan mengeluarkan tunas baru, namun sayangnya mereka tidak mengelolanya dengan baik, karena kenyataannya akan memberikan padi yang hampa.

Panduan teknik padi salibu yang dikeluarkan oleh BB Padi, Litbang Pertanian Departemen Pertanian bisa diakses disini :

Keuntungan Penerapan Tanam Padi Salibu

Secara teori, beberapa literatur menyebutkan kelebihan dari teknik budidaya padi salibu, adalah:

  • Mampu meningkatkan hasil dengan mampu panen 3-4 kali panen dalam satu tahun (Ip 3 -4)
  • Mampu menghemat biaya produksi, bahkan bisa menghemat 50 % jika dibandingan dengan tanam pindah
  • Mampu menghemat anggaran benih karena tidak mengunakan benih baru
  • Mampu menghemat air (60-70 % dari praktek tanam pindah
  • Mampu menghemat tenaga kerja sebesar 25 %
  • Peluang pengembalian bahan organik (jerami) lebih besar, terutama dari sisa potongan batang setelah panen

Panduan yang saya pakai dalam melakukan budidaya padi salibu adalah :

  • Varietas yang dapat digunakan pada teknologi salibu varietas yang pertumbuhannya baik dan cocok dibudidayakan di daerah kita diutamakan varietas yang banyak tunas/anakan
  • Tanaman induk dilakukan dengan tapin (tanam pindah) sebaiknya ditanam sistim legowo.
  • 1-2 minggu sebelum panen tanah dalam kapasitas lapang atau lembab.
  • Panen lebih awal 7-10 hari, untuk menjaga kesegaran batang bawah supaya tunas salibu banyak tumbuhnya.
  • Setelah panen lakukan pembersihan gulma musim sebelumnya, lakukan pengenangan 2-3 hari, kemudian keringkan
  • Waktu pemotongan batang 7-10 hari setelah panen dengan kondisi tanah 1 minggu sebelum dan 1 minggu setelah panen dalam kondisi lembab
  • Pemotongan batang setinggi 3-5 cm dari permukaan tanah. Tunas akan tumbuh dari hasil pemotongan batang
  • Pemotongan yg pendek akan membantu pengurangan dehidrasi tanaman, scepatnya support dg nutrisi yg siap dimanfaatkan tanaman melalui tanah.
  • Selama 1 mnggu setelah pemotongan tanah dalam keadaan lembab, kemudian baru diairi.
  • Pada umur 20-25 hari setelah pemotongan dilakukan penjarang, penyulaman, pemupukan dan penyiangan.
  • Penjarangan anakan dan penyulaman dilakukan pada umur 20-25 hsp.
  • Pemupukan pertama dilakukan pada umur 20-25 hsp dan pemupukan kedua pada umr 35-40 hsp.

Saya menemukan komen dari salah satu member yang menyatakan beberapa kesalahan yang kadang terjadi pada padi salibu antara lain:

  1. Kelembaban tanah tidak diperhatikan
  2. Batang sisa panen banyak diinjak-injak pada saat panen
  3. Batang sisa panen banyak diarit untuk pakan ternak
  4. Panen terlalu tua sehingga tunas yang tumbuh sangat sedikit.

Sedangkan tantangannya dalam tanam padi salibu antara lain :

  1. Metode ini efektif dilakukan saat panen padi belum terlalu tua dan kondisi sehat
  2. Panen terlalu dini sehingga rawan serangan walang sangit & burung (+- 70 hari panen)
  3. Perawatan jauh lebih njelimet dibanding tanam (disamping pengeprasan singgang, pengendalian gulma & sulam masih harus dilakukan kontrol air karena calon tunas mati kalau kerendem serta pengeprasan tunas pertama shg malai bisa keluar serempak
  4. Potensi hasil agak kurang
  5. Efektif dilahan sempit dan ditangani sendiri

Hasil dari praktek budidaya salibu ini akan saya terus update perkembangannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *