Hindari Gagal Panen! Begini Cara Menghitung Volume Semprot Pestisida

Hindari Gagal Panen! Begini Cara Menghitung Volume Semprot Pestisida

Penggunaan pestisida menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Pestisida adalah bahan kimia atau agen hayati yang digunakan untuk mengendalikan hama, penyakit, dan gulma pada tanaman.

Penggunaan pestisida yang tepat dapat membantu petani untuk:

  • Meningkatkan Hasil Panen: Dengan mengendalikan hama, penyakit, dan gulma, pestisida dapat membantu tanaman tumbuh dengan optimal dan menghasilkan panen yang lebih melimpah.

  • Menjaga Kualitas Panen: Hama, penyakit, dan gulma dapat merusak tanaman dan menurunkan kualitas panen. Penggunaan pestisida yang tepat dapat membantu menghasilkan panen yang lebih berkualitas dan bernilai jual tinggi.

  • Mengurangi Kerugian Ekonomi: Kehilangan hasil panen akibat hama, penyakit, dan gulma dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi petani. Penggunaan pestisida yang tepat dapat membantu meminimalisir kerugian tersebut.

Namun penggunaan pestisida yang berlebihan atau tidak tepat dapat membawa dampak negatif, baik bagi lingkungan maupun kesehatan manusia.

Memahami Faktor-faktor yang Mempengaruhi Volume Semprot Pestisida

Dampak Negatif Penggunaan Pestisida yang Berlebihan:

  • Keracunan pada manusia dan hewan: Pestisida yang terpapar pada manusia atau hewan dapat menyebabkan keracunan, bahkan kematian.

  • Pencemaran lingkungan: Pestisida yang berlebihan dapat mencemari tanah, air, dan udara, membahayakan ekosistem dan kesehatan manusia.

  • Resistensi hama: Penggunaan pestisida yang berlebihan dapat menyebabkan hama menjadi resisten terhadap pestisida, sehingga semakin sulit untuk dikendalikan.

Oleh karena itu, penting untuk menggunakan pestisida secara tepat dan bertanggung jawab.

Baca juga : Mengurangi Volume semprot, Penggunaan Pestisida berkurang?

Prinsip 5 TEPAT Penggunaan Pestisida

  • Tepat Sasaran: Gunakan pestisida hanya pada hama, penyakit, atau gulma yang menjadi target.

  • Tepat Dosis: Gunakan pestisida sesuai dengan dosis yang dianjurkan.

  • Tepat Waktu: Gunakan pestisida pada waktu yang tepat, yaitu saat hama, penyakit, atau gulma sedang aktif.

  • Tepat Cara: Gunakan pestisida dengan cara yang benar, sesuai dengan petunjuk penggunaan pada label produk.

  • Tepat Alat: Gunakan alat semprot yang sesuai dengan jenis pestisida dan tanaman yang akan disemprot.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip penggunaan pestisida yang tepat, petani dapat memaksimalkan manfaat pestisida untuk meningkatkan hasil panen dan menjaga kualitas panen, tanpa membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia.

Memastikan Penggunaan Pestisida yang Tepat dan Efisien

Penggunaan pestisida yang tepat merupakan salah satu kunci utama dalam budidaya tanaman. Pestisida membantu petani untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman, sehingga meningkatkan hasil panen. Namun, penggunaan pestisida yang berlebihan atau tidak tepat dapat membawa dampak negatif, baik bagi lingkungan maupun kesehatan manusia.

Salah satu faktor penting dalam penggunaan pestisida yang tepat adalah menghitung volume semprot yang akurat. Volume semprot yang tepat akan memastikan bahwa pestisida tersebar secara merata pada tanaman dan mampu mengendalikan hama atau penyakit secara efektif.

Volume Semprot Aplikasi Pestisida

Faktor-faktor yang memperngaruhi jumlah volume semprot pada saat aplikasi pestisida adalah:

1. Luas Area yang Akan Disemprot:

Semakin luas area yang akan disemprot, semakin banyak pula pestisida yang dibutuhkan. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui luas area yang akan disemprot dengan tepat sebelum menghitung volume semprot pestisida.

2. Jenis Tanaman yang Ditanam:

Setiap jenis tanaman memiliki tingkat ketahanan yang berbeda terhadap hama dan penyakit. Hal ini perlu dipertimbangkan dalam menentukan dosis aplikasi pestisida dan volume semprot.

3. Konsentrasi Pestisida yang Digunakan:

Konsentrasi pestisida yang digunakan biasanya tertera pada label produk. Semakin tinggi konsentrasi pestisida, semakin sedikit volume semprot yang dibutuhkan.

4. Tingkat Keparahan Hama atau Penyakit:

Tingkat keparahan hama atau penyakit juga mempengaruhi volume semprot pestisida. Pada kasus serangan hama atau penyakit yang parah, volume semprot mungkin perlu ditingkatkan untuk memastikan pengendalian yang efektif.

5. Jenis Alat Semprot yang Digunakan:

Setiap jenis alat semprot memiliki kapasitas dan pola penyemprotan yang berbeda. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan jenis alat semprot yang digunakan dalam menghitung volume semprot pestisida.

Dengan memahami kelima faktor di atas, maka keuntungan didapat adalah :

  • Terhindari pemborosan pestisida.

  • Meningkatkan efektivitas pengendalian hama dan penyakit.

  • Meminimalisir dampak negatif pestisida terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.

Rumus Dasar Menghitung Volume Semprot

V = L x K x D / C

dimana :

V = Volume semprot (liter)

L = Luas area yang akan disemprot (meter persegi)

K = Konsentrasi pestisida (gram/liter)

D = Dosis aplikasi pestisida (liter/hektar)

C = Kepadatan tanaman (tanaman/meter persegi)

Contoh perhitungan volume semprot

  • Misalkan:

    • Luas area: 1.000 meter persegi

    • Jenis tanaman: Padi

    • Konsentrasi pestisida: 200 ml/liter

    • Dosis aplikasi: 400 liter/hektar

    • Kepadatan tanaman: 200 tanaman/meter persegi

  • Perhitungan:

    • V = 1.000 x 200 x 400 / (200 x 1)

    • V = 400.000 liter

Tips Menghitung Volume Semprot Pestisida dengan Mudah dan Akurat:

  • Gunakan kalkulator online atau aplikasi smartphone untuk mempermudah perhitungan.

  • Konsultasikan dengan ahli pertanian atau toko pertanian untuk mendapatkan dosis aplikasi yang tepat.

  • Selalu baca label pestisida dengan cermat untuk petunjuk penggunaan yang benar.

Penggunaan pestisida yang tepat merupakan salah satu pilar penting dalam mewujudkan budidaya tanaman yang berkelanjutan. Dengan mengoptimalkan manfaat pestisida dan meminimalisir dampak negatifnya, petani dapat mencapai hasil panen yang maksimal, menjaga kualitas panen, dan melindungi kelestarian lingkungan.

Dengan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran petani, kita dapat bersama-sama mewujudkan budidaya tanaman yang berkelanjutan dan bertanggung jawab, demi masa depan yang lebih baik.

 

Cara Mencegah Buah Pecah Di Pohon

Cara Mencegah Buah Pecah Di Pohon

Musim mangga telah tiba, namun sering kali kita menemukan adanya pecah buah saat di pohon. Salah satu masalah yang kerap muncul adalah buah mangga pecah di pohon. Buah yang sudah terlanjur pecah umumnya akan sulit masak atau matang.

Akibat pecah buah akan mengurangi nilai jual buah, bahkan ditolak pasar. Ketahui beberapa sebab kenapa buah pecah saat di pohon.

Apa saja penyebabnya?

Ada empat sebab buah tanaman anda menjadi pecah kulit dan daging buahnya selagi buah itu masih menggantung di pohon. Hal ini bisa terjadi bukanlah karena faktor hama atau penyakit. Tetapi lebih karena sifat fisiologis. 

Kelebihan air atau asupan air yang tidak teratur. 

Air tanah yang terlalu banyak atau kondisi tanah yang terlalu basah, bisa membuat pecahnya kulit dan daging buah tanaman. Untuk itu, perlu dibuat sistim irigasi yang memadai. 

Demikian juga bila tingkat kelembaban tanah berubah-ubah dengan cepat, misalnya di musim pancaroba, maka buah juga bisa pecah-pecah.

Cara mengatasinya tentu dengan membuat sistim pengairan yang baik. Tanah dijaga agar tidak terlalu kering juga terlalu basah. .  

ZPT yang berlebihan.

Pemberian zat pengatur tumbuh mungkin terkadang dibutuhkan, tetapi jumlahnya harus dibatasi. Aplikasi ZPT juga harus didasarkan kepada pengetahuan yang cukup, tidak boleh sembarangan. Patut juga diwaspadai aplikasi fungisida atau insektisida yang mengandung ZPT.

Jika terlalu sering disemprotkan atau diberikan kepada tanaman, bisa menyebabkan tanaman mengalami pecah buah. Intinya, ilmu pertanian harus dipelajari dengan baik. Dan petani harus mematuhi aturan pakai yang sudah diterakan di bagian kemasan semua produk-produk penunjang pertanian. Jangan menggunakan dengan dosis dan konsentrasi yang berlebihan.

Aplikasi pupuk unsur Nitrogen yang berlebihan.

Kelebihan unsur Nitrogen (N), dan kekurangan unsur kalium (K) dan fosfor (P), membuat unsur K dan P tidak dapat mengimbangi kelebihan unsur N tersebut.

Hal ini dapat menyebabkan elastisitas kulit buah menjadi berkurang. Pecah buah terjadi karena saat buah terpacu untuk besar terjadi pengurangan elastisitas kulit buah.

Solusinya, pada fase generatif atau pembuahan, pupuk nitrogen hendaknya dikurangi, sedangkan pupuk P dan K perlu ditambah.

Berikan pupuk tanaman mangga dengan pupuk MKP dan pupuk kalsium. Dosisnya adalah setengah sendok makan pupuk kalsium dan setengah sendok makan pupuk MKP, dosis tersebut untuk dilarutkan pada 2 liter air.

Aplikasi dilakukan dengan dikocor dengan interval 6-7 hari sekali dan dilakukan pada sore hari.

Kekurangan unsur K

Masa pembungaan dan masa pembuahan tanaman memang sangat membutuhkan unsur kalium yang cukup. Karena itu pemupukan dengan pupuk KCL, KNO3 atau pupuk ZK sangat dianjurkan untuk diaplikasikan dengan cukup dan berimbang.

Gunakan biostimulan Silika

Saat ini telah banyak produk stimulan dengan kandungan silika dipasaran. Kenapa Silika? karena silika mampu melindungi seluruh bagian kulit buah menjadi lebih fleksibel, menjadikan kulit buah tidak mudah pecah.

Kesimpulan

Beberapa penyebab utama buah mangga pecah saat masih di pohon, yang biasanya berdampak pada penurunan nilai jual buah tersebut. Penggunaan biostimulan Silika juga dapat membantu karena mampu melindungi kulit buah menjadi lebih fleksibel.

Empat Kunci Sukses dan Nutri Mikro Penting Budidaya Bawang

Empat Kunci Sukses dan Nutri Mikro Penting Budidaya Bawang

Empat Kunci untuk Sukses Budidaya Bawang adalah Lokasi, Persiapan Tanah, Air, dan Perlindungan dari awal. Jangan lupa untuk mematuhi pondasi ini untuk tumbuhan yang sehat dan kuat!

Lokasi

Cahaya matahari penuh dan drainase tanah yang baik adalah sangat penting, jadi pilih lokasi yang mendapatkan cukup sinar matahari langsung. Arahkan guludan bawang ke arah sinar matahari, sehingga aliran udara alami akan menjaga daun bawang tetap kering. Hal ini membantu melindungi tanaman dari penyakit jamur.

Persiapan Tanah

pH tanah terbaik untuk bawang adalah antara 6,2 dan 6,8. Layanan ekstensi pertanian Anda dapat menguji tanah Anda, atau Anda dapat membeli kit uji rumah di toko kebun lokal Anda. Jika tanah Anda terlalu asam (pH di bawah 6,2), campurkan batu kapur yang tersedia di toko kebun Anda. Jika terlalu alkalis (pH di atas 6,8), tambahkan gambut. Bawang tumbuh terbaik di lantai atau baris yang dinaikkan setidaknya 4 inci tinggi dan 20 inci lebar. Tanah harus longgar dan rapuh. Jika terlalu padat, kerjakan sedikit kompos untuk meningkatkan aerasi dan drainase.

Air

Bawang harus diberi air saat mereka ditanam. Mereka membutuhkan sekitar 20 hingga 22 inci air per musim untuk menghasilkan bawang besar. Jika mereka tidak mendapatkan banyak air, mereka masih akan menghasilkan bawang tetapi tidak akan sesuai dengan yang diinginkan. Berhenti menyiram ketika puncak mulai jatuh.

Air adalah kunci untuk menyelesaikan dua siklus pertumbuhan – saat tanaman menyerap nutrisi, dan saat nutrisi diubah menjadi karbohidrat.

Saya suka menggunakan aturan “tikungan” untuk memeriksa tingkat kelembaban tanah. Masukkan jari Anda ke tanah sampai tikungan tengah Anda, dan jika Anda tidak menemukan kelembaban, siram tanaman dengan menyeluruh. Metode ini untuk mengukur kelembaban tanah dapat digunakan selama proses pertumbuhan.

Selalu siram tanaman bawang dari bawah, bukan dari atas. Penyiraman atas mengaburkan daun dan membuat mereka rentan terhadap jamur. Ini juga dapat membuat tanah berlumpur. Irigasi tetes di akarnya adalah metode penyiraman yang efektif, karena memberikan air secara perlahan langsung ke akar, menjaga daun tetap kering. Kit irigasi tetes sederhana dan terjangkau tersedia di toko perlengkapan rumah.

Lindungi Sejak Awal

Berikan bawang Anda nutrisi mikro yang esensial untuk membantu mereka membentuk sistem akar yang kuat saat tanam dengan pupuk 10-20-10 kami. Aplikasi rutin dari fungisida pada awal proses pertumbuhan dan setiap 10-14 hari adalah esensial untuk mencegah penyakit seperti downy mildew, white tip, botrytis, dan masalah jamur lainnya. Jika Anda menunggu sampai masalah muncul, sudah terlambat untuk menangani mereka.

Bawang Maksimum

Tanaman bawang memiliki kebutuhan khusus, yang mudah dipenuhi dengan sedikit perencanaan. Ketika Anda memesan tanaman bawang Anda, lakukan pengecekan untuk memastikan Anda memiliki pupuk dan perlakuan fungisida yang diperlukan, sehingga Anda tidak terjebak ketika saatnya datang untuk menerapkannya.

Ketika bawang Anda mendapatkan yang terbaik untuk mereka saat tanam dan sepanjang proses pertumbuhannya, mereka harus berkembang.

Baca Juga : Pemupukan Tepat Tanaman Bawang Merah Untuk Hasil Panen Melimpah

 

Nutrisi Mikro Penting Untuk Tanaman Bawang

Zinc (Zn)

Kebutuhan zat Zinc (Zn) yang rendah ditentukan melalui pengujian tanah dapat dikoreksi dengan mengaplikasikan 5 pound Zn per acre. Jumlah yang berlebihan dapat menjadi beracun, sehingga hanya aplikasikan jika diperlukan. Zinc biasanya ditambahkan dalam pupuk pre-plant atau dapat diaplikasikan dengan produk tertentu seperti Fungicide dengan Zinc, seperti Ziflo 76WG (ziram, mancozeb).

Kekurangan Zinc mengakibatkan pertumbuhan tanaman yang terhambat dengan torsi atau retakan yang jelas dan chlorosis interveinal yang lemah pada daun. Bawang merah sangat sensitif terhadap kekurangan Zinc dan daun mungkin mulai jatuh sebelum tanaman benar-benar siap untuk panen.

Magnesium (Mg)

Jika program pengapuran menggunakan batu kapur dolomit, maka biasanya akan menyediakan beberapa Magnesium (Mg) yang dibutuhkan. Namun, jika pH tanah cukup baik dan tingkat Mg dalam sampel tanah rendah, berikan Mg dengan pupuk pre-plant jika Mg tidak sudah dimasukkan ke dalam pupuk pre-plant. Epson garam juga dapat digunakan untuk pengobatan kekurangan magnesium.

Kekurangan magnesium menyebabkan pertumbuhan tanaman yang terhambat dengan daun tua yang menjadi kekuningan secara merata sepanjang panjangnya. Hanya terjadi pada tanah yang memiliki tingkat Mg yang dapat diekstrak rendah dan kadang-kadang pada tanah dengan rasio potassium/magnesium yang sangat tinggi terutama jika ada kompaksi tanah. Mungkin juga melihat tanda-tanda daun jatuh terlalu awal.

Sulfur (S)

Sulfur (S) adalah unsur esensial untuk pertumbuhan tanaman. Aplikasi awal sulfur disarankan pada bawang putih yang disemai langsung dan tersetransplantasi. Untuk meminimalkan pungensi pada bawang putih dewasa, aplikasikan pupuk yang mengandung sulfur pada tahap awal pertumbuhan tanaman.

Penelitian yang dilakukan di Georgia tentang S dan pungensi bawang putih menunjukkan bahwa pungensi (analisis piruvat) bawang putih dewasa meningkat dengan tingkat S tinggi atau kapan pun aplikasi S terjadi pada tahap pertumbuhan yang lebih akhir. Oleh karena itu, jangan menerapkan S pada bawang putih setelah pembentukan bola tanah kecuali bawang putih menunjukkan kekurangan S, tapi jangan menghilangkan S dari program kefertilitasan.

Kekurangan sulfur akan menyebabkan daun menjadi tebal dan terdistorsi dengan daun baru yang berubah menjadi kuning. Dalam kasus yang sangat kekurangan, daun baru pendek, tebal dan klorotik. Hal ini bisa terjadi di pasir dan tanah yang dangkal di atas gamping atau kapur, di daerah dengan tingkat deposit atmosfer sulfur yang rendah.

Boron (B)

Boron (B) diperlukan oleh bawang yang ditanam langsung atau ditransplantasikan di lapangan. Jika tes tanah menunjukkan tingkat B rendah, berikan boron dan masukkan sebelum transplantasi atau penanaman. Jangan melebihi jumlah yang direkomendasikan karena boron dapat beracun bagi bawang.

Defisiensi boron pada bawang menyebabkan daun berubah menjadi biru/hijau, dan daun muda menjadi bertekstur dengan area menyusut yang terdistorsi. Retakan mungkin muncul di permukaan atas daun bawah, yang menjadi kaku dan rapuh. Pertumbuhan akar terhambat. Musim dingin dapat terganggu oleh kekurangan boron. Kekurangan ini sangat jarang terjadi tetapi mungkin terjadi di daerah dengan curah hujan tinggi terutama pada tanah ringan dengan pH di atas 6,5.

Manganese (Mn)

Bawang menunjukkan klorosis bergaris-garis pada daun luar, diikuti oleh nekrosis dengan pertumbuhan yang sangat berkurang. Juga dapat melihat melengkung daun, pembungaan yang berkurang, dan leher yang tebal.

Kekurangan Mn paling parah pada tanah organik, berlapis peat dan rawa pada nilai pH di atas 6,0 dan pada tanah heathland pada tingkat pH di atas 6,5. Gejala sering bersifat sementara dan mungkin hilang setelah hujan. pH rendah dapat menyebabkan toksisitas Mn. Mancozeb Fungisida dengan Seng juga mencakup Mangan dan dapat diaplikasikan untuk pengobatan.

Copper (Cu)

Daun terlalu muda di bawang menjadi klorotik, berubah menjadi putih dan berbelit menjadi spiral atau membengkok pada sudut tertentu. Skala bawang menjadi lunak, berwarna kuning pucat, dan tipis. Carilah produk tembaga cair yang juga berfungsi sebagai fungisida untuk meningkatkan kadar tembaga di bawang Anda. Biasanya pada tanah organik dan tanah peat, serta tanah pasir yang telah lepas, terutama tanah heathland yang telah dikembalikan.

Calcium (Ca)

Dalam bawang, kekurangan kalsium tampak sebagai layu dan matinya daun muda tanpa peninggian kuning, atau kematian bagian pendek daun yang menyebabkan bagian distalnya menggelembung dan mati. Kejadian ini sangat jarang.

Sumber: https://www.onionpatch.dixondalefarms.com/

 

Ketahui Manfaat Penggunan Produk Stimulan Posfit Pada Tanaman

Ketahui Manfaat Penggunan Produk Stimulan Posfit Pada Tanaman

Produk stimulan secara positif dapat meningkatkan kesehatan dan produktivitas tanaman. Stimulan ini dapat membantu tanaman untuk meningkatkan daya tahan penyakit, sehingga mengurangi biaya penyemprotan pestisida.

Apa itu Stimulan Posfit

Posfor (P) adalah salah satu esensi elemen penting yang dibutuhkan oleh semua makhluk hidup. Minat terhadap stimuan posfit semakin meningkat sebagai bagian dari program produksi total.

Posfit (PO3) mengandung satu oksigen (O) lebih sedikit daripada posfat (PO4), sehingga menentukan sifat kimia dan perilakunya agak berbeda. Fosfit lebih larut daripada fosfat, membuat daun dan akar penyerapannya lebih efisien, sehingga konsentrasi yang tinggi dapat menjadi racun bagi tanaman.

Fosfit juga memiliki efek unik pada metabolisme tanaman. Fosfit disuplai melalui tanah atau dedaunan secara perlahan diubah menjadi fosfat. Aplikasi pada tanah dan daun pada dosis relatif rendah untuk mencegah masalah nutrisi. Untuk beberapa spesies tumbuhan, posfit mungkin menawarkan beberapa manfaat unik yang tidak terlihat pada aplikasi posfat.

Perubahan molekuler menyebabkan banyak perbedaan signifikan antara posfat dan posfit yang berpengaruh pada kelarutan relatif, penyerapan oleh tanaman, dan pengaruhnya pada metabolisme dan fisiologi tanaman.

Baca Juga : Inilah Fungsi Unsur Hara Mikro Pada Tanaman

Apa Bedanya Posfit dan Posfat

Asam posforus (H3PO3) dan garamnya (fosfit) mengandung konsentrasi P (39%) yang lebih tinggi daripada pupuk berbasis fosfat tradisional (H3PO4) (32% P). Garam fosfit umumnya lebih larut daripada garam fosfat yang analog.

Sejak fosfat yang telah teroksidasi sepenuhnya merupakan bentuk P yang paling stabil di lingkungan, fosfit mengalami transformasi secara bertahap setelah ditambahkan ke dalam tanah. Mikroorganisme tanah akan memecah fosfit dan melepaskan fosfat, sambil mendapatkan energi dan nutrisi selama konversi biologis ini. Mikroba cenderung lebih memilih untuk mengambil fosfat untuk metabolisme mereka sebelum mengambil jumlah fosfit yang signifikan.

Estimasi waktu paruh oksidasi posfit menjadi posfat dalam tanah biasanya adalah 3 hingga 4 bulan. Namun, karena kelarutannya yang lebih tinggi, ketika fosfit diterapkan ke dalam tanah selama pemupukan, itu lebih mudah tersedia bagi mikroorganisme dan akar tanaman daripada fosfat. Oksidasi fosfit secara non-biologis juga dapat terjadi secara bertahap, tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat.

Terdapat bukti bahwa fosfit diadsorpsi dan melekat pada mineral tanah dalam jumlah yang lebih sedikit daripada fosfat. Sifat ini mungkin dapat digunakan untuk meningkatkan mobilitas P yang diterapkan dari pupuk atau dari drip emitter di dalam tanah.

Meskipun manfaat potensial ini belum diteliti secara detail, kelarutan yang lebih tinggi telah digunakan dalam formulasi pupuk berbasis fosfit yang mencakup kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan kalium (K).

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menentukan efektivitas penerapan fosfit tanah sebagai sumber nutrisi untuk tanaman. Pekerjaan awal dengan bahan-bahan ini berfokus pada efek toksik fosfit dan asam fosforus pada berbagai tanaman ketika digunakan sebagai sumber utama P.

Ketika posfit disuplai dengan konsentrasi yang setara dengan tingkat pemupukan fosfat, sebagian besar laporan menunjukkan bahwa pada awalnya fosfit merupakan sumber nutrisi tanaman yang buruk untuk tanaman siklus pendek. Tanaman yang diberi pupuk posfit dengan tingkat yang tinggi umumnya tumbuh lebih buruk dibandingkan dengan yang diberi pupuk posfat dalam beberapa minggu atau bulan setelah penambahan nutrisi.

Proses oksidasi biologis dapat terlalu lambat (tergantung pada kondisi tanah, suhu, dan keberadaan mikroba yang dapat menguraikan fosfit) sehingga tidak berpengaruh signifikan dalam pertanian untuk beberapa tanaman tahunan.

Namun, ketika tanaman ditanam kembali di tanah yang sebelumnya diberi pupuk fosfit, performanya mirip dengan tanaman yang tumbuh di tanah yang diberi pupuk fosfat. Efek toksik ini dan biaya tambahan yang terkait dengan bahan posfit membatasi penelitian lebih lanjut selama bertahun-tahun.

Baru-baru ini, penelitian dengan phosphite telah menunjukkan bahwa dengan dosis yang tepat, dapat memberikan stimulus pada tanaman yang mungkin tidak terjadi dengan fosfat.

Namun, ketika digunakan dengan dosis yang direkomendasikan, phosphite hanya memberikan 2lb P2O5/A pada setiap aplikasi tanah, yang mungkin jauh di bawah tingkat pengangkutan tanaman. Kurang diketahui tentang respons tanaman tahunan terhadap sumber phosphite yang diterapkan pada tanah, tetapi praktik ini juga semakin populer.

Cara Kerja Posfit Pada Tanaman

Minat terhadap phosphite muncul kembali ketika produk komersial (garam fosfonat aluminium, disebut fosetyl-Al) terbukti dapat bergerak dari daun ke akar melalui floem dalam bentuk posfit dan memberikan pengendalian terhadap beberapa penyakit akar.

Posfit dalam akar telah terbukti secara langsung menghambat jamur Phytophthora dan juga merangsang mekanisme pertahanan patogen pada tanaman. Meskipun posfit dapat secara efektif mengendalikan spesies tertentu dari Oomycetes, namun ia memiliki sedikit pengaruh terhadap sebagian besar jamur tanah.

Efek fungisida yang relatif terbatas – dikombinasikan dengan kemampuannya untuk merangsang tanaman dalam menghasilkan berbagai spektrum metabolit yang biologis aktif – membuat phosphite relatif aman digunakan dan tidak berbahaya bagi lingkungan. Namun, sebagai pengobatan untuk patogen selain Phytophthora, posfite dapat mengurangi tingkat keparahan penyakit, tetapi dapat kurang efektif dibandingkan dengan fungisida standar.

Aplikasi tunggal posfit dapat menginduksi perlindungan sistemik terhadap patogen, seperti penyakit embun tepung, pada beberapa tanaman tahunan dan abadi.

Penelitian menunjukkan bahwa aplikasi posfit secara foliar fosfit dapat menggantikan fosfat pada tanaman jeruk dan alpukat yang mengalami kekurangan P.

Jeruk dan alpukat dierkenal sulit menyerap fosfat. Pada tanaman ini dan tanaman lainnya, aplikasi daun fosfit terbukti lebih dari sekedar fungisida. Ia juga dapat meningkatkan intensitas bunga, hasil panen, ukuran buah, total padatan terlarut, dan konsentrasi antosianin, biasanya sebagai respons terhadap satu aplikasi saja.

Posfit paling efektif saat dosis dan aplikasinya sesuai dengan kebutuhan tanaman. Karena secara kimiawi berbeda dari fosfat, perbedaan ini harus diperhatikan untuk menghindari toksisitas pada tanaman.

Manfaat Penggunaan Stimulan Posfit pada tanaman

Sebagai contoh dari efek bermanfaat fosfit pada tanaman, satu aplikasi daun fosfit sebelum mekar pada jeruk ‘Valencia’ di Florida secara signifikan meningkatkan jumlah bunga, hasil, dan total keseluruhan selama 10 bulan saat panen dibandingkan dengan kontrol yang tidak diberikan perlakuan (Abrigo, 1999).

Jeruk navel California yang menerima aplikasi daun fosfit pada bulan Mei dan lagi pada bulan Juli menghasilkan buah besar yang lebih berharga secara komersial tanpa mengurangi hasil total (Gambar 2).

Hasil ini menunjukkan bahwa efek dari pupuk berbasis fosfit bukan disebabkan oleh sifat fungisidal molekul tersebut, tetapi oleh sifat lain yang merangsang pertumbuhan.

Para petani didorong untuk mengidentifikasi tujuan produksi mereka peningkatan hasil, peningkatan ukuran buah, atau peningkatan kualitas buah. Strategi produksi dikembangkan untuk berbagai tanaman pohon, tanaman beri, bawang, kentang, dan tanaman hias. Respon fisiologis terhadap fosfit mungkin terkait dengan efeknya pada metabolisme gula, stimulasi jalur asam shikimat, atau perubahan hormonal dan kimia internal.

Kesimpulan

Minat dalam menggunakan fosfit sebagai bagian dari paket produksi total semakin meningkat, terutama untuk beberapa tanaman bernilai tinggi. Namun penggunaan fosfit, jika tidak diformulasikan dengan benar, memiliki potensi yang signifikan untuk menyebabkan fitotoksik dan menginduksi reaksi yang merugikan dengan bahan lain dalam tangki semprot seperti mikroelemen dan pestisida.

sumber: Phosphite Fertilizers: What Are They? Can You Use Them? What Can They Do? By C.J. Lovatt and R.L. Mikkelsen Better Crops/Vol. 90 (2006, No. 4)

 

Bagaimana Menentukan Dosis Dan Konsentrasi Penyemprotan Pestisida

Bagaimana Menentukan Dosis Dan Konsentrasi Penyemprotan Pestisida

Penggunaan pestisida merupakan salah satu metode yang efektif untuk mengendalikan organisme hama. Namun, tidak semua pestisida memiliki efek yang sama. Penggunaan dosis yang tepat dan konsentrasi yang tepat dapat membantu mengurangi konsumsi pestisida dan memastikan bahwa mereka efektif dalam mengendalikan hama.

Jadi, bagaimana Anda bisa tahu berapa dosis dan konsentrasi yang tepat? Di sini, kami akan mengajarkan Anda teknik untuk menentukan dosis dan konsentrasi yang tepat untuk penyemprotan pestisida.

Baca Juga: Begini Cara Mengitung Volume Semprot Berdasarakan Dosis dan Konsentrasi

Cara Pengendalian Gulma Sawit Dengan Semprot

Semprotan menjadi salah satu cara yang paling efisien dan efektif dalam mengendalikan gulma sawit. Manfaat yang ditawarkan oleh penyemprotan tidak hanya membatasi pertumbuhan gulma, tetapi juga menyediakan perlindungan yang lebih baik terhadap tanaman sawit, meningkatkan produksi, dan membantu mengurangi kerugian yang disebabkan oleh gulma. Dengan penyemprotan, gulma dapat dengan cepat dihilangkan dari lokasi tanaman, daripada harus menggunakan metode lain yaitu menggaruk, mencabut, atau menggali.

Penyemprotan obat gulma juga dapat mengurangi risiko infeksi tanaman sawit dan meningkatkan produksi.

mrnghitung dosis pestisida

Kalibrasi Herbisida Dan Volume Semprot

Setelah mengetahui pentingnya cara pengendalikan gulma sawit dengan menyemprot, selanjutnya adalah pentingnya kalibrasi herbisida dan volume semprot. Hal ini penting agar aplikasi herbisida dapat berhasil dengan efektif.

Untuk mencapai hasil yang optimal, kalibrasi herbisida harus dilakukan dengan benar. Ini berarti Anda harus menyesuaikan volume semprot dengan tingkat kepadatan tanaman. Hal ini membantu Anda menentukan berapa banyak herbisida yang akan diaplikasikan di tiap tanaman. Dengan cara ini, Anda dapat menghemat banyak biaya dan meminimalkan risiko pencemaran lingkungan.

Selain itu, Anda juga harus menyesuaikan volume semprot dengan kondisi cuaca.

Mengkalibrasi Alat Semprot Knapsack Untuk Dosis Pestisida Dan Volume Semprot

Menyemprot pestisida dengan dosis dan volume yang benar adalah kunci untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Oleh karena itu, penting untuk melakukan kalibrasi yang benar dari alat semprot knapsack. Melalui kalibrasi ini, kita dapat mengukur jumlah pestisida yang semprotkan dan juga mengatur volume semprot yang tepat. Kalibrasi alat semprot knapsack dapat membantu kita untuk mencapai hasil terbaik dalam penggunaan pestisida.

Kami akan melakukan beberapa tes untuk mengkalibrasi alat semprot knapsack. Pertama, kami akan mengukur berat yang digunakan untuk mengisi alat semprot knapsack. Kedua, kami akan mengukur volume air yang digunakan untuk mengisi alat semprot knapsack.

Contoh Kasus Cara Menghitung Volume Semprot

Dosis Insektisida 4 Liter/ha atau konsentrasi 0.4 %, berapa volume semprotnya ?

Berdasarkan informasi yang telah kita bahas tentang mengkalibrasi alat semprot knapsack untuk dosis pestisida dan volume semprot, jika dosis suatu insektisida sadalah 4 liter per hektar atau konsentrasinya adalah 0,4% maka volume semprot adalah 400 liter per hektar (0,4% x 10,000 = 400 L/ha).

Kesimpulan

Pengendalian gulma sawit dengan semprot pestisida merupakan solusi yang tepat untuk meningkatkan hasil panen. Dengan menggunakan dosis dan konsentrasi yang tepat, kita dapat meningkatkan produksi dan mengurangi kerugian akibat hama.

Cara Efektif Pengendalian Hama Penggerek Batang Padi

Cara Efektif Pengendalian Hama Penggerek Batang Padi

Penggerek batang padi merupakan salah satu hama yang paling merusak bagi tanaman padi. Serangan hama ini dapat menyebabkan kerugian yang signifikan bagi petani, baik dalam hal produksi maupun ekonomi. Oleh karena itu, penting bagi petani untuk menggunakan cara pengendalian yang efektif guna melindungi tanaman padi mereka.

Mengenal Serangga Hama Penggerek Batang Padi Dan Varietas Tahan

Mengenal hama padi yang paling merusak tanaman padi adalah larva penggerek batang. Serangga ini menyerang batang padi pada fase larva dan dapat menyebabkan kerugian yang signifikan bagi petani. Namun, tidak perlu khawatir, ada varietas padi yang tahan terhadap hama ini. Varietas tahan seperti IR64 dan Ciherang dapat mengurangi serangan hama penggerek batang dan meningkatkan hasil panen.

Kenali Hama Penggerek Batang Padi

Saat berbicara tentang tanaman padi, serangga penggerek batang adalah ancaman besar yang harus dihadapi. Tidak hanya merusak batang tanaman, serangga ini juga dapat menghancurkan hasil panen Anda. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk mengenali serangga hama ini agar dapat mengambil langkah-langkah yang tepat guna melindungi tanaman padi Anda.

Baca Juga: Begini Cara Mengendalikan Sundep pada Padi

Serangga Hama Yang Merusak Tanaman Padi

Para petani padi harus siap menghadapi serangga hama yang dapat merusak tanaman padi mereka. Serangga-serangga ini dapat mengurangi hasil panen dan mengancam ketahanan pangan masyarakat. Salah satu serangga hama yang paling merusak adalah serangga penggerek batang padi. Serangga ini menyerang batang tanaman, merusak jaringan pembuluh tanaman, dan menghancurkan kemampuan tanaman dalam menyerap nutrisi dan air.

Terdapat beberapa jenis penggerek batang padi yang telah ditemukan, yaitu:

  • Penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas)

  • Penggerek batang padi putih (Scirpophaga innotata)

  • Penggerek batang padi bergaris (Chilo suppressalis)

  • Penggerek batang padi kepala hitam (Chilo polychrysus)

  • Penggerek batang padi merah jambu (Sesamia inferens)

Penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas) merupakan spesies yang paling dominan ditemukan di Indonesia. Penggerek batang padi kuning termasuk dalam ordo Lepidoptera dan famili Pyrilidae.

Hama penggerek batang padi dapat menyerang semua fase pertumbuhan tanaman padi, dari fase vegetatif hingga generatif. Gejala kerusakan tanaman padi oleh penggerek batang padi menyebabkan gejala sundep dan beluk. Gejala sundep dan beluk disebabkan karena matinya bagian pangkal tanaman yang digerek atau dimakan oleh larva penggerak batang padi.

Varietas Padi Yang Tahan Terhadap Hama Penggerek Batang

Varietas padi yang tahan terhadap hama penggerek batang merupakan pilihan yang tepat untuk mengatasi masalah serangga pengganggu ini. Dengan memilih varietas yang tahan, Anda dapat mengurangi risiko kerusakan pada tanaman padi dan meningkatkan hasil panen Anda.

Beberapa varietas padi yang telah terbukti tahan terhadap serangan hama penggerek batang adalah varietas A, B, dan C. Varietas A memiliki daya tahan yang kuat dan menghasilkan hasil panen yang tinggi.

Pencegahan Dan Manajemen Hama Penggerek Batang Padi

Pentingnya pencegahan hama dan perlindungan tanaman padi tidak dapat diabaikan. Hama penggerek batang padi dapat menyebabkan kerugian yang signifikan pada hasil panen. Oleh karena itu, penting untuk menjalankan praktik pencegahan yang efektif, seperti pemangkasan tanaman yang terinfeksi dan penggunaan insektisida yang sesuai.

Pencegahan Hama Penggerek Batang Padi

Setelah mempelajari serangga penggerek batang padi yang merusak, sekarang saatnya kita mulai mengambil tindakan pencegahan yang tepat untuk melindungi tanaman padi kita. Pencegahan hama penggerek batang padi sangat penting agar kita bisa mencegah kerugian yang disebabkan oleh serangga ini.

Salah satu tindakan pencegahan yang dapat kita lakukan adalah penggunaan varietas padi tahan terhadap hama penggerek batang. Dalam budidaya padi, penting untuk memilih varietas yang memiliki resistensi terhadap serangan hama ini.

Perlindungan Tanaman Padi Dari Hama Penggerek Batang

Perlindungan tanaman padi dari serangan hama penggerek batang bukanlah tugas yang mudah. Namun, dengan adanya pengetahuan yang tepat dan tindakan yang efektif, Anda dapat melindungi tanaman padi Anda dengan sukses. Salah satu langkah pencegahan yang penting adalah menjaga kebersihan lahan pertanian, termasuk membuang sisa-sisa tanaman yang terinfestasi atau terkena serangan hama penggerek batang.

 

Metode Pengendalian Hama: Biologis, Mekanis, Kimiawi, Dan Fisik

Pengendalian biologis adalah salah satu metode yang berfokus pada penggunaan organisme hidup untuk mengendalikan hama. Metode ini melibatkan pengenalan predator alami atau parasitoid yang dapat membantu mengurangi populasi serangga hama. Selain itu, pengendalian mekanis juga dapat digunakan untuk membatasi perkembangan larva penggerek batang. Metode ini meliputi penggunaan perangkap, pengendalian suhu, dan penggunaan bahan penghalang fisik.

Pengendalian Biologis Hama Penggerek Batang Padi

Pengendalian biologis adalah metode pengendalian hama yang menggunakan organisme hidup sebagai agen pengendali. Metode ini umumnya lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan dibandingkan dengan penggunaan pestisida kimia. Untuk mengendalikan hama penggerek batang padi, beberapa organisme seperti parasitoid, predator, dan patogen telah terbukti efektif.

Salah satu contoh pengendalian biologis yang efektif adalah penggunaan parasitoid Trichogramma.

Pengendalian Mekanis Hama Penggerek Batang Padi

Dalam upaya pengendalian mekanis hama penggerek batang padi, terdapat beberapa langkah yang dapat kita lakukan. Salah satunya adalah dengan menggunakan perangkap feromon. Perangkap ini dirancang untuk menarik serangga jantan penggerek batang padi dengan menggunakan senyawa kimia yang meniru feromon betina. Dengan demikian, serangga jantan akan tertarik dan terperangkap di dalamnya, sehingga populasi serangga dapat dikendalikan dengan efektif.

Pengendalian Kimiawi Dan Fisik Hama Penggerek Batang Padi

Pengendalian kimiawi dan fisik merupakan metode yang efektif dalam mengatasi serangan hama penggerek batang padi. Penggunaan insektisida dapat memberikan perlindungan yang cepat dan efisien terhadap serangan hama ini. Insektisida yang direkomendasikan untuk hama penggerek batang padi adalah carbaryl dan diflubenzuron.

Pengendalian Penggerek Batang Padi Secara Kimiawi Versi Saprotan Utama

Pengendalian dengan insektisida segera dilakukan, jika > 10 % rumpun padi memperlihatkan gejala sundep atau beluk. Atau penggunaan insektisida dapat dilakukan pada saat setelah ada penerbangan ngengat atau intensitas serangan sundep rata-rata > 5 %.

Penggunaan insektisida butiran di persemaian dilakukan jika sekitar pertanaman ada lahan yang sedang atau menjelang panen pada satu hari sebelum tanam.

  • Aplikasi setelah selesai panen dengan dosis 2 kg/ha dan 10 kg/ha saat pemupukan pertama.

  • Langkah preventif serangan rendah penggerek dengan menggunakan saat 10-20 HST dengan konsentrasi 1.5 ml/l

  • Langkah kuratif menggunakan / dengan konsentrasi 1.5 ml/l.

Biopestisida: Solusi Ramah Lingkungan Dalam Pengendalian Hama

Anda pasti ingin memberikan perlindungan terbaik bagi tanaman Anda, bukan? Maka, saatnya beralih ke penggunaan biopestisida sebagai solusi pengendalian hama yang ramah lingkungan. Biopestisida menggunakan bahan-bahan alami seperti bakteri, virus, jamur, dan ekstrak tumbuhan untuk mengendalikan serangga hama tanpa merusak lingkungan.

Perangkap Hama Dan Alat Semprot Pestisida: Upaya Maksimal Dalam Pengendalian Hama

Perangkap hama dan alat semprot pestisida merupakan upaya maksimal yang dapat dilakukan dalam pengendalian hama. Perangkap hama dapat digunakan untuk menarik serangga hama agar tertarik dan terjebak di dalamnya. Berbagai jenis perangkap hama dapat digunakan, seperti perangkap cahaya, perangkap feromon, dan perangkap kisi-kisi. Selain itu, alat semprot pestisida juga sangat efektif untuk mengendalikan populasi serangga hama yang sudah menyebar luas.

Kesimpulan

Dalam mengatasi serangga penggerek batang padi, penting bagi kita untuk mengambil tindakan yang tepat dan efektif. Salah satu langkah yang dapat kita ambil adalah dengan menggunakan metode pengendalian yang ramah lingkungan. Menggunakan pendekatan ekologi dan pertanian organik dapat menjadi solusi yang baik dalam mengendalikan hama ini.

 

Cara Mengatasi Hama dan Penyakit Tanaman Pada Family Cucurbitaceae

Cara Mengatasi Hama dan Penyakit Tanaman Pada Family Cucurbitaceae

 

Tanaman family Cucurbitaceae adalah salah satu jenis tanaman yang sering dijumpai di berbagai wilayah. Terkenal dengan kesegarannya, tanaman ini memiliki berbagai manfaat bagi kehidupan manusia. Namun, tanaman pada famili ini sering mendapat gangguan hama yang dapat menghambat pertumbuhannya.

Untuk mengatasi masalah serangan hama pada tanaman family Cucurbitaceae, diperlukan strategi yang tepat. Pengendalian hama berbasis biologi adalah salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengurangi efek dari hama. Metode ini menggunakan organisme lain untuk menghancurkan hama dan membantu tanaman untuk tumbuh dengan sehat.

Tinjauan Tentang Tanaman Family Cucurbitaceae

Tanaman Family Cucurbitaceae adalah salah satu jenis tanaman yang berkembang biak dengan baik di wilayah tropis dan subtropis. Tanaman ini memiliki banyak jenis, termasuk labu-labuan, terong, semangka, dan melon. Habitat mereka beragam, tergantung pada jenisnya.

Jenis Tanaman

Sebagian besar tanaman family Cucurbitaceae termasuk tanaman-tanaman liar yang tumbuh di banyak wilayah di seluruh dunia. Mereka dapat ditemukan di dataran rendah, dataran tinggi, lembah, hutan, ladang dan rumah-rumah di sekitar pinggiran kota. Tanaman family Cucurbitaceae termasuk jenis-jenis tanaman seperti labu, melon, labu air, kabocha, buncis, dan terong. Tanaman ini memiliki akar yang berukuran kecil, dengan daun yang berbentuk bulat dan lebar.

Habitat

Keluarga Cucurbitaceae adalah salah satu keluarga tanaman yang paling umum di dunia. Mereka tumbuh di berbagai habitat, dari padang rumput hingga hutan tropis, di seluruh dunia. Habitat tanaman cucurbitaceae bervariasi sesuai dengan jenisnya. Beberapa spesies tumbuh di padang rumput di dataran tinggi, beberapa di daerah yang lebih kering, dan beberapa lainnya di daerah pantai. Beberapa jenis dapat tumbuh di lahan kering dan lembab, sementara yang lain lebih suka tempat yang lebih basah.

Hara Yang Paling Dibutuhkan

Setelah itu, mari kita lihat apa diet tanaman family cucurbitaceae. Tanaman family cucurbitaceae adalah tanaman berbunga yang berasal dari keluarga Cucurbitaceae dan berhabitat di sebagian besar wilayah tropis. Diet mereka yang utama meliputi air, makanan mineral, dan karbon yang berasal dari fotosintesis. Mereka juga dapat memperoleh nutrisi lain yang dibutuhkan dari tanah mereka dengan menggunakan akar yang panjang. Tanaman cucurbitaceae membutuhkan kandungan nitrogen dan kalium yang tinggi dalam tanah untuk tumbuh dengan baik.

Hama Yang Menyerang Tanaman Family Cucurbitaceae

Keluarga tanaman Cucurbitaceae diserang oleh berbagai macam hama. Hama utama yang menyerang tanaman family cucurbitaceae adalah serangga kecil seperti belalang, hama berbunga, lalat tanah, dan tungau. Penyakit seperti virus, jamur, dan bakteri juga dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman.

Hama Serangga

Dengan banyaknya tanaman yang termasuk dalam famili Cucurbitaceae, tentu saja mereka juga rentan terhadap hama serangga. Hama utama yang menyerang tanaman family cucurbitaceae adalah ulat grayak, tungau laba-laba, tungau tanah, kutu daun, dan kutu bunga. Ulat grayak adalah hama yang paling umum ditemukan dalam tanaman famili Cucurbitaceae. Mereka menyerang bagian daun, batang, dan buah tanaman. Tungau laba-laba adalah hama lain yang juga menyerang tanaman ini. Mereka menghisap cairan sel dan dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman.

Penyakit dan Cara Pengendalian

Kita bisa mengidentifikasi beberapa penyakit yang menyerang tanaman yang termasuk family Cucurbitaceae. Salah satunya adalah penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme, seperti jamur, bakteri, dan virus. Penyakit ini bisa menyebabkan munculnya gejala seperti layu, busuk, atau lesi pada daun.

Beberapa jenis penyakit yang paling umum dari tanaman family Cucurbitaceae adalah Cucumber Mosaic Virus, Powdery Mildew (embun tepung), Downy Mildew (embun bulu), dan Anthracnose.

Pengendalian hama berbasis kimia adalah metode yang paling umum digunakan untuk mengatasi hama. Ini melibatkan penggunaan pestisida untuk membunuh hama jahat dan mencegah mereka dari menyerang tanaman.

Pengendalian dengan menggunakan fungisida baik kontak maupun sistemik. Cara kerja fungisida sistemik ini diserap oleh tanaman dan bergerak melalui jaringan tanaman untuk memberikan perlindungan dari dalam. Contoh bahan aktif yang digunakan dalam fungisida sistemik termasuk metalaksil, dimetomorf, dan fluksapoksad.

Jika dikendalikan dengan fungisida kontak, fungisida ini harus langsung mengenai jamur atau spora penyebab penyakit untuk memberikan efek pengendalian. Contoh bahan aktif yang digunakan dalam fungisida kontak termasuk mankozeb dan klorotalonil.

Embun Tepung (powdery mildew)

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Oidium sp atau Erysiphe cichoracearum yang menyerang bagian daun dan batang dengan gejala: daun dan batang muda dilapisi semacam tepung (powder) berwarna putih, buah yang terserang berukuran kecil dan rasanya tidak manis.

Pengendalian : membuat sirkulasi udara lancar dan mengurangi kelembaban disekitar tanaman, monitoring secara rutin terhadap tanaman secara rutin, sehingga dapat diketahui lebih awal, penyemprotan fungisida Calixi 750 EC atau Afugan 300 EC dengan konsentrasi 1ml/l dilakukan 5-7 hari sekali pada musim hujan dan 10-14 hari pada saat kemarau.

Embun Bulu ( downy mildew)

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Pseudoperonospora cubensis yang menyerang pada daun dengan gejala : terlihat bulu-bulu halus berwarna abu-abu di bagian bawah bercak (permukaan bawah daun), timbul bercak-bercak kuning pada daun, lalu berubah menjadi ciklat kemerahan, buah yang terbentuk abnormal, berukuran kecil, rasa hambar dan aromanya tidak ada.

Pengendalian: memotong daun-daub yang terserang cendawan dan memusnahkannya, penyemprotan dengan fungisida sistemik Previcur N dengan konsentrasi 2-3 ml/l, atau yang berbahan aktif simoksanil stau mancozeb, menghindari pengariran yang berlebih, melancarkan sirkulasi udara dan pengendalian gulma.

Antraknosa

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Colletotrichum sp, yang menyerang bagian daun, batang muda, bunga dan buah dengan gejala: timbul bercak-bercak coklat kelabu sampai kehitaman yang kemudian menyatu pada bagian tanaman. Cendawan juga dapat membentuk massa spora berwarna merah jambu pada bercak coklat yang terbentuk.

Pengendalian: perendaman benih dengan fungisida berbahan aktif azoksisitrobin 250 g/l, propinep 70 % atau derasol 5 C (1ml/l) selama 4 jam, pemangkasan bagian tanaman yang terserang dan memusnahkannya, pengaturan jarak tanam yang tepat (tidak terlalu rapat), penyemprotan dengan fungisida Derasol 60 WP dicampur Dhithane (1:5) konsentrasi 2,5 g/l, dilakukan 7-14 hari sekali.

Insektisida Untuk Mengendalikan Hama

Insektisida untuk mengendalikan hama pada tanaman family cucurbitaceae dapat berupa insektisida nabati, sintetis, atau campuran keduanya. Cara Aplikasi insektisida harus sesuai dengan petunjuk manufaktur dan manfaat insektisida harus dipertimbangkan.

Insektisida Nabati

Untuk mengendalikan hama pada tanaman family cucurbitaceae, insektisida adalah salah satu metode yang efektif. Insektisida nabati adalah jenis insektisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama pada tanaman ini. Insektisida nabati terbuat dari bahan-bahan alami dan biasanya tidak berbahaya bagi tumbuhan dan manusia. Beberapa jenis insektisida nabati yang efektif untuk mengendalikan hama pada tanaman family cucurbitaceae adalah seperti neem oil, tobacco, dan pyrethrin.

Insektisida Sintetis

Insektisida sintetis merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengendalikan hama tanaman cucurbitaceae. Insektisida ini mengandung zat-zat kimia yang membunuh hama secara cepat dan efektif. Insektisida sintetis dapat diterapkan dengan cara menyemprot atau menyiram tanaman yang terkena hama. Selain itu, insektisida sintetis juga dapat dicampur dalam pupuk dan diberikan melalui sistem penyiraman.

Cara Aplikasi Insektisida

Untuk mengendalikan hama pada tanaman family cucurbitaceae, insektisida adalah salah satu solusinya. Terdapat dua jenis insektisida yaitu insektisida nabati dan sintetis. Cara Aplikasi Insektisida yang tepat dapat membantu mencegah menyebarnya hama. Pemupukan insektisida harus dilakukan dengan cermat dan benar agar hama tidak menyebar dan menyerang tanaman.

Insektisida nabati dapat diberikan dengan cara disemprotkan pada tanaman dan tanah sekitar tanaman. Disarankan untuk menyemprotkan insektisida nabati secara rutin setiap seminggu sekali.

Metode Pengendalian Hama Alami

Penghambat hama, roti bakar, perangkap serangga, pemangkasan dan penghilangan rumput, dan pengendalian dengan pengaturan habitat adalah metode-metode yang terkenal untuk pengendalian hama alami. Penghambat hama adalah bahan kimia yang dikeluarkan oleh tumbuhan, seperti tanaman family Cucurbitaceae, untuk mengendalikan serangga.

Penghambat Hama

Kita semua tahu bahwa tanaman famili cucurbitaceae rentan terhadap hama. Namun, ada berbagai cara alami yang dapat digunakan untuk mengendalikannya. Salah satu metode pengendalian hama alami yang paling efektif adalah dengan menggunakan penghambat hama. Penghambat hama dapat mengurangi populasi hama dengan memodifikasi tingkah laku hama atau dengan cara lain. Ini dapat dilakukan dengan menyediakan makanan alternatif, mengatur habitat, menggunakan roti bakar, dan menggunakan perangkap serangga.

Rotasi Tanaman

Sebuah teknik lain yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama secara alami adalah dengan menggunakan rotasi tanaman. Prinsipnya adalah dengan memindahkan tanaman family cucurbitaceae ke lokasi lain dalam jangka waktu tertentu. Hal ini akan membuat hama yang berbeda terpapar dengan tanaman family cucurbitaceae sehingga dapat mengendalikan populasi hama.

Perangkap Serangga

Untuk memastikan perkembangan tanaman family cucurbitaceae yang optimal, pengendalian hama yang alami adalah cara yang efektif. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah menggunakan perangkap serangga. Perangkap serangga adalah alat yang digunakan untuk memancing serangga dengan menggunakan bahan tertentu, seperti makanan, bunga, dan pewangi. Perangkap serangga dapat digunakan untuk mengendalikan hama tanaman family cucurbitaceae, seperti kumbang, tikus, dan lalat.

Perangkap serangga yang paling efektif adalah yang dibuat dari bahan-bahan alami.

Strategi Pengendalian Hama Yang Efektif

Strategi Pengendalian Hama yang Efektif mencakup beberapa cara yang harus dilakukan secara bersamaan untuk mencapai hasil yang optimal. Penyemprotan berkala adalah salah satu cara yang paling efektif untuk mengatasi hama dan dapat dilakukan langsung terhadap tanaman atau lingkungannya.

Penyemprotan Berkala

Penyemprotan berkala adalah salah satu strategi pengendalian hama yang efektif. Metode ini mengandalkan penggunaan obat-obatan (insektisida) secara teratur untuk mengurangi populasi hama. Penyemprotan berkala juga dapat membantu mengendalikan hama berikutnya yang muncul karena populasi hama yang berlebihan. Dengan menggunakan insektisida, para petani dapat membunuh hama sebelum mereka dapat memperbanyak diri. Penyemprotan berkala juga mengurangi kemungkinan infeksi hama baru yang dibawa oleh hama lokal.

Perawatan Berkala

“Mudah-mudahan”, kita sekarang telah memahami perspektif tentang Metode Pengendalian Hama Alami. Melanjutkan topik tersebut, strategi pengendalian hama yang efektif mencakup beberapa metode, salah satunya adalah Perawatan Berkala.

Perawatan berkala melibatkan pemotongan rumput, penyiangan tanaman, dan pemangkasan tanaman yang teratur. Hal ini penting untuk mengurangi kelembaban di sekitar tanaman dan membuat lingkungan yang tidak cocok bagi hama.

Pemantauan Hama

Re-energize your hama prevention efforts dengan mengadopsi pemantauan hama reguler. Melalui metode ini, Anda dapat mengidentifikasi masalah sebelum mereka berkembang menjadi ancaman yang lebih serius. Dengan melakukan inspeksi hama secara rutin, Anda dapat memastikan bahwa solusi pengendalian yang dipilih cocok dengan kebutuhan.

Inspeksi hama melibatkan melakukan penelitian dan pemeriksaan di sekitar lokasi dan memperhatikan tanda-tanda keberadaan hama.

Kesimpulan

Penanggulangan hama yang efektif untuk tanaman family Cucurbitaceae adalah menggabungkan metode pengendalian hama alami dan teknik insektisida. Insektisida dapat digunakan untuk mengendalikan populasi hama yang besar, sementara metode alami dapat digunakan untuk mengendalikan populasi hama yang kecil.

Strategi pengendalian hama yang tepat dapat membantu meningkatkan hasil produksi tanaman dan kualitas produk. Dengan demikian, penting bagi petani untuk memahami hama yang menyerang tanaman family Cucurbitaceae dan strategi pengendalian yang tepat untuk mengoptimalkan hasil produksi.

 

Begini Cara Mengendalikan Sundep pada Padi

Begini Cara Mengendalikan Sundep pada Padi

Sundep atau penyakit daun bercak merah pada padi merupakan salah satu masalah yang sering dihadapi oleh petani padi di berbagai daerah. Sundep dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan karena dapat mengurangi hasil panen padi. Oleh karena itu, penting bagi petani padi untuk mengenal dan mengendalikan sundep secara efektif untuk memastikan keberhasilan panen mereka.

Baca Juga: Mungkinkah Inilah Rahasia Panen Padi Melimpah? Temukan Dosis Optimal Fungisida Filia 525 SE Untuk Tanaman Padi Anda

Gambar Penyakit Sundep pada Padi

Faktor Penyebab Sundep pada Padi

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya sundep pada padi, di antaranya:

  • Kelembaban tinggi
  • Penyebaran penyakit oleh hama atau serangga
  • Penggunaan varietas padi yang rentan terhadap penyakit sundep
  • Praktik pengelolaan lahan yang buruk
  • Kualitas benih yang tidak baik

Cara Mengendalikan Sundep pada Padi

Untuk mengendalikan sundep pada padi, diperlukan pendekatan yang terintegrasi dan berbasis pada prinsip pengendalian hayati, budaya, kimia, dan pengelolaan nutrisi.

Berikut adalah beberapa langkah pengendalian hama sundep / beluk yang dapat diambil:

  1. Pengamatan dan Identifikasi Hama – Penting untuk melakukan pengamatan secara rutin terhadap tanaman padi guna mengidentifikasi adanya serangan hama sundep / beluk. Petani perlu memahami ciri-ciri serangan hama ini, seperti adanya lubang di batang padi, serbuk gergaji, serta kotoran hama yang terlihat sebagai tanda-tanda serangan sundep / beluk. Dengan mengenali hama ini secara dini, petani dapat mengambil tindakan pengendalian yang tepat.
  2. Pengendalian Mekanik – Salah satu cara pengendalian hama sundep / beluk yang efektif adalah dengan pengendalian mekanik. Petani dapat melakukan pemotongan dan penghancuran bagian batang yang terinfeksi hama ini. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan pisau atau alat tajam lainnya untuk menghilangkan larva hama yang berada di dalam batang padi. Bagian yang terinfeksi harus segera dibuang dan dimusnahkan untuk mencegah penyebaran hama ke tanaman lainnya.
  3. Penggunaan Pestisida Nabati – Pestisida nabati dapat menjadi alternatif pengendalian hama sundep / beluk yang ramah lingkungan. Beberapa jenis pestisida nabati yang dapat digunakan antara lain adalah ekstrak daun mimba, ekstrak bawang putih, atau ekstrak daun pepaya. Pestisida nabati ini dapat digunakan dengan cara penyemprotan pada tanaman padi yang terinfeksi hama sundep / beluk. Namun, perlu diingat untuk mengikuti dosis yang dianjurkan dan menggunakan pestisida nabati yang telah terdaftar dan diizinkan oleh otoritas yang berwenang.
  4. Penggunaan Varietas Tahan Hama – Pilihan varietas padi yang tahan terhadap serangan hama sundep / beluk juga dapat menjadi langkah pengendalian yang efektif. Beberapa varietas padi telah dikembangkan dengan ketahanan terhadap hama ini, dan petani dapat memilih varietas padi yang sesuai dengan kondisi dan lingkungan pertanian mereka. Penggunaan varietas tahan hama dapat mengurangi risiko serangan hama sundep / beluk dan meminimalkan penggunaan pestisida kimia.
  5. Kebersihan Lahan dan Pengelolaan Tanaman – Mengelola lahan secara bersih dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar tanaman padi juga penting dalam pengendalian hama sundep / beluk. Petani perlu menjaga kebersihan lahan dari gulma dan sisa-sisa tanaman yang dapat menjadi tempat persembunyian hama sundep / beluk. Selain itu, pengelolaan tanaman padi yang baik, seperti pemupukan yang seimbang dan penyiraman yang cukup, juga dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama sundep / beluk.
  6. Pengendalian Hayati – Penggunaan agen pengendalian hayati, seperti predator atau parasitoid alami, juga dapat menjadi alternatif pengendalian hama sundep / beluk. Beberapa jenis serangga seperti kepik, laba-laba, atau parasitoid seperti Trichogramma sp. dapat digunakan untuk mengendalikan populasi hama sundep / beluk secara alami. Pengendalian hayati ini merupakan metode yang ramah lingkungan dan dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia.
  7. Rotasi Tanaman – Rotasi tanaman adalah langkah pengendalian hama sundep / beluk yang dapat dilakukan dengan cara mengganti jenis tanaman padi pada suatu lahan dengan tanaman non-padi atau tanaman yang tidak menjadi inang hama tersebut. Hal ini dapat mengganggu siklus hidup hama sundep / beluk dan mengurangi risiko serangan pada tanaman padi.

Demikianlah beberapa langkah pengendalian hama sundep / beluk (penggerek batang padi) yang dapat diambil oleh petani. Kombinasi dari beberapa metode pengendalian yang sesuai dengan kondisi pertanian dapat membantu mengurangi kerugian akibat serangan hama sundep / beluk dan menjaga keberlanjutan produksi padi yang sehat.

Mungkinkah Inilah Rahasia Panen Padi Melimpah? Temukan Dosis Optimal Fungisida Filia 525 SE Untuk Tanaman Padi Anda

Mungkinkah Inilah Rahasia Panen Padi Melimpah? Temukan Dosis Optimal Fungisida Filia 525 SE Untuk Tanaman Padi Anda

Fungisida Filia 525 SE adalah salah satu jenis fungisida generasi terbaru yang digunakan untuk mengendalikan penyakit Blas (Pyricularia Oryzae) pada tanaman padi. Fungisida ini mengandung dua bahan aktif pilihan yaitu Propikonazol dan Trisiklazol yang diformulasikan secara akurat untuk memastikan daya kerja optimal dalam mengendalikan jamur padi.

Baca Juga: Waktu yang Tepat Penyemprotan Fungisida Score pada Tanaman Padi

Fungisida Filia juga ampuh dalam mengendalikan jamur seperti Jamur Ustilago, Hawar Pelepah, (dirty Panicle) Pada Bulir dan membuat batang padi menjadi lebih kuat, penampilan daun dan tanaman padi tampak lebih hijau serta mampu memberikan peningkatan hasil panen yang signifikan. Selain itu, fungisida Filia juga mudah diaplikasikan, ekonomis dan hemat.

Namun, masih banyak petani yang salah kaprah dalam menentukan dosis fungisida Filia untuk padi. Kekurangpahaman tersebut selain membuat daya kerja fungisida Filia menjadi tidak optimal, juga dapat menambah beban biaya perawatan padi menjadi lebih mahal. Oleh karena itu, penting bagi petani untuk dapat menentukan dosis yang tepat agar penggunaan fungisida Filia menjadi optimal dalam mengendalikan penyakit Blas pada tanaman padi.

Dosis Penggunaan Fungisida Filia

Menurut PT Syngenta, produsen fungisida Filia, dosis yang tepat untuk mengendalikan penyakit Blas pada tanaman padi adalah 1-1,5 ml/liter air. Dalam penyemprotan volume tinggi, dosis Filia untuk padi dapat dinaikkan menjadi 1,5 ml/liter air. Sebagai contoh, untuk menggunakan tengki berukuran 14 liter, dosis Filia per tengki untuk penyemprotan volume normal adalah 14 ml cairan fungisida Filia. Sedangkan, untuk penyemprotan volume tinggi, dosis Filia per tengki adalah 21 ml.

Penggunaan dosis yang tepat sangat penting dalam mengendalikan penyakit Blas pada tanaman padi. Jika dosis kurang dari yang dianjurkan, fungisida Filia tidak akan efektif dalam mengendalikan penyakit Blas. Sebaliknya, jika dosis terlalu banyak, akan mempengaruhi kualitas dan pertumbuhan tanaman padi serta menambah biaya perawatan padi menjadi lebih mahal.

Waktu Penggunaan Fungisida Filia

Penggunaan fungisida Filia untuk padi sebaiknya dilakukan ketika tanaman berumur 20, 30, 40 dan 60 hari setelah tanam. Hal ini bertujuan untuk memastikan efektivitas fungisida Filia dalam mengendalikan penyakit Blas pada tanaman padi. Selain itu, perlu diingat bahwa penggunaan fungisida harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi tanaman padi.

Secara keseluruhan, fungisida Filia 525 SE adalah salah satu fungisida terbaik untuk padi yang mudah diaplikasikan, ekonomis, hemat, dan efektif dalam mengendalikan penyakit Blas pada tanaman padi.

Penggunaan dosis yang tepat dan sesuai dengan petunjuk produsen juga dapat mengurangi risiko kerusakan pada tanaman akibat overdosis fungisida. Selain itu, penggunaan dosis yang tepat juga dapat menghemat biaya pengobatan tanaman padi, karena petani tidak akan membuang-buang fungisida yang tidak diperlukan.

Penting untuk diingat bahwa dosis yang dianjurkan oleh produsen hanya sebagai pedoman umum, dan petani harus mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti jenis tanah, kondisi cuaca, dan jenis varietas padi yang ditanam. Jika terjadi keraguan atau ketidakpastian mengenai dosis yang tepat, sebaiknya konsultasikan dengan ahli pertanian atau pihak produsen.

Selain menentukan dosis yang tepat, penggunaan fungisida Filia juga harus disertai dengan penggunaan teknik aplikasi yang benar. Sebelum menggunakan fungisida Filia, pastikan untuk membaca petunjuk penggunaan dan mengikuti langkah-langkah aplikasi yang dianjurkan oleh produsen.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengaplikasian fungisida Filia antara lain:

  1. Pastikan untuk memakai alat pelindung diri seperti masker dan sarung tangan saat mengaplikasikan fungisida Filia.
  2. Gunakan alat semprot yang bersih dan bekerja dengan baik untuk menghindari penyumbatan atau kerusakan pada alat semprot.
  3. Aplikasikan fungisida Filia pada pagi atau sore hari ketika sinar matahari tidak terlalu terik untuk menghindari pengaruh sinar UV pada fungisida.
  4. Jangan mengaplikasikan fungisida Filia pada saat hujan atau tanaman dalam kondisi lembab untuk menghindari pengenceran dan pengurangan efektivitas fungisida.
  5. Jangan mencampur fungisida Filia dengan bahan kimia lain tanpa rekomendasi dari produsen.

Dalam penggunaan fungisida Filia, selain menentukan dosis yang tepat dan menggunakan teknik aplikasi yang benar, petani juga perlu memperhatikan prinsip-prinsip pengendalian hama dan penyakit yang terintegrasi. Prinsip ini mencakup penggunaan varietas padi yang tahan terhadap penyakit, rotasi tanaman, sanitasi lingkungan, dan pengelolaan tanaman yang baik.

Dalam pengelolaan tanaman, petani perlu memperhatikan hal-hal seperti pemupukan yang tepat, pengaturan irigasi yang baik, dan pemeliharaan tanaman yang baik. Jika prinsip-prinsip ini diikuti dengan benar, penggunaan fungisida Filia dapat menjadi bagian dari strategi pengendalian hama dan penyakit yang terintegrasi untuk meningkatkan produksi dan kualitas padi.

Kesimpulan

Dalam kesimpulannya, penggunaan fungisida Filia 525 SE merupakan solusi yang efektif untuk mengendalikan penyakit Blas pada tanaman padi. Dengan mengikuti dosis yang tepat dan teknik aplikasi yang benar, penggunaan fungisida Filia dapat memberikan hasil yang optimal dan efektif

Waktu yang Tepat Penyemprotan Fungisida Score pada Tanaman Padi

Waktu yang Tepat Penyemprotan Fungisida Score pada Tanaman Padi

Ketika musim panen tiba, para petani di Indonesia akan berlomba-lomba untuk memperoleh hasil panen yang terbaik. Namun, dalam usaha tersebut, banyak faktor yang harus diperhatikan, salah satunya adalah perlindungan terhadap tanaman dari serangan hama dan penyakit.

Tanaman padi merupakan salah satu komoditas pangan penting di Indonesia. Namun, produksi padi seringkali terganggu oleh serangan hama dan penyakit, salah satunya adalah penyakit blas atau blast.

Penyakit ini dapat merusak daun dan batang padi, bahkan dapat menurunkan produksi hingga 50%. Untuk mencegah dan mengendalikan penyakit ini, petani sering menggunakan fungisida Score. Namun, penyemprotan fungisida Score yang tidak tepat waktu dapat mengakibatkan kerusakan tanaman dan berdampak pada hasil panen.

Oleh karena itu, artikel ini akan membahas waktu yang tepat untuk penyemprotan fungisida Score pada tanaman padi.

Baca Juga: Apa itu biostimulan: Apa Fungsinya Untuk Tanaman?

Apa itu Fungisida Score?

Score adalah salah satu jenis fungisida yang sering digunakan oleh para petani untuk melindungi tanaman padi dari serangan penyakit. Fungisida ini berbentuk cairan yang memiliki kandungan bahan aktif difenoconazole. Bahan aktif ini berfungsi untuk menghambat pertumbuhan jamur penyebab penyakit pada tanaman padi.

Kenapa Waktu Penyemprotan Fungisida Score Penting?

Waktu penyemprotan fungisida Score sangat penting untuk memastikan efektivitas dalam melindungi tanaman padi dari serangan penyakit. Jika penyemprotan dilakukan terlalu cepat atau terlambat, maka hasil yang diperoleh tidak akan maksimal. Selain itu, penggunaan fungisida yang berlebihan juga dapat menyebabkan resistensi pada jamur penyebab penyakit.

Kapan Waktu yang Tepat Untuk Penyemprotan Fungisida Score?

Waktu yang tepat untuk penyemprotan fungisida Score pada tanaman padi adalah pada saat tanaman padi berusia 14-21 hari setelah tanam. Pada saat usia tanaman ini, tanaman padi masih dalam fase pertumbuhan vegetatif dan belum memasuki fase pembentukan malai. Selain itu, pada usia tanaman ini, sistem pertahanan tanaman padi terhadap serangan penyakit masih lemah sehingga perlu dilakukan perlindungan dengan menggunakan fungisida.

Tanaman Padi

Bagaimana Cara Penyemprotan Fungisida Score yang Tepat?

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan penyemprotan fungisida Score. Pertama, pastikan cuaca sedang cerah dan tidak hujan saat melakukan penyemprotan. Hal ini dilakukan agar fungisida dapat menempel dengan baik pada tanaman padi.

Kedua, gunakan alat semprot yang tepat dan pastikan jumlah air dan konsentrasi fungisida yang digunakan sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Tidak disarankan untuk menggunakan dosis yang lebih tinggi dari yang dianjurkan karena dapat menyebabkan resistensi pada jamur penyebab penyakit.

Ketiga, pastikan penyemprotan dilakukan secara merata pada seluruh bagian tanaman padi, termasuk daun, batang, dan malai. Hal ini bertujuan agar fungisida dapat menjangkau seluruh bagian tanaman padi dan melindungi tanaman dari serangan penyakit.

Seberapa Sering Penyemprotan Fungisida Score Dilakukan?

Penyemprotan fungisida Score dilakukan dengan interval waktu yang teratur untuk memastikan perlindungan yang maksimal terhadap tanaman padi dari serangan penyakit. Interval waktu yang dianjurkan adalah 7-10 hari sekali.

Apa Saja Penyakit yang Dapat Dihilangkan dengan Fungisida Score?

Fungisida Score dapat digunakan untuk melindungi tanaman padi dari berbagai penyakit, di antaranya adalah blast, karat, dan bercak daun. Blast adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzae yang menyerang bagian pucuk dan malai tanaman padi. Karat adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur Puccinia spp. yang menyerang daun tanaman padi. Sedangkan bercak daun adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur Cercospora spp. yang menyerang daun tanaman padi.

Apakah Fungisida Score Berbahaya Bagi Kesehatan Manusia?

Score termasuk dalam kategori fungisida yang relatif aman untuk digunakan. Namun, seperti halnya dengan penggunaan pestisida atau bahan kimia lainnya, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan agar penggunaan fungisida Score tidak berbahaya bagi kesehatan manusia. Pertama, pastikan untuk menggunakan alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan, dan kacamata saat melakukan penyemprotan. Kedua, hindari menghirup uap atau debu yang dihasilkan selama penyemprotan.

Kesimpulan

Penyemprotan fungisida Score pada tanaman padi sangat penting untuk memastikan perlindungan terhadap tanaman dari serangan penyakit. Waktu yang tepat untuk penyemprotan adalah pada saat tanaman padi berusia 14-21 hari setelah tanam. Selain itu, perlu diperhatikan juga cara penyemprotan yang tepat, interval waktu penyemprotan yang teratur, serta penggunaan dosis yang sesuai dengan yang dianjurkan.

Dengan melakukan semua hal tersebut, diharapkan petani dapat memperoleh hasil panen yang maksimal dan menghindari kerugian akibat serangan penyakit.

Hama dan Cara Pengendalian Penyakit yang Sering Menyerang Tanaman Cabai

Hama dan Cara Pengendalian Penyakit yang Sering Menyerang Tanaman Cabai

Tanaman cabai merupakan salah satu jenis tanaman yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Selain mudah dalam perawatannya, cabai juga memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Namun, dalam proses budidaya cabai, seringkali petani dihadapkan dengan masalah hama dan penyakit yang dapat menyerang tanaman cabai.

Baca Juga: Cara Pengendalian Asem-aseman pada Tanaman Padi

Berikut ini adalah beberapa jenis hama yang sering menyerang tanaman cabai.

1. Hama Ulat Grayak

Ulat grayak pada tanaman cabai

Hama ulat grayak merupakan salah satu jenis hama yang sering menyerang tanaman cabai. Ulat grayak ini biasanya menyerang bagian daun dan buah cabai. Serangan ulat grayak dapat membuat daun cabai menjadi kering dan rusak. Untuk mengatasi serangan ulat grayak, petani dapat menggunakan insektisida khusus.

2. Hama Kepik Cabai

Kepik cabai pada tanaman cabai

Hama kepik cabai juga merupakan salah satu jenis hama yang sering menyerang tanaman cabai. Kepik cabai ini biasanya menyerang bagian daun dan buah cabai. Serangan kepik cabai dapat membuat daun cabai menjadi kering dan rusak. Untuk mengatasi serangan kepik cabai, petani dapat menggunakan insektisida khusus.

3. Hama Wereng Batang Coklat

Hama wereng batang coklat merupakan salah satu jenis hama yang menyerang batang dan daun tanaman cabai. Serangan wereng batang coklat dapat membuat daun cabai menguning dan mengering. Untuk mengatasi serangan wereng batang coklat, petani dapat menggunakan insektisida khusus.

4. Hama Tungro

Hama tungro merupakan salah satu jenis hama yang menyerang tanaman cabai dan dapat menyebabkan kerusakan yang cukup parah. Gejala serangan tungro pada cabai antara lain daun cabai menjadi kering, berwarna kuning, dan menggulung.

5. Hama Kutu Kebul

Kutu kebul pada tanaman cabai

Hama kutu kebul merupakan salah satu jenis hama yang menyerang bagian daun dan pucuk tanaman cabai. Serangan kutu kebul dapat menyebabkan daun cabai menguning dan mengering. Untuk mengatasi serangan kutu kebul, petani dapat menggunakan insektisida khusus.

6. Hama Belalang

Belalang pada tanaman cabai

Hama belalang merupakan salah satu jenis hama yang menyerang tanaman cabai. Belalang dapat merusak tanaman cabai dengan cara menggigit bagian daun dan batang. Serangan belalang dapat menyebabkan tanaman cabai menjadi layu dan mati. Untuk mengatasi serangan belalang, petani dapat menggunakan insektisida khusus.

7. Hama Penggorok Daun

Penggorok daun pada tanaman cabai

Hama penggorok daun merupakan salah satu jenis hama yang menyerang bagian daun tanaman cabai. Serangan penggorok daun dapat membuat daun cabai menjadi kering dan terlihat seperti digorok. Untuk mengatasi serangan penggorok daun, petani dapat menggunakan insektisida khusus.

8. Hama Penghisap Buah

Penghisap buah pada tanaman cabai

Hama penghisap buah merupakan salah satu jenis hama yang menyerang bagian buah tanaman cabai. Serangan penghisap buah dapat membuat buah cabai menjadi cacat dan tidak layak untuk dikonsumsi. Untuk mengatasi serangan penghisap buah, petani dapat menggunakan insektisida khusus.

9. Hama Kutu Daun

Kutu daun pada tanaman cabai

Hama kutu daun merupakan salah satu jenis hama yang menyerang bagian daun tanaman cabai. Serangan kutu daun dapat menyebabkan daun cabai menjadi keriting dan kering. Untuk mengatasi serangan kutu daun, petani dapat menggunakan insektisida khusus.

10. Hama Lalat Buah

Lalat buah pada tanaman cabai

Hama lalat buah merupakan salah satu jenis hama yang menyerang bagian buah tanaman cabai. Serangan lalat buah dapat membuat buah cabai menjadi busuk dan tidak layak untuk dikonsumsi. Untuk mengatasi serangan lalat buah, petani dapat menggunakan insektisida khusus.

Pengendalian Hama pada Tanaman Cabai

Untuk mengatasi serangan hama pada tanaman cabai, terdapat beberapa langkah yang bisa dilakukan. Langkah-langkah tersebut antara lain:

1. Pengendalian Hama dengan Pestisida

Pestisida untuk mengendalikan hama pada tanaman cabai

Pengendalian hama dengan pestisida merupakan langkah yang umum dilakukan oleh petani untuk mengatasi serangan hama pada tanaman cabai. Pestisida dapat berupa insektisida, fungisida, maupun herbisida yang dipilih sesuai dengan jenis hama yang menyerang.

Penggunaan pestisida harus dilakukan dengan hati-hati dan sesuai dosis yang dianjurkan agar tidak merusak tanaman dan lingkungan sekitar.

Bahan aktif dan merek pestisida yang dapat digunakan untuk pengendalian hama pada tanaman cabai antara lain:

  • Karbofuran – merek dagang Furadan, Curater, dan lain-lain
  • Diazinon – merek dagang Basudin, Dibrom, dan lain-lain
  • Temephos – merek dagang Abate, Temefos, dan lain-lain
  • Malathion – merek dagang Malathion, Carbofos, dan lain-lain
  • Imidakloprid – merek dagang Confidor, Provento, dan lain-lain.

Penting untuk selalu membaca label pestisida sebelum digunakan dan mengikuti petunjuk penggunaan yang disarankan. Selain itu, perlu diingat bahwa penggunaan pestisida harus dilakukan secara bijaksana dan sesuai dengan dosis yang dianjurkan agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

2. Penggunaan Varietas Tahan Hama

Varietas cabai tahan hama

Petani juga dapat memilih varietas tanaman cabai yang memiliki ketahanan terhadap serangan hama tertentu. Varietas cabai tahan hama dapat mengurangi risiko serangan hama pada tanaman cabai sehingga menghasilkan produksi yang lebih baik dan berkualitas.

3. Pemupukan yang Cukup

Pemupukan dengan pupuk organik

Tanaman cabai yang sehat dan subur memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap serangan hama. Oleh karena itu, petani perlu melakukan pemupukan yang cukup dan tepat. Pemupukan dapat dilakukan dengan pupuk organik atau pupuk kimia yang sesuai dengan kebutuhan tanaman cabai.

4. Sanitasi Lingkungan

cara untuk mengatasi serangan hama pada tanaman cabai.

Petani perlu menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan sekitar tanaman cabai. Lingkungan yang bersih dan sehat dapat mengurangi risiko serangan hama pada tanaman cabai.

Kesimpulan

Tanaman cabai rentan terhadap serangan hama yang dapat mengganggu produksi dan kualitas buahnya. Beberapa hama yang sering menyerang tanaman cabai antara lain kutu daun, wereng, ulat grayak, thrips, dan lalat buah. Untuk mengatasi serangan hama pada tanaman cabai, petani dapat melakukan pengendalian hama dengan pestisida, menggunakan varietas tahan hama, melakukan pemupukan yang cukup, serta menjaga sanitasi lingkungan sekitar tanaman cabai.

Dengan melakukan langkah-langkah tersebut, petani dapat mengurangi risiko serangan hama pada tanaman cabai dan meningkatkan produksi serta kualitas buah cabai yang dihasilkan.

9 Praktek Terbaik Yang Perlu Diketahui Untuk Memaksimalkan Efektifitas Aplikasi Pestisida

9 Praktek Terbaik Yang Perlu Diketahui Untuk Memaksimalkan Efektifitas Aplikasi Pestisida

Pestisida adalah bagian integral dari pertanian modern, membantu melindungi tanaman dari hama dan penyakit yang dapat secara signifikan mengurangi hasil panen. Namun, efektivitas aplikasi pestisida dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi cuaca, teknik aplikasi, dan pilihan pestisida.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Pestisida

Beberapa faktor mempengaruhi efektivitas aplikasi pestisida, termasuk:

  • Hama target: Hama yang berbeda membutuhkan pestisida dan metode aplikasi yang berbeda. Penting untuk mengidentifikasi hama target secara akurat dan menggunakan pestisida yang sesuai.
  • Formulasi pestisida: Pestisida tersedia dalam formulasi yang berbeda, seperti konsentrat emulsifiable, bubuk basah, dan granul. Setiap formulasi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan pilihan tergantung pada hama target, tanaman, dan metode aplikasi.
  • Metode aplikasi: Pestisida dapat diaplikasikan melalui berbagai metode, seperti penyemprotan, pengolesan, dan penggalian tanah. Pilihan metode aplikasi tergantung pada hama target, tahap hama, tahap tanaman, dan kondisi lingkungan.
  • Tingkat aplikasi: Jumlah pestisida yang diaplikasikan per satuan area memengaruhi efektivitasnya. Mengaplikasikan pestisida terlalu sedikit mungkin tidak mengendalikan hama target, sementara mengaplikasikan terlalu banyak dapat merusak tanaman dan lingkungan.
  • Waktu aplikasi: Waktu aplikasi pestisida sangat penting untuk mengendalikan hama target dengan efektif. Mengaplikasikan pestisida terlalu awal atau terlalu terlambat dapat mengurangi efektivitasnya.
  • Kondisi lingkungan: Kondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban, kecepatan angin, dan sinar matahari dapat mempengaruhi efektivitas pestisida. Penting untuk mempertimbangkan faktor-faktor ini saat mengaplikasikan pestisida.

9 praktek terbaik dan inovasi yang dapat memaksimalkan efektivitas aplikasi pestisida.

1. Memilih Pestisida yang Tepat

Langkah pertama dalam memaksimalkan efektivitas aplikasi pestisida adalah memilih pestisida yang tepat. Pestisida yang berbeda efektif terhadap hama dan penyakit yang berbeda, dan penting untuk memilih yang paling sesuai untuk situasi Anda. Penting juga untuk mempertimbangkan dampak lingkungan dari pestisida dan memilih yang aman untuk ekosistem.

2. Penyimpanan Pestisida yang Tepat

Penyimpanan pestisida yang tepat sangat penting untuk menjaga efektivitasnya. Pestisida harus disimpan di tempat yang sejuk dan kering, jauh dari sumber panas dan sinar matahari langsung. Mereka juga harus disimpan dalam wadah asli dengan label yang utuh untuk mencegah kebingungan dan penggunaan yang salah.

3. Kalibrasi Sprayer

Kalibrasi sprayer adalah proses penyesuaian sprayer untuk memberikan jumlah pestisida yang tepat per satuan area. Kalibrasi yang tepat memastikan bahwa jumlah pestisida yang tepat diterapkan, mengurangi limbah dan meningkatkan efektivitas. Kalibrasi harus dilakukan secara teratur, terutama ketika mengubah pestisida atau tingkat aplikasi.

4. Waktu Aplikasi

Waktu aplikasi pestisida sangat penting untuk efektivitasnya. Penting untuk mengaplikasikan pestisida pada waktu yang tepat, ketika hama atau penyakit paling rentan. Ini memerlukan pemantauan yang hati-hati terhadap tanaman dan pengawasan yang teratur terhadap hama dan penyakit.

5. Kondisi Cuaca

Kondisi cuaca dapat secara signifikan mempengaruhi efektivitas aplikasi pestisida. Angin kencang dapat menyebabkan drift, mengurangi jumlah pestisida yang mencapai area target. Hujan juga dapat mencuci pestisida, mengurangi efektivitasnya. Penting untuk mempertimbangkan kondisi cuaca saat merencanakan aplikasi pestisida.

6. Penggunaan Aditif

Aditif adalah zat yang ditambahkan ke pestisida untuk meningkatkan efektivitasnya. Mereka dapat membantu meningkatkan cakupan pestisida, meningkatkan penetrasi, dan mengurangi drift. Aditif harus dipilih dengan hati-hati, karena beberapa dapat mengurangi efektivitas pestisida.

7. Teknik Aplikasi

Ada berbagai teknik aplikasi untuk pestisida, termasuk penyemprotan, pengaburan, dan aplikasi granular. Pilihan teknik tergantung pada tanaman, hama atau penyakit, dan kondisi cuaca. Penting untuk memilih teknik yang paling sesuai untuk setiap situasi untuk memaksimalkan efektivitas.

8. Pengelolaan Hama Terpadu

Pengelolaan hama terpadu (IPM) adalah pendekatan holistik untuk pengelolaan hama yang menggabungkan berbagai metode kontrol, termasuk kontrol biologis, budaya, dan kimia. IPM dapat membantu mengurangi ketergantungan pada pestisida dan meningkatkan efektivitasnya dengan menggunakannya dalam kombinasi dengan metode kontrol lainnya.

9. Rotasi Pestisida

Rotasi pestisida adalah strategi yang melibatkan penggunaan pestisida yang berbeda untuk musim tanam.

Pengenalan Alat Aplikasi Pestisida di Perkebunan

Pengenalan Alat Aplikasi Pestisida di Perkebunan

Perkebunan merupakan salah satu aset penting di Indonesia, karena menjadi sumber penghasil devisa yang cukup besar. Namun, keberhasilan produksi perkebunan tidak lepas dari tantangan-tantangan seperti hama dan penyakit tanaman. Oleh karena itu, penggunaan pestisida menjadi sangat penting untuk mengendalikan hama dan penyakit tersebut.

Dalam artikel ini, kita akan membahas pengenalan alat aplikasi pestisida di perkebunan.

Pestisida

Pestisida

Pestisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan hama, penyakit, dan gulma pada tanaman. Pestisida dapat berupa insektisida, fungisida, herbisida, dan rodentisida. Penggunaan pestisida harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak lingkungan dan kesehatan manusia.

Alat Aplikasi Pestisida

Alat aplikasi pestisida adalah alat yang digunakan untuk menyemprotkan pestisida pada tanaman. Alat ini terdiri dari tangki, pompa, selang, dan nozzle. Tangki digunakan untuk menyimpan pestisida, pompa digunakan untuk menghasilkan tekanan, selang digunakan untuk mengalirkan pestisida, dan nozzle digunakan untuk menyemprotkan pestisida secara merata pada tanaman.

Jenis-Jenis Alat Aplikasi Pestisida

Terdapat beberapa jenis alat aplikasi pestisida, antara lain:

1. Hand Sprayer

Hand sprayer adalah alat aplikasi pestisida yang digunakan dengan cara memompa tangan untuk menghasilkan tekanan. Alat ini biasanya digunakan pada perkebunan yang luasnya tidak terlalu besar. Kelemahan dari hand sprayer adalah efektivitas dan efisiensi dalam mengaplikasikan pestisida kurang maksimal.

2. Power Sprayer

Power Sprayer

Power sprayer adalah alat aplikasi pestisida yang menggunakan mesin untuk menghasilkan tekanan. Alat ini lebih efektif dan efisien dalam mengaplikasikan pestisida dibandingkan hand sprayer. Power sprayer biasanya digunakan pada perkebunan yang luasnya lebih dari 1 hektar.

3. Boom Sprayer

Boom Sprayer

Boom sprayer adalah alat aplikasi pestisida yang menggunakan rangkaian pipa dan nozzle. Alat ini biasanya digunakan pada perkebunan yang sangat luas seperti perkebunan kelapa sawit. Boom sprayer dapat menyemprotkan pestisida secara merata pada tanaman yang berada di sekitar alat tersebut.

Cara Menggunakan Alat Aplikasi Pestisida

Berikut adalah cara menggunakan alat aplikasi pestisida:

1. Persiapan Alat

Pastikan alat aplikasi pestisida dalam keadaan bersih dan siap digunakan. Isi tangki dengan pestisida sesuai dengan dosis yang dianjurkan.

2. Persiapan Diri

Kenakan pakaian pelindung seperti baju tahan air, sarung tangan, dan masker. Jangan lupa untuk mencuci tangan setelah selesai menggunakan alat aplikasi pestisida.

3. Memulai Aplikasi

Mulai aplikasi dengan memompa tangan pada hand sprayer atau menghidupkan mesin pada power sprayer dan boom sprayer. Pastikan tekanan dalam keadaan stabil untuk menghasilkan semprotan yang merata pada tanaman.

4. Proses Aplikasi

Mulai menyemprotkan pestisida pada tanaman secara merata dan jangan sampai terkena kulit atau mata. Pastikan semprotan merata pada tanaman dan hindari semprotan terlalu dekat atau terlalu jauh dari tanaman.

5. Selesai Aplikasi

Setelah selesai melakukan aplikasi, matikan mesin atau lepaskan tekanan pada hand sprayer. Kosongkan sisa pestisida pada tangki dan jangan membuang sisa pestisida sembarangan.

Kesimpulan

Penggunaan pestisida merupakan hal yang penting dalam mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman perkebunan. Alat aplikasi pestisida sangat membantu dalam mengaplikasikan pestisida secara merata pada tanaman. Ada beberapa jenis alat aplikasi pestisida seperti hand sprayer, power sprayer, dan boom sprayer.

Dalam menggunakan alat aplikasi pestisida, pastikan untuk menggunakan alat dengan benar dan memperhatikan kesehatan dan lingkungan sekitar.

Pestisida Nabati untuk Pertanian Ramah Lingkungan

Pestisida Nabati untuk Pertanian Ramah Lingkungan

Pestisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk membunuh hama dan penyakit pada tanaman. Namun, penggunaan pestisida tersebut dapat berdampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.

Oleh karena itu, penggunaan pestisida nabati menjadi alternatif yang ramah lingkungan.

Pestisida Nabati Ramah Lingkungan

Apa Itu Pestisida Nabati?

Pestisida nabati adalah bahan kimia yang berasal dari tumbuhan, seperti daun, akar, bunga, dan buah-buahan, yang digunakan sebagai pestisida untuk membunuh hama dan penyakit pada tanaman. Pestisida nabati ini lebih ramah lingkungan karena tidak mengandung bahan kimia sintetis yang berbahaya bagi lingkungan dan manusia.

Keuntungan Menggunakan Pestisida Nabati

Menggunakan pestisida nabati memiliki beberapa keuntungan, di antaranya:

  • Lebih ramah lingkungan karena tidak mengandung bahan kimia sintetis yang berbahaya bagi lingkungan dan manusia.
  • Lebih aman untuk kesehatan manusia karena tidak mengandung bahan kimia sintetis yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan.
  • Lebih murah karena bahan baku yang digunakan mudah didapatkan dan tidak memerlukan proses produksi yang rumit.
  • Lebih efektif dalam membunuh hama dan penyakit pada tanaman karena memiliki kandungan zat aktif yang tinggi.
  • Dapat meningkatkan kualitas dan hasil produksi tanaman karena tidak meninggalkan residu kimia pada tanaman.

Jenis-jenis Pestisida Nabati

Berikut ini adalah beberapa jenis pestisida nabati yang sering digunakan:

  • Daun pepaya: mengandung enzim papain yang dapat membunuh hama pada tanaman, seperti ulat, kutu daun, dan belalang.
  • Daun mimba: mengandung zat azadirachtin yang dapat membunuh hama pada tanaman, seperti kutu daun, ulat, dan wereng.
  • Biji buah pinang: mengandung zat pinosilvin yang dapat membunuh hama pada tanaman, seperti ulat, kutu daun, dan belalang.
  • Akar temulawak: mengandung zat kurkuminoid yang dapat membunuh hama pada tanaman, seperti ulat, kutu daun, dan belalang.
  • Daun sirsak: mengandung zat annonacin yang dapat membunuh hama pada tanaman, seperti ulat, kutu daun, dan belalang.
Cara Membuat Pestisida Nabati

Cara Membuat Pestisida Nabati

Berikut ini adalah cara membuat pestisida nabati:

  1. Pilih bahan nabati yang akan digunakan sebagai pestisida, seperti daun pepaya, daun mimba, biji buah pinang, akar temulawak, atau daun sirsak.
  2. Cuci bersih bahan nabati yang dipilih.
  3. Haluskan bahan nabati dengan blender atau ulegan.
  4. Tambahkan air secukupnya dan aduk hingga merata.
  5. Saring campuran tersebut menggunakan kain atau saringan kopi.
  6. Tuang pestisida nabati ke dalam botol semprot.
  7. Semprotkan pestisida nabati ke seluruh bagian tanaman yang terkena hama atau penyakit.

Cara Menggunakan Pestisida Nabati dengan Benar

Agar penggunaan pestisida nabati lebih efektif, berikut adalah cara menggunakan pestisida nabati dengan benar:

  1. Pilih bahan nabati yang sesuai dengan jenis hama atau penyakit pada tanaman.
  2. Buat pestisida nabati dengan benar sesuai dengan cara membuat pestisida nabati yang sudah dijelaskan sebelumnya.
  3. Semprotkan pestisida nabati saat pagi atau sore hari, karena saat itu suhu udara lebih rendah dan hama lebih aktif.
  4. Semprotkan pestisida nabati pada seluruh bagian tanaman yang terkena hama atau penyakit.
  5. Ulangi penggunaan pestisida nabati setiap seminggu sekali hingga hama atau penyakit pada tanaman hilang.

Kesimpulan

Pestisida nabati adalah alternatif yang ramah lingkungan dalam membunuh hama dan penyakit pada tanaman. Selain lebih aman dan murah, penggunaan pestisida nabati juga dapat meningkatkan kualitas dan hasil produksi tanaman. Namun, agar penggunaan pestisida nabati lebih efektif, perlu dilakukan dengan cara yang benar dan sesuai dengan jenis hama atau penyakit pada tanaman.

Bagaimana Cara Mengatasi Asem-aseman Pada Tanaman Padi

Bagaimana Cara Mengatasi Asem-aseman Pada Tanaman Padi

Penyakit pada tanaman padi itu bisa ditimbulkan oleh beberapa sebab antara lain oleh jamur, bakteri, virus, dan atau karena keadaan tanah itu sendiri.

Sering kita temui jika pada tanaman padi yang baru beberapa saat ditanam, tapi tiba-tiba daun terlihat mulai menguning seperti terbakar (klorosis). Pertumbuhannya kerdil (tidak mau tumbuh). Akar tampak coklat kekuninganKeseluruhan daun berwarna coklat dan berujung kematian pada jaringan batang serta akarnya.

Inilah yang dinamakan tanaman padi terjangkit yang biasa petani menyebutnya “asem-aseman”.

Kenapa Tanaman Padi Terserang Aseman?

Serangan asem-aseman biasanya muncul hampir tiap tahun pada musim tanam II, yaitu antara bulan maret-april pada umur 2-4 minggu setelah tanam terutama musim kemarau (juga bisa dimusim hujan).

Kejadian seperti ini akan semakin banyak dijumpai pada lahan sawah yang kandungan c-organiknya rendah, ditambah kebiasaan petani yang sering menggenangi sawahnya dengan tujuan untuk menekan pertumbuhan gulma terutaman saat tanaman masih di usia muda.

Pada lahan dengan drainase yang buruk akan dipastikan sangat mudah terjangkiti asem-aseman ini.  Jika kondisi tersebut dibiarkan maka jelas akan mengurangi suplai dan proses pertukaran oksigen di dalam tanah.

Asem-aseman juga terjadi karena proses perombakan/pelapukan bahan organik sisa jerami oleh mikroorganisme di lahan tersebut yang belum selesai.

Gejala Tanaman Padi Terserang Asem-aseman

Tanaman padi yang terkena serangan asem-aseman ditemukan gejala kerdil (tidak mau tumbuh), akarnya tampak coklat kekuningan, dan daun berwarna kecoklatan dan berujung kematian.

Kondisi tersebut jangan dianggap kondisi tanaman kekurangan unsur hara N (nitrogen). Jangan pula ditambahlah pemakaian pupuk urea yang mana bukannya daun menjadi hijau kembali, tapi malah akan semakin memperparah kondisi.

Karena penambahan urea akan membuat terjadinya penurunan pH, tanah menjadi semakin asam, akhirnya tanaman keracunan FE dan NA juga bisa timbul senyawa berbahaya seperti asam sulfat (H2SO4). Apalagi jika tanaman masih muda, bisa tambah makin parah jika dibarengi adanya serangan sundep (penggerek batang).

Bagaimana Cara Mengatasi Padi Tanah Asem-aseman

Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi atau bisa mencegah terjadinya asem-aseman pada tanaman padi :

  • Perbaiki drainase lahan agar air segera dibuang air dan jangan dibiarkan terus menggenang. Atau bisa dibuat parit di sekeliling petakan lahan untuk memudahkan air terkumpul di pinggir.
  • Tunda waktu tanam sampai proses pelapukan sisa bahan organik selesai dengan sempurna, bisa tambahkan bahan pembedah tanah sebagai perombak berbahan mikroorganisme tangguh untuk mempercepat proses.
  • Jika memungkinkan tambahkan pupuk kompos/kohe yang sudah matang sempurna minimal 2 ton per hektar, agar ketersediaan hara tetap terjaga dan meningkatkan sediaan C-organik. sehingga memperbesar daya serap air dan meremajakan tanah, sekalian bisa mengurangi pemakaian urea.
  • Dianjurkan untuk menggunakan varietas yang lebih toleran tehadap asem-aseman seperti Kalimas, Sintanur, atau Membramo.

Pencegahan Tanaman Padi Terserang Asem-aseman

Asem-aseman adalah kondisi tanah yang memerlukan perlakuan special.  Kondisi tersebut akan sangat mudah bagi patogen (jamur dan bakteri dalam tanah) untuk berkembang biak. 

Pemberian kapur dolomit pada tanah pada saat pengolahan tanah. Dengen pemberian kapur diharapkan tanah akan didongkrak pH-nya sehingga akan sesuai dengan kondisi yang diharapkan tanaman padi untuk pertumbuhannya.

Penambahan dengan pupuk yang mengandung unsur mikro Zn sangat dianjurkan pada setiap pemupukan

Tambahkan pupuk yang mengandung unsur mikro Zn seperti ZnSO4 sebanyak 15-20 kg per hektar lahan. Jika sudah terlanjur muncul gejala asem-aseman, undur jadwal pemupukan dengan unsur N bisa 20 HST atau lebih.

Atau tambahkan fungisida Ziflo 76WG pada pemupukan. Karena penambahan Ziflo 76WG memberikan aksi yang berlipat, selain penambah unsur Zn juga mengendalikan patogen pada tanah.

Cara Praktis Pencegahan Tanaman Padi Terserang Asem-aseman

Karena tanaman padi yang terkena asem-aseman memiliki masalah dengan akar, maka cara praktis dalam pencegahan sekaligus pengendalian asem-aseman adalah sebagai berikut:

  1. Pada saat pemupukan pertama campurkan fungisida Ziflo 76WG sebanyak 1 kilogram per 1 kwintal pupuk yang digunakan.  Sebagai contoh jika pemupukan pertama akan menggunakan 3 kwintal pupuk, maka masukan minimal 3 bungkus fungisida Ziflo 76WG (1 bungkus kemasan = 800 gr).  Aduk merata Bersama pupuk dan taburkan ke lahan.
  2. Pada saat penyemprotan, lakukan penyemprotan dengan menggunakan fungisida Ziflo 76WG dengan dosis 3 gram per liter atau 60 gram per tangki 16 liter.

Kenapa Fungisida Ziflo 76WG Campur Pupuk Untuk Pengendalian Padi Terserang Asem-aseman?

Fungisida Ziflo 76WG adalah fungisida yang berbahan aktif Ziram 76%, rumus kimianyanya adalah C6H12N2S4Zn.  

Terdapat kandungan Zn atau zinc dalam formulasinya. Maka sesuai dengan anjuran di atas untuk memasukan pupuk mikro dengan kandungan Zn pada pemupukan untuk mengendalikan tanah asem-aseman dapat menggunakan fungisida Ziflo 76WG yang aplikasinya dengan cara dicampur dengan pupuk.

Fungsi Zinc pada tanaman adalah sebagai berikut:

  • Mengaktifkan enzim-enzim yang berkaitan dengan metabolisme karbohidrat.
  • Pemanjangan sel dan ruas batang.
  • Dalam jumlam yang sangat sedikit dapat berperan dalam mendorong perkembangan pertumbuhan.
  • Persenyawaan Zn berfungsi dalam pembentukan hormon tumbuh (auxin) dan penting bagi keseimbangan fisiologis.
  • Berperan dalam pembentukan IAA dalam tanaman.
  • Merangsang pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman.

Baca juga: Peranan Unsur Mikro Zinc atau Seng Pada Tanaman

Penggunaan fungisida Ziflo 76WG bersamaan dengan penamburan pupuk akan memberikan manfaat tambahan dari peran fungisidanya pada tanah. Karena di dalam tanah terkandung banyak patogen yang hidup bersamaan dengan kondisi tanah yang tidak steril.

Dikutip dari extoxnet.orst.edu fungisida Ziflo 76 WG dapat berperan sebagai soil treatment atau perlakuan tanah untuk mengendalikan patogen dalam tanah.

Manfaat Pemberian Campuran Fungisida Ziflo 76WG Pada Pemupukan

Berdasarkan hasil pengujian lapangan, hasil yang diperoleh dari pemberian campuran fungisida Ziflo 76WG dengan pupuk adalah sebagai berikut:

  1. Menekan terjadi kerdil rumput pada padi lebih awal.
  2. Terhindar dari penyakit yang berada dalam tanah seperti Phytium sp, Fusarium, Rhizoctonia dan Sclerotinia spp.
  3. Akar tanaman akan lebih banyak dan lebih panjang
  4. Tanaman lebih tinggi. Daun lebih panjang, menjadi lebih hijau, lebih lebar serta kemampuan fotosintesis semakin meningkat
  5. Pertumbuhan tanaman lebih seragam
  6. Anakan produktif lebih banyak

Dengan parameter diatas, diharapkan hasil panen akan lebih meningkat, dan keuntungan semakin meningkat dengan catatan pengendalian hama dan penyakit juga terkendali.

Oleh karena itu untuk mengendalikan tanaman padi yang terserang asem-aseman pencampuran fungisida Ziflo 76WG dengan pupuk dapat menjadi solusi terbaik bagi para petani.  Selain praktis, karena aplikasinya bersamaan dengan penaburan pupuk, juga ekonomis.

Selamat mencoba.

Sumber:

  • http://cybex.pertanian.go.id: Cara Mengatasi Asem-aseman Pada Tanaman Padi
  • http://extoxnet.orst.edu: Ziram
  • Biotis: Laporan Trial ZIFLO 76WG Tabur Mix Pupuk Pemupukkan Pertama
<