Kiat Tingkatkan Produksi Padi dengan Pemupukan Efektif

Tantangan dalam budidaya tanaman padi saat ini adalah bagaimana meningkatkan produktivitas panen padi dengan cara-cara intenstifikasi pertanian. Menjawab tantangan tersebut, maka lahirlah beberapa inovasi metode budidaya yang dikenal dengan nama metode salibu, metode hazton, metode sri, metode jajar legowo, dan lainnya.

Namun metode apapun yang dipakai untuk meningkatkan produksi tidak bisa dihindarkan dari penggunaan nutrisi atau pupuk. Tantangan berikutnya adalah bagaimana penggunaan atau aplikasi pupuk yang efektif (tepat sasaran setiap fase pertumbuhan tanaman) dan jika memungkinkan efisien dan ekonomis. Karena saya yakin, bercermin dari pengalaman pribadi sendiri, metode pemupukan itu tidak ada yang baku, satu metode yang bisa dipakai sepanjang musim.

Metode pemupukan terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi pertaian dan pengetahuan mengenai nutrisi (pupuk) tanaman. Jika dahulu hanya mengenai urea, NPK, SP36 atau sejenisnya kini dipasaran banyak dijual banyak varian jenis pupuk.

Bagaimana metode pemupukan yang baik dan benar?

Akan banyak jawaban untuk pertanyaan ini. Karena banyak versi, apalagi jika sudah melibatkan merek dan perusahaan produsen pupuk. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus mengetahui apa tujuan suatu unsur (pupuk) dan kapan sebaiknya di aplikasikan.

Secara umum, pertanaman padi (dalam hal ini tanam pindah) memiliki 3 tahapan atau pertumbuhan, yakni fase vegetative, fase generative, dan masa pemasakan (ripening). Dengan mengetahui tahapan pertumbuhan tanaman padi, maka kita bisa mengetahui kapan waktu yang tepat dan nutrisi (pupuk) apa yang dapat diberikan.

Pada fase vegetative, pupuk diperlukan pada umur tanaman 10 HST (hari setelah tanam) (seedling stage), 20 HST perbanyakan anakan (tillering), dan 30 HST saat perpanjangan batang (steam elongation), dengan derajat kebutuhan pupuk SEDANG.

Pada fase generative, pupuk diperlukan pada umur 40 HST pada saat pembentukan malai (panicle initiation) dan 50 HST pada saat primordial (booting stage) dengan derajat kebutuhan pupuk TINGGI.

Allen V. Barker dan David J. Pilbean, dalam bukunya Handbook of Plant Nutrition membagi berbagai jenis unsur hara kedalam 2 kategori, yakni unsur hara esensial (essential element) yang terdiri dari unsur makro dan unsur mikro, dan unsur hara penting (beneficial element).

Yang termasuk unsur hara makro adalah Nitrogen (N), Posfor (P), Potasium (K), Calsium (Ca), Magnesium (Mg) dan Sulfur (S).

Unsur hara mikro adalah Boron (Bo), Chlorine, Copper (Cu), Iron (Fe), Mangan (Mn) dan Molybdenum.

Unsur hara penting (beneficial element) adalah Alumunium (Al), Cobalt, Selenium, Silicon (Si), Sodium, dan Vanadium.

Apasaja fungsi dari masing-masing unsure hara tersebut? Rasanya sudah banyak bertebaran di internet, tinggal gooling saja. Tapi satu-dua unsur akan saya bahas pada posting berikutnya karena kehadirannya sangat berarti pada hasil panen padi.

Sumber gambar : IRRI


4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *