Pupuk Langka, ini Alternatif Solusinya

Pupuk Langka, ini Alternatif Solusinya

Sudah lama pupuk subsidi keberadaannya dirasakan langka oleh petani. Padahal pupuk adalah sarana produksi yang paling penting untuk mengingkatkan produktivitas. Kalau masih mahal mungkin petani bisa mengusahakannya, dengan segala cara. Lah kalau pupuk langka bangaimana?

Inilah dilema petanian Indonesia. Disisi lain disebut-sebut sektor pertanian adalah sektor juara, tahan banting terhadap krisis ekonomi dan hantaman pandemi. Sektor unggulan program pemerintah Indonesia yang memiliki luasan lahan pertanian yang luasanya jutaan hektar.

Pupuk langka, khususnya SP36.

Sebagai petani, menyikapi hal ini mengharuskan inovatif dan kreatif. Salah satunya menggunakan produk unggulan alam, yang disebut dengan pupuk organik. Ya, memang pupuk organik tidak bisa disamakan dengan pupuk kimia dalam reaksinya. Pupuk kimia lebih cepat, namun jangan salah pupuk kimi telah banyak dilaporakan menimbulkan dampak negatif terhadap tanah.

Bertani itu bukan hanya memanen hasil, tetapi juga menjaga bumi tempat kita menanam. Penggunaan pupuk organik itu tidak hanya untuk meningkatkan produktivitas tetapi sekaligus menjanga dan meningkatkan kemampuan tanah dalam memproduksi jangka panjang.

Sayangnya petani, lebih menyukai yang instant-instant.

Salah satu produk inovatif yang tersedia dan ditawarkan adalah penggunaan pupuk organik granule dari BETA (Bengkel Tani) Malang Yaitu NPK Kumbang.

Pupuk granule BeTa dari Bengkel Tani, adalah kombinasi pupuk NPK yang digabungkan dengan semua jenis bahan pupuk lainnya, seperti pupuk mikro, pupuk organik fermentasi dan juga diperkaya dengan berbagai jenis mikroba positif.

Penggunaan mikroba diperluan untuk membantu proses mengurai apapun (bahan organik). Selain mikroba juga dilengkapi agen hayati yang berfungsi untuk mengendalikan hama penyakit tanaman.

Keuunguulan penggunan pupuk organik Beta ini selain memberikan pupuk yang lengkap, juga sekaligus mampu mengobati penyakit dan mengendalikan semua jenis hama tanaman.

Bagaimana Cara Penggunaan Pupuk Granule BETA (NPK Kumbang) dari Bengkel Tani

Cara Aplikasi Pupuk Organik BETA

1. Sebagai Pupuk Dasar.

Taburkan pupuk granule BeTa secara merata saat pengolahan lahan.
Tujuannya adalah agar semua materi di lahan bisa diurai, baik itu materi organik maupun materi non organik yang berasal dari residu kimia, juga mengurai gas-gas berbahaya seperti amoniak dan H2S.


Setelah terurai maka akan banyak unsur hara yang tersedia di lahan sebagai nutrisi siap saji yang nantinya diserap oleh bibit tanaman, sekaligus, nutrisi siap saji ini akan diserap oleh berbagai mikroba positif yang ada di lahan agar nantinya bisa bersimbiosis dengan baik di akar tanaman sekaligus menekan pertumbuhan mikroba jelek penyebab penyakit (pathogen).

Jika dari awal unsur hara telah diurai dan hal negatifnya (bakteri, jamur/fungi, virus) diantisipasi, maka menanam apapun akan jauh lebih mudah.

Dosis pupuk dasar yang disarankan, minimal 100 kg per Ha.

Ini adalah jumlah yang sangat sedikit, yang artinya hanya butuh 1 kg untuk 100 m persegi lahan, tetapi karena berisi mikroba probiotik dan agen hayati, maka itu akan menyebar dan berkembang di lahan.

Butuh waktu minimal 3 hari sebelum lahan ditanami.

Khusus untuk lahan yang pH-nya rendah, pupuk granule BeTa sebaiknya ditambahkan kapur pertanian/dolomit sebanyak 100kg/ha.

Campurlah kapur pertanian dengan perbandingan 1:1, beri air seperlunya, aduk merata, agar nantinya lebih mudah ditaburkan dan terlalu berdebu.

2. Sebagai pupuk susulan.

Pupuk susulan diperlukan untuk menambahkan unsur hara yang lebih siap saji guna mendukung pertumbuhan bibit yang baru ditanam, sampai pada masa panen.

Khusus untuk tanaman padi, pupuk susulan ini dilakukan minimal 3 kali, yakni di umur 7 HST, 21 HST, dan 40 HST.

Dosis per Ha yang dianjurkan untuk tanaman padi adalah I = 150kg, II = 150kg, III = 200kg. atau total 500 kg per Ha selama 1 musim tanam.

Tentu saja dosis ini bisa berubah untuk tiap lahan dan tiap komoditas.

Jika dirasa pertumbuhan tanaman kurang maksimal, maka pada pemupukan I bisa ditambahkan 15kg urea (5kg urea untuk setiap karung pupuk granule BeTa, diaduk merata dan siap ditaburan.

Begitu juga dengan setiap penambahan pupuk jenis lainnya, pada pemupukan ke II ditambahkan 15kg urea dan 15kg pupuk KCl,

Pada pemupukan ke III bisa ditambahkan 30 kg pupuk KCl atau pupuk lainnya yang mengandung unsur kalium (K).

3. Pupuk Granule BeTa Sebagai Starter Pembuatan Kompos Plus.

Kompos plus adalah pupuk berbahan baku organik yang diperkaya dengan berbagai bahan pupuk, termasuk penambahan pupuk anorganik, dan kemudian difermentasi menggunakan mikroba yang terdapat pada produk BeTa (bisa berupa POC BeTa, bisa juga granule BeTa), dan karena dilengkapi dengan jenis mikroba agensi hayati, maka pupuk ini nantinya bisa digunakan untuk mengendalikan serangan hama penyakit tanaman.

Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat Kompos Plus, yakni :

  1. Pupuk granule BeTa 1 karung
  2. Pupuk Petroganik 10 karung
  3. Urea 10 kg
  4. Pupuk phospat, bisa TSP, SP36, Phonska, dll 50 kg
  5. Kapur pertanian, atau dolomit 50kg
  6. Starter probiotik, gunakan POC BeTa 1 lliter
  7. Molase 1 liter, atau gula merah 1kg
  8. Air seperlunya. Lebih bagus jika ditambahkan berbagai jenis POC, PGPR, urine

Bisa juga ditambahkan bahan lainnya seperti berikut :

  1. Kohe sapi, kohe ayam, kohe kambing dll. Jumlah menyesuaikan atau mengganti sebagian pupuk Petroganik diatas
  2. Dedak padi / dedak jagung, sebagai sumber unsur kalium dan mikro. Jumlah 20 kg
  3. Buah-buahan atau sayuran limbah, dicacah atau ijadikan POC dulu. Jumlah seperlunya
  4. Belerang, garam, berbagai pupuk mikro (Bo,Si,Mg,Mn, dll). Jumlah maksimal 1kg
  5. Cacahan batang pisang, jerami, limbah pertanian dll limbah bahan organik. Jumlah bebas

Cara membuat :

  • Campur semua bahan, aduk merata.
  • Bisa sambil dikocori air yang telah dicampur dengan starter POC BeTa, berbagai poc, PGPR, urine, molase, gula, pupuk mikro dll.
  • Pengadukan dilakukan sampai semua bahan bisa basah merata tapi tidak terlalu banyak airnya.
  • Masukkan semuanya ke dalam karung, dan biarkan sampai mateng.
  • Jika menggunakan bahan Petroganik maka 3 hari sudah bisa digunakan.
  • Jika pakai bahan kompos mentah, setelah 7 hari baru bisa digunakan.
  • Kompos plus ini bisa disimpan lama, lebih 1 tahun. Makin lama makin bagus asalkan kondisi tetap lembab, sering disiram dan ada di tempat yang teduh.
  • Dosis aplikasi bisa mengikuti pola pemupukan sebelumnya

4. Pupuk Granule BeTa Untuk Semprot maupun Kocor

Salah satu kegiatan perawatan yang dilakukan petani adalah semprot dan kocor.
Semprot dilakukan terutama untuk mengatasi hama penyakit sekaligus menambahkan nutrisi siap saji dan hormon bagi tanaman.

Pupuk granule BeTa ini bisa juga digunakan untuk semprot dan kocor.

Dosis yang disarankan adalah 1 kg dengan air 100 liter.

Atau 1 kg encerkan dengan air 5 liter, saring dulu, dan ambil 1 liter untuk 1 tanki semprot 14-16 liter air.

Dalam prakteknya, petani sudah terbiasa menggunakan pestisida kimia dan juga berbagai jenis pupuk atau produk lainnya yang bersifat hormon dan pupuk mikro.

Semua ini bisa ditambahkan saat kocor atau semprot.

Khusus pestisida kimia, wajib dikurangi dosisnya, gunakan hanya 1/3 saja dari dosis sebelumnya, tujuannya adalah agar tanaman tidak overdosis dan gosong.

Sedangkan bahan lainnya juga boleh ditambahkan dalam jumlah sedikit juga, tetapi sebaiknya masukkan dalam drum bersama pupuk granule BeTa, tambahkan air sampai penuh dan biarkan dulu semalaman (difermentasikan dahulu), maka reaksi air rendaman ini akan semakin bagus saat diaplikasikan.

Ingat, dosis semua bahan wajib dikurangi, cukup 1/3 saja dari dosis sebelumnya.
Dengan cara ini maka hasil kocoran dan semprotnya makin bagus dengan biaya yang makin murah dan tetap aman bagi tanaman maupun konsumen.

Semoga Bermanfaat!

Sumber atikel dan image: Facebook Aricka Yanti Posting 6 Januari 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *