Kurangi Kematian Semai Akibat Jamur dengan Seed Treatment

Kurangi Kematian Semai Akibat Jamur dengan Seed Treatment

Melanjutkan pembahasan sebelumnya mengenai perlindungan benih (seed treatment) pada posting sebelumnya. Anda bisa membacanya mengenai “Fungisida Tiflo untuk Perlakuan Benih (Seed Treatment) di sini.

Salah satu usaha dalam perlindungan tanaman pada tahan awal (benih) terhadap serangan penyakit adalah dengan menggunakan perlakuan benih. Tujuan pemberian perlakuan benih adalah untuk melindungi benih dari serangan cendawan (jamur), terutama pada saat pembibitan dan awal pindah tanam. Perlakuan benih bisa mencegah busuk akar hingga 90%.

Selain pemilihan varietas unggul yang tahan serangan cendawan, bakteri atau virus, benih juga perlu diperlakukan dengan tepat agar tumbuh maksimal. Sebelum disemai sebaiknya dilakukan perlakuan benih agar benih bebas penyakit.

Seed Treatment pada Cabai

Penyakit seperti antraknosa, layu fusarium, dan layu bakteri adalah momok menakutkan bagi pekebun cabai yang kerap muncul di musim hujan akibat kelembapan tinggi. Agar tetap sukses berkebun di musim hujan pilih varietas unggul. Tidak semua benih tahan terhadap serangan penyakit.

Pada tanaman cabai, fase pembibitan dan pindah tanam sangat peka terhadap serangan cendawan rebah semai (dumping off) yang diakibatkan jamur Pyhium sp. Penanganan benih dapat dilakukan dengan perlakuan basah dan kering. Perlakuan basah dengan merendam benih dengan larutan fungisida Tiflo 80 WP berdosis 1 -2 g/kg benih. Benih direndam selama 4 – 6 jam dan setelah 3 – 4 hari kecambah tumbuh dan siap semai.

Jika cara basah memiliki sedikit kelemahan karena benih sulit dipisahkan karena kulit benih menempel satu sama lain. Maka bisa dilakukan cara kering. Caranya, cukup mencampurkan 1–2 g Tiflo 80WP per kg benih. Kemasan dilipat lalu dikocok sampai seluruh benih terlumuri fungisida dan bakterisida secara sempurna. Setelah itu benih disemai di polibag.

Seed Treatment pada Padi

Fungisida_Tiflo80WP_Seedtreatment


Pelindungan benih pada padi diarahkan untuk pencegahan dan pengendalian penyakit terutama penyit blas atau patah leher (Pycularia grisea) pada tanaman padi yang kini lagi nge-hits.

Penyakit blas/bercak belah ketupat pada tanaman padi disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzae. Jamur ini berkembangbiak cepat pada tanaman padi yang berjarak tanam rapat sehingga mempunyai kelembaban yang tinggi. Kecepatan pertumbuhan jamur tersebut juga akan semakin tinggi jika pemupukan tanaman padi menggunakan urea secara berlebihan.

Gejala penyakit blas pada daun dan pelepah terdapat bercak-bercak berbentuk belah ketupat. Ukuran bercak sebesar 1-1,5 cm X 0,3-0,5 cm. Bercak berwarna kelabu atau keputih-putihan dengan pinggir berwarna coklat. Ukuran dan warna bercak dapat bervariasi sesuai dengan keadaan lingkungan, kerentanan tanaman dan umur bercak. Jika kondisi lingkungan lembab dan yang terserang adalah tanaman yang rentan maka bercak-bercak tersebut dapat menyatu dan menyebabkan rusaknya sebagian besar daun.

Pyricularia oryzae dapat menyebabkan tangkai malai membusuk dan patah, penyakit ini biasa kita sebut busuk leher. Jika infeksi terjadi sebelum pengisian bulir dapat menyebabkan kehampaan bulir padi. Tidak hanya daun dan malai batang juga dapat terinfeksi sehingga batang padi membusuk dan rebah.

Hampir 30 – 40 % penyakit blas pada padi ditularkan melalui benih, sehingga pada stadium awal vegetative tanaman padi dapat terserang blas. Oleh karena itu, perlakuan benih dengan fungisida TIFLO 80WP sebanayak 1-2 g/kg benih sangat diperlukan. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, penggunaan fungisida TIFLO 80WP bisa diaplikasikan pada setiap pemupukan dengan dosis 1 kg TIFLO untuk setiap 1 kuintal pupuk.

Demikian ulasan mengenai perlakuan benih (seed treatment) dengan fungisida TIFLO 80WP pada tanaman cabai dan tanaman padi. Jika anda berkeinginan untuk mendapatkan fungisida ini dapat hubungi penulis disini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *